
Begitu sudah selesai makan, dua pasangan itu memutuskan untuk pulang. Namun, ketika mereka hendak sampai di tempat parkir, Pandu dan Ervita kembali berpapasan dengan Lina. Melihat Pandu dan Ervita yang saling bergandengan tangan, Lina seolah menghentikan keduanya.
"Wah, jodoh gak kemana yah ... ketemu lagi sama Pandu," ucap Lina dengan penuh percaya diri.
Melihat Lina di sana, Ervita rasanya sudah begitu malas. Bisa Ervita tebak bahwa Lina pasti akan menyudutkannya lagi. Akan berbicara tidak baik.
"Ketemu lagi juga sama Ibu dari anak haram yang sok-sokan," ucap Lina dengan menatap tajam kepada Ervita.
Rasanya begitu kesal Ervita. Tadi Ervita bisa bersabar, agaknya sekarang tidak bisa lagi. Ervita mendekat dia menatap tajam ke arah Lina. Tak perlu banyak berbicara, Ervita mengangkat tangannya, dan mendaratkan sebuah tamparan di wajah Lina.
Plak!
Sampai Lina menoleh ke kiri dengan memegangi wajahnya yang terasa panas usai merasakan tamparan keras dari Ervita. Pandu juga kaget, tidak mengira wanita yang begitu sabar seperti Ervita bisa benar-benar kehilangan kesabarannya. Ervita sekarang benar-benar murka.
"Kamu menganggapku murahan, menganggapku katrok, menganggapku tidak pantas dengan Mas Pandu, semua bisa aku terima. Namun, ketika kamu sudah membawa-bawa anakku, hati ibu yang seluas samudra bisa menjadi gelombang tsunami hebat yang menghancurkanmu. Apa salahku, apa salah anakku kepadamu? Sampai mulutmu begitu tak berpendidikan!"
__ADS_1
Laksana palung di dasar samudra, tampak tenang hingga bisa terjadi gempa tektonik di palung laut dan membuat gelombang tsunami. Ervita benar-benar murka sekarang. Jika yang direndahkan hanya dirinya, Ervita bisa menerima sepenuhnya. Namun, jika sudah menyangkut Indi, Ervita tak lagi bisa diam.
"Jangan mencoba menguras habis kesabaranku!"
Lagi Ervita berbicara dan menatap tajam kepada Lina. Baginya, Lina sudah melakukan banyak ujaran yang menyudutkan dia dan Indi. Tidak akan diam lagi dengan apa yang dilakukan oleh Lina.
"Lihat tuh, istrimu, Ndu. Mana ada kalem dan baik," tuding Lina lagi.
Pandu kemudian tersenyum kepada Lina. "Lin, kamu pernah mengganggu anak ayam enggak? kalau kamu mencoba mengganggu anak ayam, pastilah induk ayam akan mengepakkan sayapnya, marah, dan mencucukkan mulutnya ke si pengganggu itu, menerjang si pengganggu itu. (Dalam bahasa Jawa adalah istilah Nladung) Salahmu sendiri yang mengganggu anak ayam, hingga membuat induk ayam menjadi geram," balas Pandu.
"Jangan sebut anakku sebagai anak haram, sekali lagi kamu berkata demikian, aku bisa melakukan perbuatan yang akan kau sesali seumur hidupmu," ucap Ervita lagi.
Usai mengatakan itu, Ervita memilih untuk masuk ke dalam mobil suaminya. Dia sangat kesal, geram, dan marah. Sekali lagi jika yang dibully adalah dirinya saja, Ervita tak terlalu marah. Bisa bersabar. Jika sudah menyangkut Indi, habis sudah kesabarannya.
Pandu juga menyadari bagaimana Ervita. Kadang orang yang sudah begitu sabar, jika diusik juga bisa marah. Sehingga marahnya Ervita itu wajar saja untuk Pandu.
__ADS_1
"Sudah, jangan nangis. Aku memahami perasaan kamu kok," balas Pandu.
Ervita menundukkan wajahnya, air matanya masih berlinangan. Namun, apa yang baru saja diucapkan Lina, bisa saja terjadi kepada Indi di kemudian hari. Rasanya, Ervita tidak bisa membayangkan jika Indi sendiri yang mendengarnya. Dadanya terasa perih, terpukul dengan sangat keras.
"Di masa depan, mungkin saja Indi akan mendengarkan ucapan jahat seperti ini," ucap Ervita.
"Memang, Dinda ... aku yakin Indi adalah anak yang kuat nanti," balas Pandu.
Hingga akhirnya Ervita berharap memang suatu hari nanti, Indi juga bisa menjadi anak yang kuat. Memiliki keteguhan hati seperti batu karang. Walau deburan ombak menerpa, tapi batu karang itu akan berdiri dengan kokoh.
"Semoga ya Mas ... aku tahu putriku itu tanpa nasab, tapi bagaimana lagi jika takdirnya demikian adanya," balas Ervita.
Pandu menganggukkan kepalanya. "Iya, Dinda ... pasti itu. Sudah, jangan nangis. Nanti malam cerita banyak sama aku, aku peluk," balas Pandu.
Pada akhirnya Ervita memilih untuk menenangkan dirinya. Untuk menata hati dan pikirannya. Sembari terus berharap bahwa masa depan Indi kelak baik adanya.
__ADS_1