
Sebagaimana tujuan kepulangan Pertiwi ke Jogjakarta untuk melakukan upacara tujuh bulanan dan juga menunggu sampai hari persalinan nanti. Hari ini, di rumah keluarga Hadinata sudah bersiap untuk menyambut para tamu undangan yang akan datang dalam memberikan pengajian untuk memanjatkan doa keselamatan untuk Pertiwi dan bayinya.
Ini adalah upacara tujuh bulanan yang kedua kali bagi Pertiwi. Dulu, ketika hamil Lintang, acara tujuh bulanan juga digelar di Jogjakarta. Sehingga, bukan hal yang baru untuk Pertiwi. Pagi tadi sudah dilaksanakan upacara siraman, dan petang dilanjutkan dengan upacara Pengajian.
Sementara Ervita dan Pandu pun duduk bersama dan khusyuk mengikuti jalannya pengajian. Sesekali Pandu berbisik-bisik kepada istrinya itu.
"Nanti kalau kehamilan kamu sudah tujuh bulan, kita buat upacara tujuh bulanan juga ya Nda," ucapnya.
Ervita pun tersenyum, "Dulu Indi saja enggak, Mas ... sebenarnya enggak juga gak apa-apa," balas Ervita.
"Dulu dan sekarang kan beda, Nda ... nanti kita buat pengajian untuk mendoakan ibu dan bayinya. Baru empat bulan usia kandungan kamu, sudah enggak sabar untuk menimang bayi kita, Nda," ucap Pandu.
"Sabar Mas ... kan nanti juga akan datang masanya. Kita nanti menyambut keponakan dulu dari Mbak Pertiwi dan Mei. Setelahnya barulah kita akan menyambut buah hati kita," balas Ervita.
Pandu pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Iya, benar banget Dinda ... menyambut dua keponakan dulu. Setelahnya barulah menyambuh buah cinta kita berdua," balas Pandu.
Mengikuti pengajian dan turut menyambut tamu undangan. Hampir jam 19.00, seluruh acara baru selesai. Kemudian keluarga Hadinata masih berkumpul bersama.
"Selamat Mbak Pertiwi ... sudah tujuh bulan, tinggal beberapa minggu untuk menunggu baby nya lahir," ucap Ervita.
Pertiwi pun menganggukkan kepalanya, "Iya, Vi ... makasih yah. Kamu juga sehat-sehat. Baru empat bulan, masih lebih lama. Yang sabar, yang kuat. Jangan sungkan untuk manja-manja sama adikku yang ganteng itu," balas Pertiwi dengan tertawa.
Ervita pun turut tertawa. Celetukan khasnya Mbak Pertiwi yang menurut Ervita bisa mengundang tawa. "Sudah selalu disayang kok Mbak sama Mas Pandu," jawab Ervita.
Mendengar pengakuan Ervita, Bapak dan Ibu turut tertawa. Namun, rasanya juga begitu bangga karena Pandu adalah pria yang menyayangi istri dan juga mau belajar. Sebab, dalam pernikahan menjalankan peran sebagai suami dan calon ayah adalah sebuah pembelajaran.
"Udah kelihatan juga. Kenapa kalian kok enggak ingin tahu jenis kelamin debaynya sih?" tanya Pertiwi dengan tiba-tiba.
Sebab, biasanya pasangan masa kini akan senang jika melakukan pemeriksaan USG dan bisa mengetahui jenis kelamin bayinya. Sementara Pandu dan Ervita justru memilih untuk menunggu sampai persalinan nanti. Apakah mereka tidak penasaran? Apakah mereka tidak ingin membelikan perlengkapan dan baju-baju bayi sesuai dengan jenis kelaminannya.
"Kalau Mbak Pertiwi babynya cowok kan?" tanya Ervita kemudian.
Pertiwi menganggukkan kepalanya, "Benar ... cowok. Sudah lengkap. Sesuai request dari Papanya Lintang yang menginginkan bayi cowok," balas Pertiwi yang tampak begitu senang dan mengusapi perutnya yang sudah begitu membuncit.
__ADS_1
"Selamat Mbak ... turut senang," balasnya.
Hingga akhirnya pembicaraan mereka terjeda, karena masih ada Ibu-ibu dari Dawis yang datang dan memberikan doa untuk Pertiwi. Oleh karena itu, Pertiwi pun menemui ibu-ibu yang tak lain adalah tetangga dekat di kanan dan kiri kediaman orang tuanya. Ada beberapa kenalan dari Mas Damar di Jogjakarta yang datang dan memberikan doa dan selamat.
"Banyak tamunya ya Mas ... baru tujuh bulanan saja, sudah kayak orang menikahkan anaknya," ucap Ervita dengan berbisik kepada suaminya.
"Ya, kalau di Jogja seperti ini, Nda. Ini belum semuanya, biasanya kalau punya kerja, secara khusus kalau menikahkan anak itu ada paguyuban pedagang batik yang datang. Jadi, lebih banyak," cerita Pandu kepada istrinya.
"Ya ampun, pasti capek banget yah ... tamunya banyak banget," balas Ervita.
"Iya, dulu Mbak Pertiwi waktu nikah semuanya hadir. Keluarga, kerabat, tetangga, teman kuliahnya Mbak Pertiwi dan Mas Damar, pihak besan dari Lampung, terus pedagang batik itu. Sampai penuh. Aku aja yang melihatnya capek," kenang Pandu pada beberapa tahun yang lalu ketika kakaknya menikah.
"Kalau kita, sekeluarga aja Mas ... bisa kecapekan aku nanti. Lemes jadinya," balas Ervita.
Pandu pun tersenyum di sana, "Lemes? Emangnya habis diapain hayo?" tanyanya.
Tentu ini adalah pertanyaan yang sifatnya pancingan dari Pandu. Sebatas ingin menggoda istrinya itu. Hingga Ervita menundukkan wajahnya karena malu dengan pertanyaan suaminya yang menjurus ke hal lain.
"Hmm, emangnya kenapa Mas?" tanya Ervita kepada suaminya itu.
Pandu tersenyum di sana, "Katanya malam ini Indi mau menginap di rumah Eyangnya, mau bobok sama Mbak Lintang. Jadi, di rumah berdua aman, Nda," balas Pandu.
Ervita pun tertawa, "Kamu pinter banget kalau kayak gini," balasnya.
"Aku punya tiket khusus dan terbatas ke Swargaloka. Kamu mau enggak? Atau ke Andromeda? Atau ke Sahara?" balasnya.
Ervita pun menepuk paha suaminya itu, gemas sendiri dengan kelakuan suaminya. Bisa-bisanya suaminya itu memiliki berbagai macam metafora yang akan membawanya untuk menggapai nirwana tentunya.
"Nanti jam 21.00 pulang ya Mas?" ajak Ervita kemudian.
"Hmm, kenapa sudah ngantuk?" tanya Pandu dengan cepat.
"Agaknya sekarang aku di fase mudah mengantuk sih Mas ... semoga diizinkan sama Bapak dan Ibu yah," balas Ervita.
__ADS_1
Pandu kemudian menganggukkan kepalanya, "Iya, semoga saja ... mengingat tamu masih banyak. Cuma firasatku enggak enak aja ini. Takutnya kita diminta menginap di sini. Ibu dan Bapak suka kalau anak-anaknya ngumpul," balas Pandu.
"Ya, aku sih tidak masalah sih Mas," balas Ervita.
Pandu melirik istrinya itu, "Kalau aku sih masalah Nda ... aku kan punya misi khusus sama kamu," jawabnya.
Ya, di dalam otaknya Pandu sudah menyusun misi khusus. Namun, sekarang agaknya orang tuanya akan meminta kepadanya dan Ervita untuk menginap di rumah. Semoga saja misi khusus kali ini bisa berhasil.
***
Dear My Bestie,
Sembari menunggu update untuk Bab selanjutnya. Dukung juga dua karya terbaru Author berikut ini yah. Masukkan ke rak buku dan ikuti kisahnya. Dijamin kisah yang bukan sekadar halu, tapi dikaji kebenarannya.
1. Rujuk Bersyarat
Mengisahkan kisah Zaid yang terpaksa mengajukan rujuk dengan syarat-syarat yang disepakati bersama dengan Erina. Rujuk bukan karena cinta, tetapi untuk memprioritaskan dan menjadi orang tua secara penuh untuk putranya, Raka.
Rujuk bersyarat akan diwarnai dengan konflik batin dan juga traumatik seorang anak lantaran perceraian kedua orang tuanya. Cerita ini terbit setiap hari di Noveltoon.
2. Romansa Pengantin SMA
Mengisahkan kisah Mira dengan Elkan. Dua siswa yang dinikahkan kala mereka masih berseragam putih abu-abu. Berawal dari teman sepermainan, hingga akhirnya keduanya menjadi suami istri di usia belia. Kisah akan diwarnai konflik pasangan muda, pencarian jati diri, dan menggapai mimpi. Cerita ini juga terbit setiap hari di Noveltoon.
Yang sudah mengikuti dan mendukung, bisa tinggalkan komentar yah. Terima kasih untuk dukungannya.
Love U All,
Kirana
__ADS_1