
Siang harinya, Ervita sudah diperbolehkan untuk pulang. Hanya saja, memang sepekan kemudian Ervita diminta untuk kembali periksa dan juga untuk kontrol jahitan. Ervita pun menitipkan Bayi Indira ke Bu Tari terlebih dahulu, sementara dia hendak melunasi biaya persalinannya.
"Bu, saya nitip Indi dulu yah. Mau ke adminitrasi untuk melunasi biaya persalinan," ucapnya.
"Iya, tenang saja. Bisa sendiri? Atau bisa ditemenin Pandu?" tanya Bu Tari.
"Bisa sendiri kok Bu ... saya juga sudah bisa berjalan," balas Ervita.
Ya, kelahiran normal memang melewati proses demi prosesnya itu terasa begitu sakit. Akan tetapi, pemulihannya lebih cepat dibandingkan mereka yang melakukan operasi caesar. Para ibu yang melahirkan normal, bahkan satu atau dua jam setelahnya saja sudah bisa berjalan dan ke kamar mandi sendiri.
"Vita sendiri saja Bu," ucapnya.
Dengan berjalan pelan-pelan, Ervita pun keluar dari kamarnya dan kemudian mencari di bagian administrasi untuk membayar biaya persalinannya. Setidaknya Ervita memiliki beberapa juta Rupiah di rekeningnya hasil bekerja yang memang dia simpan untuk biaya melahirkan nanti.
"Permisi, saya mau melunasi biaya persalinan," ucap Ervita.
"Atas nama pasiennya siapa?"
"Ervita Amelia," balasnya.
Kemudian bagian administrasi melihat untuk rincian biaya persalinan atas nama Ervita Amelia, ketika Ervita bertanya dan bagian administrasi pun memberikan balasan.
__ADS_1
"Seluruh biaya persalinan sudah dibayar lunas, Bu Ervita."
Deg!
Ervita benar-benar begitu terkejut, siapa orang yang begitu baik hatinya sampai melunasi seluruh biaya persalinannya. Kendati demikian, Ervita pun juga bertanya siapa yang sudah membayar biaya persalinannya.
"Maaf, saya belum membayarnya sama sekali loh ... lalu, jika boleh tahu siapa yang melunasinya yah?" tanya Ervita dengan wajah yang terlihat bingung.
"Sayangnya, beliau tidak mau disebutkan identitasnya Bu Ervita," balasnya.
Ervita berdiri dan benar-benar tampak bingung. Hanya saja, Ervita menerka bahwa mungkin Bu Tari lah yang sudah melunasinya. Mengingat bahwa selama ini Bu Tari memang begitu baik kepadanya. Sehingga Ervita langsung menduga bahwa Bu Tari adalah orangnya.
"Sebentar Bu Ervita, ini ada obat yang harus dikonsumsi Bu Ervita yah ... kan Bu Ervita sudah diperbolehkan pulang, tapi masih ada obat yang harus diminum ini adalah antibiotik untuk luka jahitan, dan pelancar ASI. Lalu, sesuai pesan dari Dokter Wulan, sepekan lagi bisa periksa jahitan yah," balas perawat tersebut.
Setelahnya, Ervita kembali ke dalam kamar perawatannya. Ervita tak segan untuk bertanya langsung kepada Bu Tari.
"Permisi Bu ... apa Ibu yang melunasi biaya persalinan Ervita yah?" tanyanya dengan menunjukkan kuitansi pelunasan untuk seluruh biaya persalinannya yang mencapai Rp. 7.000.000,- itu. Bagi Ervita, uang sebesar tujuh juta Rupiah adalah jumlah yang sangat besar. Ditolong dengan nominal yang begitu besar membuat Ervita sungkan dan ingin mengembalikannya jika itu adalah memang Bu Tari.
Akan tetapi, Bu Tari justru menggelengkan kepalanya, "Enggak itu Vita ... justru Ibu ke sini itu bawa uang cash dan mau Ibu berikan kepadamu, untuk tambah-tambah beli diapers dan susu nanti," balasnya.
Bu Tari pun mengeluarkan amplop berwarna cokelat yang di dalamnya ada uang sebesar satu kali gaji untuk Ervita. Pikirnya bisa dipakai Ervita usai persalinan.
__ADS_1
"Lalu, siapa ya Bu?" tanya Ervita masih menunjukkan wajah bingung.
"Tidak usah bingung, Vita ... itu cara Tuhan Allah menolong kamu. Jadi, sekarang pulang?" tanya Bu Tari.
"Iya Bu," balas Ervita.
Tampak Ervita yang menggendong Indira, sementara Pandu menolong dengan membawakan koper milik Ervita, dan Bu Tari berjalan di samping Ervita. Kali ini, Ervita pulang dari Rumah Sakit juga dibantu oleh Pandu dan Bu Tari. Pandu sendiri yang membawa mobil dan mengantarkan Ervita sampai ke kostnya.
"Aduh, naik tangga yah ... kamar kamu di lantai dua yah? Jahitan kamu gimana?" tanya Bu Tari yang tampak mengkhawatirkan jahitan Ervita.
"Tidak apa-apa Bu, pelan-pelan saja," balas Ervita.
Kali ini Pandu pun turut naik ke lantai dua dan membawakan koper Ervita. Sementara Bu Tari menyerahkan amplop cokelat itu kepada Ervita, "Ini buat tambah-tambah beli popok dan bedak yah," ucap Bu Tari.
"Bu, tidak usah Bu ... sudah dibantu Ibu dan keluarga sebanyak ini saja adalah hal yang tidak terkira untuk Ervita," balasnya.
Kemudian Bu Tari dan Pandu berpamitan untuk pulang. Di dalam kamarnya, Ervita menangis dengan menggendong Indira. Sungguh tidak terkira, di saat dirinya saja berkesusahan, justru ada orang baik yang menolongnya dan tidak mengungkapkan identitasnya. Bagaimana pun uang sebesar tujuh juta rupiah adalah jumlah yang besar. Begitu juga dengan sejumlah uang yang diberikan Bu Tari, membuat Ervita tersedu sedan di sana.
Ketika Ervita menangis, nyatanya Indira turut menangis di sana. Ervita pun menyeka air matanya dan kemudian menggendong bayinya itu.
"Cup cup cup ... Bunda nangis, Indira jadi ikutan nangis yah?" tanya Ervita dengan sesegukan.
__ADS_1
Sungguh, tidak mengira bahwa banyak kebaikan dari orang-orang yang membuat Ervita terharu hingga menangis tersedu-sedu. Siapakah gerangan orang yang sudah membantunya dan melunasi biaya persalinannya? Jujur saja, Ervita merasa tidak tenang karena tidak tahu harus berterima kasih kepada siapa.