
Ketika akhir pekan tiba, sekarang keluarga Hadinata menyempatkan diri untuk berwisata keluarga bersama. Tempat yang akan dituju oleh keluarga Hadinata yang terdiri dari Pak Hadinata, Bu Tari, Pertiwi, Lintang, Pandu, Ervita dan Indi adalah Pantai Laut Selatan atau Pantai Parangtritis. Sekadar untuk melepaskan penat dan juga mengajak berwisata dua ibu hamil yang dalam hitungan bulan akan melahirkan.
Lantaran seluruh keluarga ikut, kali ini Pandu mengemudikan mobil dengan tipe family car milik orang tuanya. Membawa seluruh keluarganya menuju ke daerah Bantul, Jogjakarta. Lantaran memang suasana piknik, seluruh keluarga pun tampak bahagia.
"Sebenarnya sekalian sama Damar yah ... tapi bagaimana lagi kalau memang Damar di Lampung dan baru bisa kembali ke Jogjakarta satu setengah bulan lagi," ucap Bu Tari.
Sebenarnya memang kurang lengkap karena menantunya yaitu Damar, yang sekarang berada di Lampung. Andai saja Damar bisa ikut bergabung dalam piknik hari ini tentu kebahagiaan keluarga Hadinata akan kian lengkap.
"Bagaimana lagi Bu, Mas Damar masih harus bekerja di Lampung. Jadinya ya, cuma bisa menunggu foto-fotonya nanti," balas Pertiwi.
"Tuntutan pekerjaan Mbak ... tidak bisa ditinggal," balas Pandu.
Tampak Pertiwi menganggukkan kepalanya, "Benar, Ndu ... ada kalanya mengabdi kepada negara jauh lebih besar tanggung jawabnya. Membutuhkan dedikasi tinggi dan siap sedia ketika ditempatkan di mana saja," balas Pertiwi.
Itu juga karena Damar, suaminya Pertiwi adalah seorang Pegawai Negeri Sipil di Kantor Pajak. Sehingga memang Damar sendiri harus mengikuti Ikatan Dinas. Tidak bisa seenak sendiri ketika bekerja. Itu memang berbeda dengan Pandu yang adalah konsultan Desain Interior yang kantornya adalah miliknya sendiri, dan Pandu jam bekerjanya pun lebih fleksibel.
"Tidak mengajukan mutasi Mbak?" tanya Ervita kemudian.
Sepengetahuan Ervita, dulu kakak tingkatnya ada yang berhasil menjadi Pegawai Negeri Sipil dan bisa mengajukan mutasi. Oleh karena itu, Ervita pun bertanya apakah Mas Damar tidak mencoba untuk mengajukan mutasi.
"Ya, mengajukan sih, Vi ... cuma yang menyetujui kan pusat yah? Jadi ya belum tahu. Semoga sih segera ada hilalnya," balas Pertiwi.
"Ya, semoga tidak lama lagi ada kabar baik ya, Wi ... Bapak dan Ibu pastinya mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua," balas Bu Tari.
"Amin Bu ... pangestunipun," jawab Pertiwi yang tentunya mengharapkan doa restu dari Bapak dan Ibunya.
Setelah satu jam berkendara. Akhirnya keluarga Hadinata tiba di Pantai Parangtritis. Terlihat mereka menggelar tikar di sekitaran tepian pantai. Tidak begitu dekat dengan bibir pantai, tetapi mereka bisa merasakan deburan ombak, terpaan angin, dan itu birunya langit yang seolah menyatu dengan birunya lautan.
__ADS_1
"Ini namanya apa Yayah?" tanya Indi.
Ini memang menjadi kali pertama bagi Indi mengunjungi Pantai. Sehingga anak kecil itu kagum juga dengan lautan dengan ombaknya yang berdeburan. Bahkan Indi sekarang tampak takut dan maunya terus digendong oleh Ayahnya.
"Namanya pantai ini Indi ... kamu takut?" tanya Lintang yang melihat Indi sejak tadi hanya digendong oleh Ayahnya.
"Takut Mbak Lintang ... anginnya kenceng, itu ombaknya besar. Didi takut," balasnya.
Untuk anak-anak yang belum pernah melihat pantai, reaksinya tentu akan seperti Indi yang merasa takut. Saking takutnya sampai tidak mau turun dari gendongan Ayahnya. Sementara untuk yang sudah beberapa kali ke pantai, reaksinya akan seperti Lintang yang tampak biasa saja.
"Tidak usah dipaksa untuk bermain, Mas ... Indinya memang takut. Biarin aja," balas Ervita.
Pandu pun merespons dengan menganggukkan kepalanya. "Iya, Nda ... anak kan juga butuh masa adaptasi. Terlebih pantai kan tempat yang baru untuk Indi. Biarkan saja. Tidak apa-apa," balasnya.
Ketika para orang lain akan mengatakan mungkin Indi penakut karena melihat pantai saja hampir menangis dan tidak turun dari gendongan Ayahnya. Namun, Ervita dan Pandu menyingkapinya secara berbeda. Ketakutan Indi juga karena seorang anak butuhkan waktu untuk bisa mengenali tempat baru atau bisa si anak merasa tidak nyaman melihat lautan luas dengan ombaknya yang berdeburan. Di masa pengenalan tempat yang baru kepada anak, memang dibutuhkan kesabaran orang tua, hingga nanti si anak dengan perlahan-lahan bisa beradaptasi dan mau bermain.
Sekarang yang harus dicari adalah ketakutan Indi itu karena apa. Sebab, di sana juga banyak anak-anak kecil yang bermain di bibir pantai. Ada yang bermain bola, ada yang membuat mainan dari pasir, atau sekadar berjalan-jalan dengan orang tuanya.
"Kenapa Indi takut?" tanya Pandu.
"Iya, airnya banyak banget," balasnya.
Hingga akhirnya, ketika keluarga yang lain memutuskan untuk berjalan-jalan dan ada yang menaiki delman di Pantai Parangtritis, Ervita dan Pandu memilih menunggu. Keduanya duduk bersama beralaskan tikar, dan Pandu masih setia untuk memangku Indi yang sekarang posisinya seperti koala.
"Setakut ini ya Nda?" tanyanya.
"Iya Mas ... baru kali ini kan Indi ke pantai. Takut dengan airnya dan ombaknya," jawab Ervita.
__ADS_1
"Ya, sudah ... kita liburan di sini saja. Biar Bapak, Ibu, Mbak Pertiwi, dan Lintang menikmati liburan. Kita duduk bersama. Asalkan sama kamu kan syahdu, Nda," ucap Pandu.
Lantas, Ervita pun tersenyum. Ada kalanya Ervita mengusapi kepala Indi di sana, dan ada kalanya wanita yang sekarang tengah hamil itu menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Pun Pandu yang juga senang menikmati alam dan sesekali mengusapkan dagunya di puncak kepala istrinya. Mereka berdua bisa menciptakan keharmonisan dan kesan yang manis untuk liburan. Sembari melihat gulungan ombak dan deburannya. Merasakan angin yang bertiup di sekitar pantai. Riuh suara wisatawan yang bermain di bibir pantai, semuanya terasa indah untuk keduanya.
"Pernah ke pantai sebelumnya kamu, Dinda?" tanya Pandu kepada istrinya itu.
"Pernah Mas ... waktu kecil dulu mungkin. Setelah itu tidak pernah, karena memang jauh banget kan dari Solo. Jadi, mana sempat," balasnya.
"Suka gunung atau pantai?" tanya Pandu kemudian.
Itu adalah pertanyaan wajar karena memang biasanya orang ada yang lebih menyukai gunung dibandingkan pantai, begitu juga sebaliknya. Namun Ervita tampak menggelengkan kepalanya, seolah dari dua tempat hiburan hits dengan pesona alamnya itu tidak ada yang disukai Ervita.
"Gunung memberiku kenangan pahit, Mas. Sejak itu, aku tidak suka lagi dengan gunung. Sementara Pantai sih bagiku biasa aja. Jadi, tidak ada yang lebih kusukai. Aku lebih suka berada bersama kamu, di mana pun. Bahkan hanya sekadar di rumah saja, aku suka," balas Ervita.
Pandu tersenyum di sana. Namun, di dalam hatinya Pandu memahami dengan kisah masa lalu yang terjadi. Oleh karena itu, pilihan Ervita pun dihargai oleh Pandu. Pria itu segera menggenggam tangan Ervita dan mengusap punggung tangannya perlahan.
"Makasih, Nda ... begitu juga untukku, di mana pun asalkan sama kamu, aku suka. Namun, di Segara Selatan ini adalah kali pertama aku bersama wanita cantik sepertimu. Aku cinta kamu, Dinda," ucap Pandu.
Ervita tersenyum. Malu sebenarnya ketika mendengarkan ungkapan cinta dari suaminya seperti. Ketika Ervita hendak menjawab. Rupanya Indi yang sedari tadi seperti tertidur dengan posisi koala, kini bergerak dan menatap Ayahnya.
"Didi love U, Yayah," sahut Indi.
Dengan demikian Ervita dan Pandu pun tertawa di sana, dan keduanya menyahut ucapan Indi.
"I love U, Didi!"
Lucu dan geli rasanya. Pandu pikir bahwa ungkapan cintanya akan dibalas oleh Ervita. Akan tetapi, justru Indi lah yang menyahutnya. Namun, Pandu tidak masalah. Baginya kasih sayangnya untuk Indi juga begitu besar.
__ADS_1