Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Mbangun Bebrayan


__ADS_3

Dari perjualan menuju rumah keluarga Hadinata, ada Pertiwi yang memang memiliki karakter yang ramah dan ceriwis, sehingga di mobil yang dikemudikan Pandu, seolah hanya dipenuhi oleh suara Pertiwi saja. Banyak yang dia obrolkan mulai dari pernikahan, kehamilan, bahkan tak jarang menggoda adiknya, yaitu Pandu yang memiliki sifat berbeda dengannya.


"Vi, kalau baru sama kamu, Pandu apa juga pendiem?" tanya Pertiwi yang sekarang duduk di belakang kursi kemudi bersama Ervita.


"Lumayan Mbak ... kenapa?" tanya Ervita.


"Biasanya pria kalau sudah menikah, sama istrinya bakalan ceriwis loh. Banyak bicara, itu contoh nyata," balas Pertiwi dengan tertawa.


Ervita pun tersenyum di sana, "Berarti Mas Damar juga gitu yah?" balas Ervita yang menerka mungkin saja kakak iparnya juga begitu.


"Iya, kalau sama istri sendiri semuanya dibicarakan. Yang harusnya enggak dibicarakan pun jadi dibicarakan," balas Pertiwi dengan terkekeh geli.


Sementara itu Pandu pun tertawa, "Iya tow Mas? Kalau sama Mbak Pertiwi jadi banyak bicara yah? Pasti ketularan Mbak Pertiwi tuh," balas Pandu.


Damar yang sebenarnya juga terkesan pendiam pun akhirnya mengakui, "Ya, jadi sering cerita saja sama Tiwi. Kan ya hidup berumahtangga. Kalau kurang komunikasi di antara suami dan istri jadinya kan juga tidak baik," balas Damar.


"Kamu juga kan, Ndu?" tanya Mbak Pertiwi kepada adiknya itu. Sebab, lama tidak bertemu dan menurut Pertiwi, adiknya itu masih sama. Wajahnya tenang dan tidak banyak bicara.


"Tanya sama Dinda aja," balas Pandu.


Mendengar nama Dinda, baik Mbak Pertiwi dan Mas Damar pun tertawa. Mungkinkah bahwa Dinda itu adalah panggilan sayang dari Pandu untuk Ervita. Rasanya lucu juga mendengar Pandu menyebut nama Dinda.


"Dinda dan Kanda?" tanya Damar dengan pandangan menelisik.


"Ya, begitu Mas ... iya kan Nda," balas Pandu dengan melirik ke belakang.

__ADS_1


Lagi-lagi Mbak Pertiwi pun tertawa, "Yuh, sweetnya melebihi Gula Jawa. Ternyata adikku bisa sweet banget," balas Pertiwi.


"Iya dong, Mbak ... kan perasaanku untuk Dinda itu seistimewa Jogjakarta," balas Pandu lagi.


"Fixed, Pandu jatuh cinta ini. Sebelumnya Pandu itu gak pernah kayak gini, Vi ... sama kamu, Pandu ya jadi agak-agak hilang kewarasannya," balas Pertiwi yang tertawa begitu puas.


Hingga akhirnya, mobil yang dikemudikan Pandu telah tiba di rumah keluarga Hadinata, tampak Pak Hadinata dan Bu Tari sudah berdiri dan menyambut putrinya yang baru saja datang dari Lampung. Para orang tua pun menangis, tapi ini adalah tangis bahagia.


"Bapak ... Ibu," sapa Pertiwi ketika sudah turun dari mobil.


Walau Pertiwi terkesan ceriwis, tapi ketika sudah bersama Bapak dan Ibunya, kali ini Pertiwi pun menangis.


"Yuh, hamilnya sudah besar. Sehat kan Ndug?" tanya Bu Tari dengan memeluk Pertiwi di sana.


"Alhamdulillah sehat, Bu," balas Pertiwi.


"Sehat-sehat, Mar ... yuk, duduk dulu," ajak Pak Hadinata kepada seluruh keluarganya. Ini pun menjadi momen yang langka di mana anak, menantu, dan cucu berkumpul.


Terlihat Indi yang langsung bermain dengan Lintang di Pendopo, sementara para orang yang dewasa mengobrol bersama. Ditemani dengan sajian Teh hangat, Bakpia, dan juga Geplak. Ya, Bakpia dan geplak adalah dua makanan tradisional khas Jogja yang sangat digemari oleh Pertiwi. Sehingga kali ini Bu Tari pun menyediakannya untuk putrinya itu.


"Wah, semua makanan kesukaan Pertiwi ya Bu," ucap Pertiwi dengan mengambil Geplak yaitu makanan yang terbuat dari kelapa parut dan juga gula.


"Iya, mumpung kamu di Jogja," balas Bu Tari.


"Lha, kesukaannya Ervi, Bu ... kan anaknya perempuan dua loh," ucap Pak Hadinata di sana.

__ADS_1


Bu Tari pun tertawa, "Ervi geplak dan Bakpia kan juga suka Pak, ini Bakpia rasa Keju yang dari produk ini kan Vi yang kamu suka?" ucap Bu Tari dengan menyodorkan Bakpia yang diketahui Bu Tari sangat disukai Ervi itu.


"Iya Bu ... yang ini kesukaan Ervi. Matur nuwun Ibu," balasnya.


"Ibu tuh pasti tahu Pak ... enggak akan membeda-bedakan mana anak dan mana menantu. Buat ibu itu Pertiwi, Pandu, Damar, dan Ervi semuanya sama ... anak-anak Ibu," jelas Bu Tari di sana.


Pak Hadinata pun tampak menganggukkan kepalanya, "Bebrayan atau keluarga itu kalau lingkup besar ya seperti ini. Orang tua, anak, mantu, cucu, bahkan sampai cicit nanti. Semoga nanti kalau Pertiwi dan Pandu semakin tua, memiliki rasa yang sama. Bebrayan itu tidak membeda-bedakan," balas Pak Hadinata.


"Nggih Pak," balas Pertiwi dan Pandu bersamaan.


"Kamu dan pasanganmu itu namanya juga bebrayan. Dua orang yang bersatu dan hendak mewujudkan kehidupan pernikahan. Bapak itu ingat pesannya Simbah dulu, 'Mbangun kromo ingkang satuhu, boten cekap bilih ngagem sepisan rasa katresnan. Hananging butuh pirang-pirang katresnan lumeber ning pasangan uripmu siji kui'," ucap Pak Hadinata.


"Artinya apa Pak?" Giliran Damar yang sekarang bertanya kepada Bapak mertuanya itu.


"Itu falsafah Jawa, Damar ... yang memiliki arti bahwa membangun pernikahan yang kuat dan sukses tidaklah cukup dengan sekali jatuh cinta, tetapi butuh berkali-kali jatuh cinta kepada pasangan hidup kita satu-satunya," jelas Pak Hadinata.


Para anak dan menantu pun merespons dengan menganggukkan kepalanya. Pun dengan Bu Tari yang merasa bahwa nasihat serta falsafah hidup yang bernilai adi luhung ini perlu dikenal dan dilakukan oleh anak-anak masa kini.


"Oleh karena itu, mbangun bebrayan ugi mbangun katresnan. Membangun sebuah keluarga itu juga membangun cinta, supaya kalian sama-sama saling menyayangi, rukun, dan sampai tua bisa langgeng," wejangan dari Pak Hadinata.


Pertiwi pun tersenyum, "Wah, hari ini ada dua tokoh yang keren. Yang pertama Pandu, yang kedua Bapak," celetuknya.


Pak Hadinata pun tersenyum, "Lha Pandu kenapa Wi?" tanyanya.


"Iya Pak ... katanya Pandu cintanya untuk Ervi seistimewa Jogjakarta. Sekarang dapat wejangan, dapat nasihat yang indah banget dari Bapak. Matur nuwun Bapak," balasnya.

__ADS_1


Ya, memang membangun kehidupan pernikahan itu tidak cukup jika hanya jatuh cinta pada pandangan pertama. Akan tetapi, dibutuhkan rasa cinta berkali-kali, yang semakin besar setiap hari. Cinta yang melimpah, supaya bisa menjalani pasang dan surutnya kehidupan pernikahan dan juga langgeng sampai maut memisahkan.


__ADS_2