Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Menuju Hari yang Fitri


__ADS_3

Tidak terasa hanya tinggal menghitung beberapa hari lagi, bulan Ramadhan akan segera usai. Rasanya baru kemarin mereka menyambut bulan Ramadhan yang penuh rahmat dan pengampunan, tetapi sekarang mereka tinggal menghitung hari puasa yang tinggal beberapa hari lagi dan juga menyambut Idul Fitri.


Setiap Ramadhan memiliki cerita, termasuk kali ini yang menurut Ervita sendiri adalah Ramadhan yang sangat berkesan. Semua itu, juga karena Indi yang belajar berpuasa. Walau tidak dari hari pertama puasa Ramadhan, barulah di hari ketiga, tapi hingga sekarang Indi yang terlihat begitu bersemangat dan juga tak jarang gadis kecil itu menyemangati Ayah dan Bundanya.


"Yayah, hari puasa Ramadhan tinggal beberapa hari lagi loh, Yayah yang semangat yah. Katanya Eyang, nanti di Hari Raya Idul Fitri, kita menikmati Ketupat Lebaran yang lezat," ucap Indi sekarang kepada Yayahnya.


Mendengarkan apa yang Indi katakan, Pandu pun tertawa. Pria itu segera memangku Indi dan mengusapi gemas puncak kepalanya. Indi yang kecil saja sudah bisa memberikan semangat kepadanya.


"Kamu pinter banget sih, Mbak ... tahu darimana kalau nanti Idul Fitri kita makan Ketupat Lebaran?" tanya Pandu.


"Dari Eyang ... Eyang tadi cerita mau membeli ketupatan, nanti dikasih beras dan membuat ketupat. Indi tahu dong, kan Indi dengerin ceritanya Eyang," balasnya.


Pandu tertawa lagi. Indi yang kecil saja ketika ada orang tua yang bercerita bisa fokus dan mendengarkan apa yang diceritakan. Terbukti sekarang Indi menceritakannya kepada Pandu. Namun, memang kebiasaan di keluarga Hadinata adalah menikmati Ketupat lengkap dengan Sambal Goreng dan juga Opor Ayam di hari raya Idul Fitri lagi.


"Kamu pinter loh, Mbak ... Yayah bangga sama kamu. Tinggal beberapa hari ibadah puasa selesai, tahun depan Mbak Didi semangat lagi yah puasanya," balas Pandu.


"Okey Yayah ... siap," balas Indi dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.


Ervita yang mendengarkan pembicaraan Pandu dan Indi juga tertawa. Memang begitulah Yayah dan anak itu. Jika sudah bersama, bisa saling menyayangi dan berbicara pun terasa begitu ngeblend. Kadang gemas juga dengan Indi.

__ADS_1


"Nanti lebaran, Mbak Didi mau dibelikan apa sama Nda dan Yayah?" tanya Ervita sekarang.


"Dibelikan kue Nastar aja, Nda. Di sekolah, Flo kan ibunya jualan kue, Nda. Dia cerita kalau kue lebaran terenak itu Kue Nastar. Didi mau, Nda," jawabnya.


"Baiklah, nanti dibelikan Nda dan Yayah kue itu yah," balas Ervita.


"Iya, besok Yayah belikan untuk Didi," balas Pandu juga.


"Yeay, makasih Yayah dan Nda. Matur nuwun," balas Indi.


Sekarang Pandu dan Ervita tertawa, ketika putrinya itu berbicara dalam bahasa Jawa. Mengucapkan kata terima kasih ke dalam bahasa Jawa yang adalah matur nuwun. Itu berarti putrinya itu memang sedang banyak belajar, termasuk dengan mempelajari bahasa Jawa juga. Bagaimana pun, bahasa Jawa adalah bahasa ibu, sehingga sedikit-dikit juga mengajari Indi untuk menggunakan bahasa Jawa, walau untuk kesehariannya, bahasa percakapan mereka menggunakan bahasa Indonesia.


Usai itu, Indi beranjak dari pangkuan Yayahnya, kemudian dia mengajak Irene untuk bermain bersama. Giliran Ervita, yang duduk di dekat suaminya. Seolah bergantian dengan Indi.


"Gantian Nda nya yang mau menempel?" tanya Pandu.


"Iya, ganti-gantian sama Putrinya Yayah," balas Ervita.


Pandu tertawa. Istrinya dan putri-putrinya sering sekali seperti itu. Pandu juga memaklumi itu semua karena dia satu-satunya pria di rumah. Tak jarang istri dan anak-anaknya yang cewek meminta perhatian dari dirinya.

__ADS_1


"Kenapa, Dindaku?" tanya Pandu sekarang.


"Enggak apa-apa. Mau duduk di samping kamu saja kok," balas Ervita dengan tersenyum menatap suaminya.


"Lebih dari duduk bersampingan juga enggak apa-apa kok," balas Pandu.


Dengan cepat Ervita pun menggelengkan kepalanya. Dia kemudian berbicara kepada suaminya itu. "Malu, Mas. Anak-anak masih bangun. Masih bulan puasa juga. Tahan diri," balasnya.


Mendengar apa yang Ervita sampaikan Pandu kemudian tertawa. Dia kemudian menganggukkan kepalanya. Yang disampaikan Ervita benar adanya. Sekarang saja, tidak jauh dari hadapannya ada Indi dan Irene yang kompak bermain bersama. Cukup duduk berdampingan dan mengawasi anak-anaknya yang sedang bermain bersama.


"Tinggal beberapa hari sudah lebaran yah, Nda ... Ramadhan ini sangat berkesan karena Indi yang turut menjalankan puasa dengan kita. Terkadang dia justru begitu bersemangat," balas Pandu.


"Benar banget ... anaknya Yayah itu selalu semangat kok. Luar biasa semangatnya. Sejak memulai berpuasa, sampai sekarang tidak pernah bolong," balas Ervita.


"Bangga yah, Dinda. Indi juga mengajari Nda dan Yayahnya untuk bersemangat menjalani puasa. Putri kita makin besar, makin pinter. Semoga nanti Irene juga pinter kayak Mbaknya yah," balas Pandu.


Ervita pun menganggukkan kepalanya. "Amin, semoga saja. Cuma kalau di rumah, Mbaknya tetap mendominasi yah, Mas. Lihat tuh," balas Ervita.


Keduanya tertawa mengamati Indi yang mengatur adiknya bermain. Mungkin tipekal anak pertama seperti itu. Hobinya mengatur dan mengajak adiknya untuk mengikuti apa yang dia mau. Namun, mereka tertawa dan mengawasi saja. Berkumpul bersama keluarga di hari Ramadhan juga adalah berkah.

__ADS_1


__ADS_2