Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Healingnya Bumil


__ADS_3

Pandu merasa lucu dengan sikap Indi, yang tadi dipikirnya tidur. Ternyata Indi hanya duduk layaknya koala dengan memeluk sang Ayah yang tengah memangkunya. Ketika sang Ayah mengatakan kata cinta untuk Bundanya, rupanya Indi menyahut di sana. Akan tetapi, momen itu justru terasa begitu lucu karena memang Pandu juga sayang kepada Indi.


"Tadi Ayah kira kamu bobok loh, Nak," ucap Pandu.


"Enggak kok ... Didi enggak mengantuk kok, Yah," balasnya.


Pandu tersenyum kian lucu saja dengan sikapnya Indi. Kemudian, Pandu menawarkan kepada Indi untuk bermain. Setidaknya juga supaya Ervita bisa menikmati liburan walau memang tidak akan begitu lama di Pantai Parangtritis ini.


"Indi mau enggak ikut Ayah naik delman itu?" tanya Pandu. Kini, Pandu menunjukkan delman yang memang dikemudikan kusir dan tampak berjalan di bibir pantai. Pikir Pandu, jika Indi mau, setidaknya Ervita bisa memiliki pengalaman baru dengannya.


"Menakutkan enggak Yah?" tanya Indi lagi.


Pandu dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Enggak, kan ada Ayah. Nanti dipangku juga kan sama Ayah. Indi gak perlu takut," balas Pandu.


Ya, setidaknya Pandu mengatakan bahwa apa pun yang ada Indi tidak perlu takut. Bagaimana pun, dia akan menjaga dan melindungi Indi. Toh, sensasi menaiki delman di tepi pantai juga rasanya begitu menyenangkan.


"Boleh, tapi sama Yayah dan Nda yah," balas Indi.


"Tentu dong," balas Pandu.


Akhirnya, Pandu mengajak Ervita untuk menaiki delman. Pandu sekarang menggendong Indi, dan satu tangannya menggandeng tangan istrinya. Sesekali Ervita tersenyum, di dalam hatinya Ervita merasa bahwa keputusannya menjatuhkan hati kepada Pandu adalah hal yang tepat. Dia kira usai dulu menjadi korban seorang pria, Ervita menyangka tidak ada lagi pria yang baik dan tulus. Namun, sekarang Pandu Hadinata, pria muda yang sekarang menggandeng tangannya dan menggendong Indira adalah seorang yang benar-benar baik.


"Naik delman ya Nda ... Bumilku juga butuh healing," ucap Pandu.


"Kalau aku takut gimana?" tanya Ervita kepada suaminya itu.


"Yah, Bunda dan anaknya sama. Udah, kan ada Yayah ... nanti pegangan Yayah yah," balas Pandu dengan tertawa.


Ervita terkekeh geli dan mereka menunggu delman yang akan mereka naikan. Kian merasakan air di Segara Selatan yang menyapa kakinya yang kala itu berjalan tanpa mengenakan alas kaki. Butiran pasir yang basah terkena sapuan ombak, dan membenamkan dua pasang telapak kaki pasangan itu.

__ADS_1


"Enak kan Nda? Pantai pun bisa menjadi berkesan jika kamu mendatanginya dengan orang yang tepat," balas Pandu.


Ervita pun kian berdiri lebih rapat dengan suaminya, dan wanita itu menyandarkan kepalanya sejenak di bahu suaminya yang kokoh. "Mulai sekarang haruskah menyukai pantai? Itu semua karena kamu adalah orang yang tepat yang berdiri di sampingku sekarang ini?"


"Boleh juga, Nda ... bukan kenangan pahit, tapi kenangan manis. Pantai Laut Selatan ini menyatu dengan Samudra Hindi, Nda. Sama seperti cinta kita yang menyatu, menuju samudra lepas dan kamu tahu kemana semua volume air ini menuju?" tanya Pandu.


Ervita tersenyum di sana, dan sedikit berjinjit lantas dia berbisik kepada suaminya. "Menuju ke Swargaloka. Tempat favotit kamu," balasnya.


Pandu terkekeh geli. Bahkan pria itu sampai sedikit menengadahkan wajahnya dan tertawa di sana. Istrinya itu kadang bisa membuatnya tertawa. Namun, mungkin begitulah sekiranya yang tepat bahwa cinta dua sejoli itu akan bermuara di samudra cinta.


"Makin pinter kamu, Nda," ucap Pandu.


Hingga akhirnya ada satu delman yang berhenti di depan mereka. Pandu kemudian mengajak Ervita dan Indi untuk menaiki delman itu. Kini Pandu pun memangku Indi, dan menggenggam tangan istrinya.


"Yeay, naik delman ... jangan takut, ada Yayah dan Nda juga loh." Kini Pandu berbicara kepada Indi dan berharap Indi tidak takut lagi.


Hingga sang kusir berlahan-lahan memecut badan kuda, dan dua kuda itu berjalan di bibir pantai. Tampak kaki-kaki kuda itu menapak di pasir dan juga tidak takut ketika ombak datang dan menyapu daratan. Indi yang semula takut dan membenamkan wajahnya di dada sang Ayah, kini berani untuk menatap ke depan.


"Benar banget Sayang ... tapi sekarang Didi tidak ikut Yayah ke kota, tapi ke Pantai," jawab pandu.


"Suka Ayah ... suka," balas Indi kemudian.


Rasa takut di wajah Indi kini telah tergantikan dengan senyuman. Bahkan keluarga kecil itu tampak menyanyikan lagu Naik Delman bersama-sama. Sampai Si Kusir Kuda pun bertanya kepada Pandu. "Tadi takut ya Mas?" tanya si Kusir kuda.


"Iya Pak ... baru kali ini diajak ke pantai," balas Pandu.


Sudah satu kali putaran, rupanya Indi masih meminta lanjut. Sehingga Pandu mengiyakan saja permintaan Indi. Toh, Ervita juga terlihat menikmati memutari pesisir pantai dengan menaiki kuda.


"Terasa healing enggak?" tanya Pandu kepada istrinya.

__ADS_1


"Iya, best healing with my Hubby," balas Ervita.


Pandu tersenyum hingga menggelengkan kepalanya. Hatinya terasa begitu senang jika Ervita terasa healing dari rutinitasnya setiap hari sebagai penjual batik online dan ibu rumah tangga di rumah. Ada kalanya para istri atau ibu juga membutuhkan waktu untuk break sejenak dari rutinitasnya.


"Didi juga suka, Yayah," teriak Indi.


"Ayah suka banget melihat Bunda dan Didi bahagia," balasnya.


Ervita kemudian berbicara kepada suaminya. "Nanti beliin Es Kelapa Muda ya Mas?"


"Iya, pasti dibeliin. Buat kamu, pohon kelapanya juga aku beliin," balas Pandu.


Setelah dua kali putaran. Sekarang, keduanya turun dari delman dan Pandu segera membayar kepada sang Kusir.


"Mas, kembaliannya," ucap sang Kusir.


"Sudah dibawa saja Pak ... buat Bapak, sehat-sehat nggih Pak," balas Pandu.


"Matur nuwun Mas. Semoga Mas dan keluarga sehat selalu," jawab sang Kusir.


Tidak langsung kembali ke tempat mereka duduk. Kini, Pandu menggandeng Indi dan Ervita dengan posisi kedua tangan Indi menggandeng Ayah dan Bundanya. Keduanya kini berjalan-jalan di pesisir pantai. Indi sudah tidak takut, dan Pandu juga senang karena memberi waktu untuk Indi ada baiknya. Sekarang Indi berani sendiri dan tidak takut dengan pantai.


"Makasih Mas Pandu, diajakin healing," ucap Ervita kepada suaminya.


"Sama-sama Nda," balas Pandu.


Indi pun tersenyum. "Yayah, Didi bisa lagu baru loh," ucapnya.


"Oh yah ... lagu apa? Nyanyi buat Ayah dan Nda, juga adik baby yuk," balas Pandu.

__ADS_1


"I love you, you love me ... we are happy family."


Pandu dan Ervita tersenyum. Ya, semoga untuk selamanya mereka bisa menjadi keluarga yang bahagia. Walau sudah pasti banyak cerita dan kisah yang akan menyertainya, tetapi kiranya kebahagiaan itu akan senantiasa menyertainya.


__ADS_2