Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Aqiqah di Solo


__ADS_3

Menyebrang sebentar dari Jogjakarta, sekarang di Solo, di kediaman Bapak Agus dan Bu Sri sedang dilakukan acara syukuran Aqiqah untuk Baby Arka. Oleh karena, bayinya Mei berjenis kelamin laki-laki, sehingga jumlah domba yang disembelih berjumlah dua ekor. Selain itu, ada para tetangga yang hadir dan memberikan doa dan ucapan selamat untuk keluarga Mei dan Tanto.


"Selamat Mbak Mei, putranya sehat, cakep, dan pipinya chubby sekali," ucap seorang tetangga yang lain.


"Selamat Mbak Mei, ikut bahagia."


"Tidak usah menunda-nunda, nanti kalau sudah lepas ASI, bikin adik lagi Mbak Mei."


Berbagai ucapan dari para tetangga memang beragam. Akan tetapi, Mei memilih menganggukkan kepala dan tersenyum. Tidak memasukkan semua komentar itu ke dalam, walaupun sebenarnya ada beberapa komentar yang rasanya kurang tepat.


"Mei, mumpung agak sepi. Kamu makan dulu, Ibu biar yang gendong Arka," ucap Bu Sri.


Itu juga karena sejak tadi Mei termasuk aktif menyambut tamu. Satu kebiasaan orang-orang di Solo adalah ketika mengunjungi bayi yang baru lahir, mereka akan meminta bedak tabur. Mitosnya supaya mereka tidak terkena sawan bayi. Sehingga pihak keluarga pun menyiapkan bedak tabur yang akan diambil para tamu undangan.


Ketika Mei hendak beristirahat dan makan siang, rupanya ada Bu Yeni yang datang kali ini. Sang tetangga itu turut datang dan memberikan ucapan selamat untuk Mei dan Tanto. Walau ada masa lalu yang kurang baik, tapi Bu Yeni menyadari kesalahannya dan mau datang setiap kali keluarga Bapak Agus membuat acara.


"Permisi," sapa Bu Yeni dengan sedikit menundukkan kepalanya.


"Monggo, Bu ... silakan," balas Bu Sri.


Jujur, sebenarnya keluarga Ervita di Solo sudah sepenuhnya ikhlas. Bahkan mereka juga memaafkan Firhan dan juga semua tindakannya di masa lalu yang merugikan keluarga Ervita. Namun, sejauh ini yang beritikad baik hanya Bu Yeni saja.


"Mau mengunjungi Mas Bayi, Bu," ucap Bu Yeni dengan tersenyum.


Kemudian Bu Yeni melihat bayi laki-laki dengan kulitannya cokelat itu. Mengamati pipinya yang chubby, dan juga melihat wajah bayi itu. Sekadar mengamati saja, Bu Yeni sudah tersenyum karena bayi itu terlihat lucu.

__ADS_1


"Lucu banget nggih, Bu. Namanya siapa?" tanyanya.


"Namanya Arka, Bu," balas Bu Sri.


Kemudian Bu Yeni bertanya kepada Mei, yang pada akhirnya menunda untuk makan. "Lahirannya normal atau caesar Mbak Mei?"


"Normal, Bu. Alhamdulillah," balasnya.


"Wah, kalau normal ya sakit banget ya, Mbak. Semoga lekas pulih," balasnya.


Kemudian Tanto menyuguhkan Teh Hangat, snack berupa Roti Mandarin dan Sosis Solo. Setelahnya Bu Yeni untuk dipersilakan makan untuk berbagai aneka masakan kambing yang memang semua tamu undangan bisa mengambil sesuai selera dan porsi makannya.


"Erma masih kuliah di Semarang, Bu?" tanya Bu Sri.


"Sudah bekerja, Bu. Sekarang bekerja di Semarang juga. Sudah nyaman di Semarang, Bu," balasnya.


"Lebih enak di Semarang kali, Bu. Bagaimana pun kan Semarang itu Ibukota Provinsi, kalau di Solo kan hanya Kota Madya," balasnya.


"Mungkin sih, Bu," balas Bu Yeni.


Kemudian Bu Yeni menikmati sajian di sana. Walau tidak nyaman, tapi Bu Yeni bisa membawa diri dengan baik. Selain itu juga sambutan baik dari keluarga Ervita di Solo membuat Bu Yeni tidak perlu terburu-buru. Hingga akhirnya, usai menikmati hidangan Bu Yeni pun berpamitan.


"Sekali lagi selamat ya Mbak Mei dan keluarga. Semoga segera pulih dan juga Arka sehat selalu," pamitnya.


"Terima kasih, Bu," balas Mei dan Tanto bersamaan.

__ADS_1


"Mbak Mei minta bedaknya sedikit, sapa tahu nanti Firhan dan Wati bisa segera mendapatkan momongan," ucap Bu Yeni dengan mengambil sedikit bedak di sana.


Setelah itu Bu Yeni pun pulang ke rumah. Dia memberikan sedikit bedak bayi dari Baby Arka kepada Wati. Memang ini hanya mitos dan tradisi saja, tetapi masyarakat Jawa pada umumnya masih mempercayai bahwa bedak bisa bisa menolak bala atau mungkin bisa membuat orang yang belum hamil atau sudah lama tidak dikaruniai anak bisa ikut hamil.


Setibanya di rumah, Bu Yeni memberikannya kepada Wati. "Wati, dipakai bedaknya. Sapa tahu tidak lama lagi kamu dan Firhan akan segera dikaruniai momongan," ucap Bu Yeni.


Hal ini pun menjadi aneh untuk Bu Yeni, sudah setahun lebih Firhan menikah, tetapi Wati belum menandakan bahwa dirinya hamil. Semakin hari yang terlihat justru hubungan Firhan dan Wati yang tidak erat dan harmonis.


"Itu mitos, Bu," balas Wati.


Walau tradisi itu terkadang dipercayai kebenarannya, tetapi Wati hanya percaya bahwa itu hanya mitos. Beberapa bubuk bedak bayi tidak akan bisa membuatnya hamil. Itu sudah dibuktikan secara medis.


"Ya, Kan sapa tahu. Tidak ada salahnya mencoba," balas Bu Yeni. Setidaknya dicoba dulu. Ada kalanya mitos pun bisa menjadi kenyataan.


"Kami tidak akan memiliki keturunan, Bu," jawab Wati kemudian.


Sebenarnya ada fakta tersembunyi yang dia tutup-tutupi. Akan tetapi, kali ini Wati akhirnya mengungkapkan bahwa dia dan Firhan tidak akan bisa memiliki keturunan. Sebagai seorang ibu dan sekaligus ibu mertua, tentu saja Bu Yeni menjadi gelisah dan juga bingung dengan apa yang terjadi. Apa yang tidak dia ketahui dari rumah tangga anaknya itu.


"Apa kamu tidak bisa punya anak, Wati?" tanya Bu Yeni.


Yang bisa Bu Yeni pikirkan adalah itu. Sebab, Firhan harusnya sehat secara biologis. Mengingat bagaimana Firhan berhasil menghamili Ervita beberapa tahun dulu. Walau sebenarnya, Bu Yeni tahu pertanyaannya ini terdengar tidak etis. Namun, rasanya juga aneh. Jika dulu Firhan bisa dengan mudah menghamili Ervita, kenapa sekarang justru dengan istrinya sendiri, Wati tidak hamil-hamil.


Belum memberi jawaban, Wati sudah berlinangan air mata. Sebenarnya ini masalah pribadi kehidupan rumah tangganya. Akan tetapi, pada kenyataannya tidak akan bisa disembunyikan terus-menerus. Minimal orang tua dan mertuanya akan bertanya kira-kira kapan dia dan Firhan akan memiliki bayi dan memberikan generasi penerus untuk kedua keluarga. Sayangnya, Wati tidak bisa terus-menerus menyimpan rahasia ini. Sebab, ketika terus-menerus disimpan, rasanya justru akan semakin sakit.


"Wati," ucap Bu Yeni dengan mengusapi punggung menantunya itu.

__ADS_1


Apakah Wati tersinggung dengan pertanyaannya? Namun, Bu Wati juga tahu bahwa masalah seperti ini begitu sensitif. Bu Yeni memilih menunggu dan mendengarkan jawaban dari Wati. Apa yang membuat Wati berkata bahwa dirinya dan Firhan tidak bisa memiliki keturunan? Siapa yang dalam kondisi tidak sehat di sini, Firhan atau Wati?


__ADS_2