Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Menghadiri Pernikahan Teman Kuliah


__ADS_3

Agaknya beberapa pekan terakhir ini di kota Jogjakarta sendiri begitu banyak orang yang memiliki kerja dengan menikahkan anaknya. Di kawasan perumahan Pandu dan Bu Tari saja sudah ada setidaknya empat undangan yang mereka terima dan menghadiri pernikahan di rumah. Juga dengan Pandu yang menerima undangan pernikahan karena ada temannya yang menikah.


Di masa sekarang memberikan undangan begitu fleksibel hanya sekadar dibagikan melalui Whatsapp, dan begitu juga sekarang undangan yang diterima oleh Pandu.


"Ada undangan pernikahan lagi, Nda," ucapnya dengan melihat undangan digital, memastikan jam, tanggal, dan tempat pelaksanaannya.


"Siapa yang menikah Mas?" tanya Ervita dengan penasaran.


"Teman kuliah, di Santika Hotel besok Minggu. Dampingi aku ya Nda," pinta Pandu kepada istrinya itu.


"Iya Mas ... pasti aku akan mendampingi kamu, cuma malu Mas."


"Malu kenapa?" tanya Pandu.


Ervita kemudian menggelengkan kepalanya perlahan, "Malu, karena takut aku malu-maluin kamu."


Dengan cepat Pandu menggelengkan kepalanya, "Nggaklah Sayang ... tidak ada kamu malu-maluin. Dengan menggandeng tangan kamu itu, aku justru sangat bangga, sangat bahagia," balas Pandu dengan sungguh-sungguh.


"Tenane loh Mas?" tanya Ervita.


"Iya, tenan. Bangga dan bahagia menggandeng tangan kamu. Ku harap, tangan inilah yang akan selalu ku genggam sampai aku tua nanti," balas Pandu dengan menggenggam tangan Ervita di sana.


Ini adalah harapan dan keinginan terdalam hati Pandu. Dia ingin sampai tua nanti terus menggenggam tangan Ervita. Dia ingin terus menemani Ervita dan berbagi masa dalam meniti usia bersama.


"Amin ... semoga Tuhan memberikan kepada kita usia yang panjang, dan saat tanganku mulai kehilangan kekuatannya, kulitku mulai layu, bahkan mungkin tanganku akan bergetar karena otot sendinya melemah, tangan inilah yang akan senantiasa ku genggam," balas Ervita.


Pandu dan Ervita sama-sama melemparkan senyuman. Keduanya sama-sama menginginkan bahwa cinta di hati keduanya kiranya akan membuatnya bisa meniti hari demi hari bersama.


***


Satu Pekan Kemudian ....


Kini Pandu dan Ervita sama-sama bersiap untuk menghadiri pernikahan teman di Santika Hotel Jogjakarta. Ervita mengenakan kebaya berwarna ice blue dan rok panjang batik yang sarimbitan dengan kemeja yang sekarang dikenakan oleh Pandu. Sementara, untuk acara kali ini keduanya memilih hanya datang berdua, karena acara bisa berlangsung lama dan takut Indira akan kecapekan. Sehingga Indira kini berada di rumah Eyangnya.

__ADS_1


"Ayu banget sih, Nda," ucap Pandu memuji penampilan istrinya yang begitu ayu mengenakan kebaya biru dari kain lace dan rok panjang dari kain batik keluaran Hadinata Batik.


Untuk rambut dan make up, juga Ervita hanya menatanya ala kadarnya saja, bahkan cepolan rambut itu Ervita sendiri yang mencepolnya. Namun, di mata sang suami, tampilan Ervita begitu ayu.


"Itu karena aku mengenakan daster atau piyama rumahan sehari-hari, Mas ... jadi kalau memakai kebaya membuat kamu pangling. Kalau aku sehari-hari kayak gini, kebalikannya, kamu akan pangling lihat aku saat mengenakan daster," balasnya dengan tertawa.


"Ya, bagiku ... kamu tetep ayu, kok Nda ... ayune putri Solo, putrinya Pak Agus," goda Pandu.


"Udah ah, banyak muji-muji melulu, nanti kepalaku tambah besar loh, Mas," balas Ervita dengan memegangi kepalanya.


Keduanya lantas memasuki mobil dan menuju ke tempat diberlangsungkannya acara pernikahan. Dengan sabar, Pandu melintasi jalanan di Kota Gudeg siang itu hingga akhirnya mereka tiba di tempat acara. Bahkan di depan pintu masuk hotel itu, juga dipasang janur, sebagai tanda bahwa di tempat itu diadakan acara pernikahan.


Turun dari mobil, Pandu pun tak segan untuk menggandeng tangan istrinya itu. Justru Pandu begitu senang, ketika Ervita mengapitkan satu tangannya di lengan suaminya, bahkan tak jarang Pandu tersenyum karena bisa bersisian dengan Ervita.


"Sesandingan mbi sliramu, rasane syahdu, Nda (Berdampingan dengan dirimu, rasanya syahdu, Nda)," ucap Pandu seraya melirik istrinya itu.


Ervita pun tersenyum sembari tertunduk malu mendengar gombalan dari suaminya itu. Hingga perona pipi yang dikenakan Ervita rasanya naik dua tingkat rasanya.


"Teman kuliah ya Mas?" tanya Ervita lagi.


Akhirnya mereka mengisi daftar hadir, memasukkan amplop, dan juga menerima souvenir pernikahan. Lantas Pandu mengajak istrinya duduk di deretan yang dikhususkan untuk alumni salah satu universitas negeri di kota Gudeg itu.


Beberapa teman Pandu pun heran, Pandu yang terkenal pendiam dan dingin saat kuliah, kini sudah membawa gandengan.


"Wah, Pandu ... gimana kabarnya?"


"Ngajak pacar ya, Ndu ... akhirnya temenku ini bawa gandengan juga."


Namun, ada pula yang tahu kisah cinta Pandu dengan Lina dulu di kampus biru itu.


"Gandengannya ganti yah? Ku kira sama Lina."


Pandu yang menggandeng Ervita pun memilih bersikap biasa saja, dan mempersilakan istrinya itu untuk duduk. "Jangan dimasukkan hati ya, Nda ... ada yang tahu kisahku dulu," balas Pandu.

__ADS_1


Ervita pun tersenyum dan menatap suaminya, "Iya Mas ... aman. Hatiku baik-baik saja," balas Ervita.


Semoga saja, ajang pernikahan teman kuliah ini tidak menyulut bara api bagi Ervita. Sebab, tidak dipungkiri saat bertemu lagi dengan orang-orang di masa lalu, sangat bisa menyulut bara api di hati pasangannya kini.


"Beneran tidak apa-apa?" tanya Pandu memastikan.


"Iya, santuy Mas ... biasa apa yang terjadi di masa lalu masih diingat oleh orang lain," balas Ervita.


Dia berusaha untuk menyingkapi apa yang terjadi. Sama seperti Pandu yang begitu bijak kala mendampinginya. Bahkan Pandu sama sekali tidak mempermasalahkan masa lalunya yang tentu tidak baik. Justru Pandu yang seolah-olah menutup cela yang dulu pernah dialaminya.


"Syukurlah ... yang pasti hak milik hati ini, punya kamu, Nda," balas Pandu lagi.


Akhirnya, beberapa teman mendekat dan bersalaman dengan Pandu dan Ervita. Mereka menyapa dan juga berkenalan.


"Kenalan dulu, pacarnya Pandu ya Mbak? Aku Arya," ucap seorang pemuda yang kala itu juga datang mengenakan kemeja batik.


"Ini istri, Ya ... istri aku, Ervita," jawab Pandu memperkenalkan Ervita sebagai istrinya.


"Loh, sudah menikah tow? Kok enggak undang-undang?"


"Lumayan, lagian cuma acara keluarga saja, biar lebih khusyuk," balas Pandu.


"Oalah, gitu ya harusnya undang-undang. Biar satu angkatan bisa datang," balas Arya.


Pandu hanya tersenyum, "Udah kadung (terlanjur - dalam bahasa Indonesia)."


"Asli Jogja juga Mbak?" tanya Arya kini kepada Ervita.


"Dari Solo, Mas," balas Ervita.


"Iso-isone wong Jogja dapat wong Solo, kayak yang lagi viral," balas Arya dengan terkekeh geli.


"Duluan aku nikahnya, dia yang ikut-ikutan," balas Pandu dengan terkekeh.

__ADS_1


Pandu berusaha mencairkan suasana, semua itu supaya Ervita tidak minder juga berada di tengah-tengah rekan kuliahnya dulu. Pandu ingin Ervita bisa menyesuaikan diri dan mendampinginya tanpa ada rasa minder dan keraguan. Sebab, di dalam hatinya hanya ada Ervita saja.


__ADS_2