
Masih terngiang di telinga Ervita perkataan Firhan yang begitu melukai hatinya. Ervita sepenuhnya menyadari, dirinya hanya manusia biasa yang tidak bisa memaafkan perlakuan Firhan padanya. Masih ingat kala pertama Ervita usai memeriksakan kandungannya, Ervita bersusah payah menaiki kereta menuju ke Kota Solo hanya untuk menemui Firhan. Mungkin saja dengan melihat catatan di Buku KIA dan foto hasil USG yang dia bawa bisa mengetuk hati Firhan. Nyatanya sia-sia.
"Aku tidak peduli dengan nasab. Aku peduli dengan masa depanku. Menjadi orang yang berguna dalam hidup lebih berguna daripada menikahimu dan bertanggung jawab atas anakmu," ucap Firhan kala itu.
Jujur saja perkataan Firhan kala itu begitu menyakiti hati Ervita. Seorang Ayah yang dengan kejamnya mengatakan bahwa dirinya tidak peduli dengan nasab anaknya. Yang dia pikirkan hanya masa depannya, dan kini pria itu datang dan mengatakan hendak mencoba meminta restu kepada Bapak dan Ibunya. Bagi Ervita semuanya sudah terlambat.
Ervita tersenyum di sana, "Kenapa kamu tidak berusaha mengatakan hal seperti ini satu tahun yang lalu, Han? Semua sudah terlambat. Aku masih ingat dengan setiap ucapanmu yanga mengatakan bahwa kamu tidak peduli dengan anakku, tidak peduli dengan nasabnya. Jadi, aku akan tidak mengharapkan kamu lagi. Bagiku kamu sudah tidak ada Firhan."
Sekali lagi Ervita menegaskan, bahwa tidak ada lagi Firhan di dalam hidupnya. Lagipula untuk apa mengharapkan pria yang sejak awal memang hanya ingin mahkotanya saja, dan usai semua itu tidak pernah ada itikad baik dan juga kala Ervita datang dan berusaha sekali lagi, Firhan mengelak.
"Biarlah anakku lahir tanpa nasab. Suatu hari nanti akan ada pria yang baik, yang datang baik-baik dan mau menerima putriku yang terlahir tanpa nasab itu. Kali ini nasib buruk memang ditimpakan kepadaku, tetapi aku akan menjalani semuanya. Seorang yang baik mengatakan kepadaku bahwa hari-hari di hidupku tidak ada seterusnya berwarna kelabu, ada sirat cahaya dan warna yang Tuhan tunjukkan di dalam hidupku. Lebih baik kamu pergi Firhan, aku tidak membutuhkanmu," balas Ervita.
"Jangan begitu Ervita ... pikirkanlah baik-baik. Demi anak kita juga," balas Firhan.
Ervita menggelengkan kepalanya, "Jangan pernah mengatakan anak kita, karena bayi itu adalah anakku. Aku yang mengandungnya sembilan bulan, aku yang melahirkannya, dan kedua tanganku yang mengasuhnya. Apa andilmu dalam anak itu? Hanya sekadar membuahi Firhan. Lalu, kamu memungkiri semuanya. Bahkan sebelum lahir pun kamu sudah menolak anak itu."
Ervita berdecih sekarang, "Ck, aku tidak akan terperdaya olehmu. Bukankah sekarang kamu menjalin hubungan dengan Tiana. Aku doakan bahagia, dan ingat jangan merenggut mahkotanya, sebelum akad terucap. Mungkin kali ini kamu akan mangkir lagi dari tanggung jawab. Ingat tidak selamanya Tuhan berbelas kasih kepada seorang pendosa," balas Ervita.
Firhan tidak mengira bahwa Ervita berani melawannya. Dia pikir, Ervita masih seorang wanita yang lemah dan mengiba untuk dia mau kembali ke sisinya. Akan tetapi, Firhan salah. Ervita yang berdiri di hadapannya sekarang agaknya tidak bisa dia kelabui dengan mudah. Padahal Firhan sudah memperlihat ketulusan dan berusaha meyakinkan Ervita. Akan tetapi, Ervita sama sekali tidak percaya kepadanya.
Ketika Firhan masih berdiri di booth Batik Hadinata, rupanya Pandu datang usai keluar dari berdiskusi dengan panitia. Melihat Firhan yang berdiri di depan boothnya sendirian, tentu saja Pandu merasa gusar. Yang Pandu pikirkan sekarang adalah Ervita. Pandu mempercepat langkahnya dan menuju ke booth miliknya.
"Ervi ... aku sudah selesai," ucap Pandu.
Terlihat Pandu sengaja tidak melihat Firhan. Sebab, Pandu sudah menerka bahwa Firhan inilah pria yang membuat Ervita mengalami semua kegetiran dalam hidup.
__ADS_1
"Iya Mas," balas Ervita.
Barulah Pandu menoleh kepada Firhan, "Ada perlu apa yah? Booth buka masih 20 menit lagi," ucap Pandu.
"Enggak ... cuma mau ngobrol sama Ervita. Calon istri," balas Pandu.
Mendengar jawaban yang diberikan Firhan, terlihat Ervita begitu geram dengan pria itu. Rasanya, itu hanya perkataan untuk memancing emosi Ervita saja.
"Oh ... aku pikir kamu yang harus tahu diri. Setidaknya aku tahu tentang kamu Firhan Maulana. Benarkan? Itu nama kamu?" tanya Pandu.
Sungguh, Firhan juga tidak mengira bahwa Pandu mengetahui nama lengkapnya. Sebenarnya siapa Pandu ini hingga bisa tahu mengenai sosok Firhan. Pun demikian dengan Ervita, dia tidak pernah menyebutkan nama Firhan, bahkan nama lengkapnya. Akan tetapi, darimana Pandu bisa tahu semuanya?
"Sebaiknya kamu pergi dari sini Firhan, dan jangan mengusik Ervita lagi. Jika, kamu berani mengusik Ervita, aku tidak akan segan-segan, Firhan."
"Sialan!"
Firhan mengumpat dan pergi dari tempat itu. Sungguh, tidak mengira niatnya untuk mengelabui Ervita sepenuhnya gagal total.
"Kamu tidak apa-apa, Vi?" tanya Pandu kemudian.
Ervita tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku baik-baik saja kok Mas," balasnya.
"Syukurlah ... kalau ada yang gangguin kamu, bilang saja ke aku. Sebab, aku pasti akan jagain kamu," ucap Pandu.
Kala Pandu mengatakan akan menjaganya sontak saja Ervita merasakan kedua matanya berkaca-kaca sekarang ini. Selama ini tidak pernah ada orang yang mengatakan hendak menjaganya. Sejak satu tahun lebih hidup sendiri, seolah tak ada orang yang menguatkannya. Akan tetapi, sekarang ada orang lain yang mengatakan hendak menjaganya membuat Ervita terharu dan sedih di saat yang bersamaan.
__ADS_1
"Sungguh, aku tidak apa-apa kok Mas. Aku baik-baik saja," balas Ervita.
Pandu diam, pria itu kemudian memberikan satu botol air mineral dan membuka sealnya, menyerahkannya kepada Ervita.
"Minum dulu, biar adem," balas Pandu.
Ervita menerima botol itu dan kemudian meminumnya perlahan. Usai itu, Ervita menatap Pandu yang masih berdiri di hadapannya.
"Mas Pandu kenal dia?" tanyanya.
"Hmm, siapa?"
"Orang itu tadi," sahut Ervita.
"Enggak kenal, cuma tahu saja. Aku punya banyak teman yang kuliah di kampusmu itu dulu," jawab Pandu kemudian.
"Oh, kupikir kenal dengannya karena tahu nama lengkapnya," balas Ervita.
Pandu kemudian menatap Ervita, "Dia kan Ervita orangnya?"
Sungguh kali ini, Ervita merasakan hatinya berdebar-debar. Mungkinkah sejauh ini Mas Pandu sudah tahu bahwa Firhan adalah orang yang sudah merenggut mahkotanya dan juga menolak untuk bertanggung jawab atasnya. Sungguh, tidak mengira bahwa akhirnya Pandu akan bertanya perihal hal ini kepadanya.
Ervita hanya bisa menundukkan wajahnya. Namun, sesaat kemudian Pandu kembali berbicara, "Sudah, tidak perlu dijawab. Dari raut wajah kamu sudah bisa memberiku jawaban yang sesungguhnya. Hati-hati, Ervi ... jika dia mengganggu kamu lagi, bilang kepadaku yah ... aku akan jagain kamu dan Indi."
Pandu mengatakannya dengan sungguh-sungguh, dan sekali lagi dia menegaskan untuk bisa menjaganya dan juga Indira. Rasanya hati Ervita benar-benar tersentuh dengan ucapan Pandu sekarang ini.
__ADS_1