Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Perhatian Suami


__ADS_3

Menyadari bahwa Ervita berada di puncak badannya yang merasa tidak sehat, Pandu kemudian berinisiatif untuk menitipkan Indi ke rumah Eyangnya. Sebab, Indi pun jika melihat Bunda yang mual dan muntah, Indi ikut menangis. Menenangkan dua orang di rumah rasanya susah. Indi yang takut Bundanya sakit, sementara Ervita juga butuh tempat bersandar karena tubuhnya sedang tidak sehat.


“Indi di rumahnya Eyang dulu mau tidak?” tanya Pandu kepada Indi.


“Yayah dan Nda mau kemana?” tanyanya.


Pandu menggelengkan kepalanya perlahan, “Yayah mau beliin obat dulu untuk Bunda … sapa tahu nanti setelah dibelikan obat, Bunda jadi lebih sehat. Indi juga nangis karena Bundanya mual,” ucap Pandu.


“Ya, mau Yayah … nanti sore dijemput yah. Semoga Nda sudah sehat ya Yayah,” balasnya.


“Iya Sayang … doakan Bunda sehat yah. Kasihan Bunda sampai lemes gitu,” balas Pandu.


Akhirnya, Pandu mengantarkan Indi ke rumah orang tuanya dengan menitipkan Indi. Setidaknya Indi juga tidak menangis karena Bundanya yang kurang sehat. Bu Tari pun juga panik padahal kemarin Ervita waktu makan Brambang Asem masih terlihat begitu sehat, tetapi sekarang mual dan muntah.


“Mau dibelikan obat apa?” tanya Bu Tari kemudian.


“Beli minyak kayu putih dan inhaler saja, Bu … kalau Pandu tidak salah, dulu juga waktu hamil Indi, Ervi sering membawa minyak kayu putih dan inhaler sewaktu di kios,” balasnya.


Mendengar jawaban dari Pandu, Bu Tari pun tersenyum. Baginya ini adalah bukti nyata bahwa Pandu sebenarnya perhatian kepada Ervita sejak dulu. Hanya saja, dulu putranya itu terlampau pendiam, sehingga mungkin Ervita sendiri tidak tahu jika diperhatikan oleh Pandu.


Sementara Pandu sendiri dulu juga sering mencium aroma kayu putih ketika dekat dengan Ervita. Itu menjadi hal yang Pandu ingat dan mungkin saja para ibu hamil akan menggunakan minyak kayu putih atau aroma terapi untuk meredakan mual. Harapan Pandu sih, kali ini benar bahwa mungkin saja Indi akan segera memiliki adik.


“Ya sudah, sana istrinya diurus dulu … ditemenin dulu. Indi biar main sama Eyangnya. Ini dibawa, lauk … nasi sudah ada belum?” tanya Bu Tari.

__ADS_1


“Sudah ada nasi kok Bu … kalau kurang, Pandu yang memasak nasinya sendiri juga bisa,” balasnya.


Bu Tari pun menganggukkan kepalanya, “Yang sabar … siapa tahu kamu mau menjadi Ayah beneran. Ya, sudah menjadi Ayah … tapi kan kali ini buah kandung dari benihmu. Jadi, yang sabar. Dijaga baik-baik,” pesan dari Bu Tari.


Jujur, Bu Tari pun juga senang jika memang Ervita hamil. Itu berarti akan menjadi anak pertama bagi Pandu. Anak hasil benih dari Pandu. Kendati demikian, keluarga Hadinata juga sangat menyayangi Indi. Sebagai Ibu, ini adalah kenaikan kelas bagi putranya untuk bisa bersabar menghadapi istrinya yang tengah hamil.


Setelahnya, Pandu menuju ke apotek terdekat dan membeli beberapa hal di apotek itu mulai dari Minyak Kayu Putih, Inhaler, dan juga Test Pack sekaligus dia beli. Ingin memberi obat-obat yang lain, tetapi Pandu tahu bahwa wanita yang tengah hamil tidak boleh minum sembarangan obat harus meminum obat sesuai pengawasan Dokter. Namun, Pandu mampir ke pinggir jalan dan membeli air Kelapa Muda Hijau untuk Ervita.


"Masih pusing?" tanya Pandu begitu sudah tiba di rumah dan membawa kantong plastik kecil.


"Beli apa saja Mas?" tanya Ervita yang masih rebahan di atas tempat tidur.


"Minyak kayu putih, inhaler, dan test pack. Seingatku dulu, kamu waktu hamil Indi sering bau Minyak Kayu Putih, dan sekarang aku belikan buat kamu," balasnya.


"Iya, perhatian diam-diam," balas Pandu.


Kemudian Pandu membuka kemasan Minyak Kayu Putih itu, membuka plastik di atas tutup buku dan membukanya. Kemudian dia menatap Ervita di sana, "Sini ... aku oleskan minyak kayu putih. Mau diusapin di bagian mana?" tanya Pandu kemudian.


"Di perut itu Mas," balas Ervita.


Pandu kemudian menyibak selimut yang dikenakan Ervita, dan kemudian membuka perlahan kaos yang dikenakan Ervita, melipatnya sedikit ke atas menunjukkan perut istrinya yang masih rata itu. Kemudian Pandu mengambil sedikit minyak kayu putih dan kemudian mengusapkannya ke perut Ervita.


Pria itu terlihat begitu telaten kala mengolesi perut Ervita dengan minyak kayu putih itu. Ervita pun tersentuh dengan perhatian yang diberikan Pandu. Rasanya, dia senang dan terharu karena diperhatikan seperti ini.

__ADS_1


"Mana lagi yang diolesin?" tanya Pandu.


"Sudah kok Mas ... terima kasih yah," balas Ervita.


Pandu menganggukkan kepalanya dan kemudian membenarkan kaos Ervita dan juga menyelimuti kaki istrinya itu, Pandu juga membenarkan posisi bantal dan juga menaruh bantal di punggung istrinya dengan lebih tinggi supaya bersandar lebih enak.


"Sebentar ... aku buatkan teh hangat yah. Biar lebih enak, sama ini inhalernya. Dulu juga kamu kemana-mana bawa inhaler kan?"


Ervita tersenyum di sana, "Perhatian banget loh ... kamu seperhatian itu sama aku dulu ya Mas?" tanyanya.


Pandu pun menganggukkan kepalanya, "Hal-hal kecil tentang kamu, aku mengingatnya kok Dinda ... jadi, kalau benar sekarang hamil kamu tidak usah khawatir. Kamu tidak sendirian lagi. Kamu punya aku. Besok pagi bangun ya Sayang ... tes dulu sapa tahu benihku dengan kualitas super itu sudah bersemi di sini," balasnya.


"Amin ... semoga sudah bersemi di sini," balas Ervita.


Kemudian Ervita menatap kepada suaminya di sana, "Mas, peluk lagi boleh?" pintanya.


Pandu pun segera mendekat dan mendekap erat tubuh Ervita di sana. Ervita diam dan juga merasakan kehangatan kala suaminya itu memeluknya.


"Dulu, waktu aku hamil Indi tidak ada yang memelukku seperti ini. Aku menjalani hari-hari yang berat seorang diri. Terima kasih, sekarang aku punya kamu. Aku punya kamu yang memelukku," ucap Ervita.


Pandu mengulas senyuman di sana dan mengusapi kepala hingga punggung istrinya itu dengan gerakan usapan tangan yang naik turun. "Dulu, kamu kalau pengen aku peluk juga boleh kok, Nda," ucapnya perlahan.


Ervita menggeleng samar di dalam dekapan suaminya itu, "Tidak ... kita belum sah dulu, dan itu bukan prinsip kamu. Sekarang kan kita sudah sah untuk satu sama lain, dan beda ceritanya. Cuma, terima kasih kamu mengingat hal-hal kecil tentang aku waktu hamil Indi dulu. Makasih Masku," balas Ervita.

__ADS_1


__ADS_2