Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Kamar Mantan Jejaka


__ADS_3

Menjelang sore hari, usai mandi sore, Pandu mengajak Ervita dan Indira untuk mengunjungi rumah kedua orang tuanya yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumahnya. Lantaran, jarak yang dekat Pandu memilih hanya  menaiki sepeda motor dan memboncengkan Ervita dan juga Indira.


“Pegangan Nda,” ucapnya yang meminta Ervita untuk melingkarkan tangannya di pinggangnya, sama seperti pagi tadi di kota Solo.


“Gini saja Mas … pegangan kaos kamu, soalnya ada Indi juga,” balasnya.


Kala itu, memang Marsha yang berpegangan pada kaos yang digunakan Pandu. Memegangi sisi tepiannya. Sementara Indira memang duduk di belakang Pandu, dan Ervita membuat tangan mungil Indira untuk memegangi pinggang Ayahnya.


“Pegangan Ayah ya Sayang,” ucap Ervita kepada Indira.


“Iya, Nda,” balasnya dengan memegangi Ayahnya.


Hingga akhirnya, Pandu menjalankan sepeda motornya perlahan-lahan, membawa istri dan anaknya untuk menuju ke rumah orang tuanya. Lantaran membawa anak kecil, Pandu menjalankan motornya dengan pelan-pelan. Hanya beberapa menit saja, dan sekarang mereka sudah tiba di rumah Hadinata.


"Permisi Bapak dan Ibu," sapa Ervita begitu memasuki pendopo dan kemudian masuk ke ruangan utama milik mertuanya itu.


"Sini ... sini, masuk sini. Dari Solo yah?" tanya Bu Tari yang menyambut dengan ramah kedatangan Pandu, Ervita dan juga Indi.


"Iya Bu ... mengikuti arisan keluarga yang diadakan di rumah. Jadi, ikut hadir," balas Ervita kemudian.


Ervita dan Pandu pun duduk di ruang tamu dan Pak Hadinata tampak menggendong Indira, mengajak Indira melihat burung parkit yang dimiliki oleh Pak Hadinata. Sementara Ervita dan Pandu mengobrol dengan Bu Tari.


"Ibu, ini ada oleh-oleh dari Solo," ucap Ervita menyerahkan Intip (Kerak Nasi) kepada ibu mertuanya.


"Ini kesukaannya Ibu dan Bapak. Teman minum Teh," balas Bu Tari. "Matur nuwun yah ... padahal tidak usah membeli oleh-oleh ya tidak apa-apa," lanjut Bu Tari lagi.


Setelah cukup lama berbicara, dan Indi justru asyik bermain dengan burung parkit dan melihat ikan hias, Pandu berpamitan mengajak Ervita ke kamarnya sebentar. Ini menjadi kali pertama bagi Pandu untuk mengajak istrinya itu masuk ke dalam kamarnya.


"Sini Nda ... kamarnya mantan jejaka," balasnya dengan menggandeng tangan Ervita.

__ADS_1


Ervita hanya tertawa dan mengikuti langkah kaki suaminya itu, menuju salah satu ruangan yang merupakan kamar Pandu ketika masih lajang dan tinggal bersama kedua orang tuanya. Perlahan, Pandu membuka sebuah pintu yang terbuat dari kayu jati, kemudian mempersilakan Ervita untuk masuk.


"Silakan masuk ... ini kamarnya," balas Ervita kemudian.


Tidak seperti kamar yang ada di rumahnya, kamar ini justru didominasi dengan perabotan dari kayu. Bahkan untuk lantai saja mengenai marmer yang motifnya cokelat seperti kayu. Dari meja hingga kursi yang ada di dalam kamar itu juga terbuat dari kayu jati yang didatangkan langsung dari Jepara.


"Kayak Cottage deh Mas ... bagus banget," ucap Ervita dengan mengamati kamar milik suaminya itu.


"Kuno yah?" tanya Pandu kemudian.


"Iya ... etnik sih, tapi bagus. Kalau di rumah kan lebih modern," balasnya.


Pandu pun kemudian menganggukkan kepalanya, "Iya, karena waktu mendesain dan dekorasi ruangan di rumah, aku bingung kamu suka gaya etnik atau minimalis, jadinya ya aku memilih minimalis saja seperti kesukaan orang kebanyakan. Kalau kamu suka ruangan etnik kayak gini, aku bisa ubah kok," balas Pandu.


Sebab, untuk seni dekorasi ruangan kamarnya sendiri, Pandu juga yang membuatnya dan mendekorasinya dengan sedemikian rupa. Ilmu yang dia pelajari di bangku kuliah sebagai Desainer Interior dia manfaatkan untuk mewujudkan kamar impiannya.


"Tidak usah, gitu juga sudah bagus kok, Mas ... daripada untuk dekorasi ruangan, lebih baik ditabung untuk masa depan," balas Ervita kemudian.


Pandu pun kemudian menganggukkan kepalanya, "Iya ... jadi seperti di kamar kita saja, kamu sudah suka?" tanyanya lagi.


"Iya, suka ... karena kamu yang mendesain itu sendiri. Aku suka," balas Ervita kemudian.


Untuk beberapa saat, Ervita tampak mengamati sisi demi sisi kamar itu yang memang mengedepankan unsur tradisional dan pemakaian kayu di beberapa furniturenya, hingga kemudian Ervita mendapati sebuah foto hitam putih yang ada di samping nakas.


"Mas, ini fotonya siapa?" tanya Ervita kemudian.


Pandu pun tersenyum di sana, "Foto kamu waktu di Kios Batik. Aku sengaja memotret kamu dengan handphone secara candid waktu itu. Saat itu, kira-kira usia kandunganmu 7 bulan kalau tidak salah, Nda," ucapnya.


Ervita mengernyitkan keningnya dan mencoba mengamati foto hitam putih itu, dan kemudian menatap Pandu di sana, "Jadi beneran yah, suka sama aku sudah sejak lama? Bahkan sejak aku hamil tanpa suami?" tanyanya.

__ADS_1


Pandu pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Iya ... aku tidak bohong, Nda ... waktu itu juga kamu menunduk dan mengelusi perut kamu yang kian membesar. Aku dulu tuh pengen lebih ramah, pendekatan gitu, tetapi bibirku gak bisa bicara, aku gugup, Nda," akunya sekarang ini.


Tidak banyak bicara, Ervita pun kemudian memeluk suaminya itu, dengan satu tangan yang masih memegang foto hitam putih itu. Rupanya benar bahwa Pandu memang suka kepadanya sejak lama. Dari foto itu, Ervita tahu bagaimana perasaan Pandu kepadanya dulu.


"Makasih ya Mas ... diam-diam kamu merhatiin aku dan Indi sejak dia masih berada di dalam kandungan," balasnya.


"Tentu aku merhatiin kamu ... kamu tidak tahu saja, Nda ...."


Kemudian Pandu membuka jendela kayu di kamarnya, dan mengajak Ervita ke sana, "Dari jendela ini bukankah itu kamarmu, Nda? Rumah yang dulu kamu tempati dan Indi. Aku tahu, dulu kamu kalau malam sering menangis sendiri di sana kan," ucap Pandu dengan menunjuk tempat itu.


Ervita pun menghela nafas dan menengadahkan wajahnya untuk melihat wajah suaminya, "Setahu itu ya Mas?" tanyanya.


Pandu menganggukkan kepalanya, "Makanya ... jangan menangis lagi yah. Aku sudah lama hidup di dalam lembah air matanya, sekarang bersamaku, aku akan mengajaknya mengunjungi Sabana yang penuh tawa dan kebahagiaan," balas Pandu kemudian.


Apa yang baru saja diucapkan oleh Pandu begitu membuat hati Ervita begitu menghangat. Dia yakin bahwa memang Pandu tulus dengannya. Hingga mata Ervita pun berkaca-kaca di sana. Pandu menatap Ervita dengan senyuman yang tercetak jelas di wajahnya, dan pria itu menunduk, rasanya Pandu ingin melabuhkan bibirnya di atas bibir Ervita. Untuk itu, Pandu menundukkan wajahnya, dan berusaha untuk mengikis jarak wajahnya dengan Ervita yang hanya beberapa centimeter itu.


Mungkin hanya tiga centimeter saja, terdengar suara Bu Tari yang memanggil anak dan menantunya itu.


"Ndu, Vi ... ayo, makan dulu," teriak Bu Tari memanggil keduanya.


Pandu pun menghela nafas dan mengusap wajahnya di sana, "Yah, gagal lagi, Nda," balasnya.


Ervita pun tersenyum dan memeluk suaminya itu untuk sesaat, "Sabar ... yuk, keluar Mas ... malu juga, semuanya di luar, kita malahan berada di dalam kamar. Yuk, kita makan," balasnya.


"Timingku yang tidak tepat ya Nda ... sejak kemarin," balas Pandu dengan menggelengkan kepalanya.


Ervita pun mengusapi dada suaminya itu. "Sabar ya Mas ... orang sabar disayang Tuhan, kalau suami yang sabar dicintai istri."


Pandu pun menganggukkan kepalanya perlahan. Walau dalam hati rasanya juga sedikit sebal. Sejak kemarin ingin melakukan romantisme bersama istri saja, selalu tidak tepat waktunya. Memang dia harus lebih bersabar.

__ADS_1


__ADS_2