
Selang dua hari kemudian, Ervita menemani Indira yang bermain dengan Lintang di Pendopo, kali ini keduanya masih saja memainkan mainan yang sama yaitu Little Pony. Boneka kuda pony yang lucu itu agaknya benar-benar menjadi favorit Indira dan juga Lintang. Sehingga nyaris tiap kali bertemu, mereka selalu bermain bermain boneka pony itu.
Akan tetapi, kali ini ada yang berbeda karena Lintang memiliki boneka baru yang tentunya dibelikan oleh Papanya, Mas Damar. Itu juga karena kemarin Damar mengajak Pertiwi dan Lintang ke sebuah Mall di Jogjakarta dan membeli boneka Little Pony yang baru.
"Nda, oneka ...."
Indira tampak menunjuk boneka yang baru yang masih dimainkan Lintang karena Indira hanya memiliki boneka Little Pony yang berukuran kecil.
Memang seperti itulah anak-anak, mereka lebih tertarik dengan milik temannya yang baru dan juga lebih bagus. Sehingga, Indira kayak ingin meminjam boneka itu.
"Didi, njam ... (Indi mau pinjam)," ucapnya dengan mendekati Lintang.
"Indi pinjam yang ini saja yah ... yang ini punya Lintang, kemarin dibelikan Papa. Ini masih baru loh," balas Lintang.
Pun demikian Lintang yang menunjukkan kepemilikannya bahwa boneka itu dibelikan oleh Papanya dan juga bonekanya masih baru. Indira pun menjadi menangis karenanya.
"Njam ... njam," balasnya dengan menunjuk boneka itu.
"Indi main ini saja yah ... tidak apa-apa, itu punyanya Mbak Lintang," ucap Ervita yang menenangkan Indira.
"Lintang, dipinjemin tidak apa-apa Adiknya ... yuk, berbagi yuk," ucap Pertiwi yang menyuruh Lintang untuk berbagi dan mau meminjamkan boneka.
Akan tetapi, keduanya bersikeras dengan keinginannya masing-masing. Lintang yang merasa bonekanya baru dan dibelikan Papanya, sementara Indi ingin meminjam sebentar. Dari jauh ada yang melihat Indira menangis dan juga Ervita yang masih berusaha untuk menenangkan putrinya itu. Memberikan pengertian kepada anak yang masih kecil itu tidak mudah, harus penuh kesabaran untuk memberikan pengertian kepada anak kecil yang sedang menangis.
"Maaf ya Vi ... Lintang begitu, kalau baru dibelikan Papanya biasanya tidak akan dipinjamkan," ucap Pertiwi yang merasa tidak enak karena Lintang tidak mau berbagi.
"Tidak apa-apa Mbak ... biasa anak kecil seperti ini. Maaf ya Mbak," balas Ervita.
Bermain siang itu akhirnya selesai dengan Ervita yang mengalihkan Indi untuk meminum susu dan bobok siang. Sehingga keduanya memilih pulang, di sana Ervita benar-benar membuatkan susu dan menidurkan Indira yang juga sudah waktunya tidur siang.
***
__ADS_1
Menjelang Sore ....
Ervita yang masih di dalam rumah usai memandikan Indira dan sekaligus mandi bersama anaknya itu, kini akan menyuapi Indira sekaligus. Ketika, Ervita hendak ke dapur dan mengambil makanan terdengar suara ketukan dari pintu dan memanggil namanya.
"Ervi ... Ervi ...."
Dari dapur Ervita sudah bisa menduga bahwa suara itu adalah pemuda yang dia kenal, yaitu Pandu. Dari dalam rumah Ervita pun menyahut, "Ya, sebentar," sahutnya.
Barulah kemudian Ervita membukakan pintu untuk Pandu yang masih berdiri di depan rumahnya. "Mas Pandu ... silakan masuk," ucapnya.
Pandu pun menganggukkan kepalanya dan duduk di ruang tamu dengan sofa kecil di rumah yang ditempati Ervita itu. Lantas Ervita pun ke dapur dan membuatkan dulu Teh untuk Pandu.
"Minum Mas," ucap Ervita menyajikan segelas Teh dalam gelas berwarna cokelat.
"Repot-repot loh, Vi," balasnya.
"Hanya minuman segelas, Mas ... tidak repot kok," balas Ervita.
"Di kamar, lihat kartun Upin dia, Mas ... sebentar aku ajak ke sini," balas Ervita.
Akhirnya Ervita berjalan ke kamar yang ada di dekat ruang tamu itu dan menggendong Indira. Rupanya begitu melihat Pandu di sana, Indira pun segera memeluk pemuda yang sejatinya bukan Ayahnya itu, tetapi selalu dianggap Ayah oleh Indira.
"Yayah," ucap Indi dengan suara yang mengalun manja.
"Indi baru ngapain tadi?" tanya Pandu yang kini sudah memangku Indi.
"Onton Upin (Menonton Upin)," balasnya.
"Indi suka yang botak-botak kepalanya itu yah?" tanya Pandu lagi.
"Hu-um," balas Indira.
__ADS_1
Kemudian Pandu, menggendong Indira keluar sebentar dan kemudian kembali masuk ke rumah dengan membawa kantong plastik berukuran besar dan rupanya ada dua boneka Little Pony di sana.
"Ini buat Indi," ucap Pandu dengan mengeluarkan boneka Twilight dan Pinky Pie yang ukurannya besar, bahkan lebih besar dari Indi.
"Woow, oneka," teriak Indi begitu girang.
"Iya, boneka ... Ayah belikan untuk Indi. Suka enggak?" tanya Pandu.
"Ya ya ya ... cuuka," balas Indi dengan begitu lucunya.
"Kalau suka, bilang apa?" balas Pandu.
Indira pun mendekat dan seolah menatap wajah Pandu di sana, "Accihhh, Yayah (terima kasih, Ayah)," ucapnya. Lantas Indira pun mengecup pipi Pandu di sana.
Chup!
"Didi ayang Yayah ... (Indi sayang Ayah)," ucapnya dengan kembali memeluk Pandu di sana.
Ervita yang memperhatikan interaksi Indira dan Pandu pun menjadi terharu. Keduanya jika sedang bersama begitu terlihat seperti anak dan Ayah. Kadang Ervita pun heran, keduanya tidak ada hubungan darah sama sekali, tetapi Indira dan Pandu seolah memiliki ikatan.
"Ayah juga sayang Indi. Main yah sama bonekanya, jangan nangis lagi yah ... nanti kapan-kapan Ayah belikan dress yang lucu ya untuk Indira yah, diajak Ayah ke Mall mau?" tawar Pandu kepada si kecil Indira.
"Ya ya ... au," balasnya dengan mengusapi boneka yang begitu lembut itu.
"Terima kasih banyak Mas Pandu ... kami jadi merepotkan Mas Pandu," ucap Ervita.
"Tidak merepotkan sama sekali kok, Vi ... ya nanti akhir pekan kita ajak Indira jalan-jalan yah, sekalian kamu biar jalan-jalan," ajak Pandu kali ini.
"Ya Mas ... terima kasih banyak," balas Ervita.
Pandu dan Indira pun masih bermain bersama di sana. Bahkan Indira juga masih nyaman dalam pangkuan Pandu. Rasanya begitu haru, ada seorang pemuda yang terlihat memperhatikan dan menaruh kasih sayang yang tulus untuk anak yang tidak memiliki Ayah seperti Indira.
__ADS_1