
Tak sengaja bertemu di tempat orang yang berjualan Jenang Tumpang Koyor. Namun, kali ini Ervita dan Pandu lebih memilih fokus pada diri sendiri dan juga mengantri sembari mengamati orang-orang yang turut mengantri di sana.
"Kamu mau Jenang Tumpangnya, Nda?" tanya Pandu kemudian.
"Enggak Mas, aku enggak suka Tumpang. Mau dibeliin Nasi Liwet aja, Mas ... tapi yang ada di daerah Solo Baru," ucap Ervita kemudian.
Pandu pun menatap kepada istrinya itu, "Bukanya jam berapa emangnya?"
"Sore Mas ... tapi nanti sampai Jogja kemalaman yah?" tanya Ervita.
Pandu tampak menatap wajah Ervita, "Ya sudah, nanti pulang sore mampir ke Solo Baru saja. Habis itu langsung ke Jogja. Gimana, mau enggak Nda?" tanyanya.
"Yakin, enggak capek nanti Mas? Besok masih harus bekerja loh," balas Ervita.
"Ya, nggak apa-apa. Asal malam harinya dapat asupan bergizi saja, Nda," balas Pandu.
Mendengar apa yang dikatakan suaminya, Ervita pun tersenyum sembari menundukkan wajahnya. Bisa-bisanya suaminya itu memanfaatkan celah. Hingga celah yang begitu kecil pun dimanfaatkan untuk meminta asupan gizi katanya.
Keharmonisan Ervita dan Pandu rupanya diperhatikan oleh Wati di sana, bahkan sekarang dia terang-terangan berbicara kepada Firhan yang berdiri di sampingnya.
__ADS_1
"Mas, lihatin tuh ... pasangan itu kompak banget. Harmonis," ucap Wati dengan menunjuk dengan menggunakan dagunya.
"Mana? Gak ada," balas Firhan dengan terlihat sewot di sana.
"Itu, yang cowok tinggi tegap itu. Yang istrinya mengapit lengan suaminya," balas Wati yang sekarang mendeskripsikan pasangan yang berdiri tidak jauh dari tempatnya sekarang.
Sebenarnya Firhan sudah sangat tahu dengan apa yang disampaikan oleh Wati. Akan tetapi, pria itu memilih untuk pura-pura tidak tahu saja. Menurut pandangan Firhan tidak ada untungnya juga mengatakan siapa sebenarnya pasangan itu.
"Ituh, padahal hanya beberapa meter di depan kita loh. Jarak segini aja enggak lihat loh?" balas Wati yang seakan terlihat sewot di sana.
"Emang aku enggak lihat kok, lagian apa untungnya sih menginginkan apa yang dilakukan orang lain," balas Firhan dengan berbisik. Akan tetapi, pria itu sudah tampak terlihat bahwa dia mengalami emosi.
"Kenapa sih Mas ... sewot banget," balas Wati.
Walau tidak membentak, tetapi Wati cukup tahu bahwa suaminya itu sedang emosi dan sewot sekarang. Bahkan di kala dia hanya memuji pasangan yang harmonis itu saja Firhan sudah begitu sewot.
"Udah, pulang aja deh ... atau kamu mau sama pria itu juga? Sana. Memang, rumput tetangga lebih hijau dan menggoda, dibandingkan rumput di rumah sendiri," balas Firhan.
Pria itu pun memilih berjalan ke belakang dan hendak menuju ke tempat di mana sepeda motornya di parkir. Sehingga Wati pun berlarian kecil mengejar suaminya itu.
__ADS_1
"Loh Mbak ... gak jadi antri?" tanya beberapa orang di sana.
"Enggak Mas ... silakan duluan saja," balas Wati dengan menundukkan kepalanya.
Hingga akhirnya Wati berhasil mengejar suaminya, wanita itu membonceng motor suaminya dan kembali ke rumahnya. Dalam perjalanan pulang, keduanya sama-sama diam. Pun terlihat Wati yang sebenarnya kesal dengan suaminya yang marah tanpa sebab itu.
Setibanya di rumah, tampak Firhan memperlihatkan kekesalannya kepada istrinya itu. "Ngiri sama kemesraan orang lain?" tanya Firhan dengan sedikit membentak.
"Demi Allah, aku gak iri, Mas ... aku cuma menunjukkan kepada Mas Firhan saja, kalau pasangan tadi serasi dan harmonis. Suaminya tampak begitu sayang sama istrinya, dan begitu pun sebaliknya," jelas Wati.
Di dalam hatinya, dia sama sekali tidak iri. Terlebih dalam pepatah Jawa terdapat pepatah yang berbunyi 'Wong urip iku wang sinawang,' yang artinya hidup itu hanya sekadar memandang apa yang bisa dipandang. Tidak salahnya juga jika Wati memandang apa yang ada di hadapannya.
"Aja mung nyawang sing kesawang. Jangan cuma memandang apa yang terlihat oleh mata. Bisa saja yang ada di depan mata itu menipu," balas Firhan.
Bahkan pria itu pun terdengar sewot sekali kala memarahi istrinya. Dia yakin bahwa keharmonisan Ervita dan Pandu itu palsu, hanya dibuat-buat semata. Bukan keharmonisan yang alamiah.
"Kenapa sih Mas, sewot banget," balas Wati yang sudah tampak berkaca-kaca matanya.
"Perbaiki diri kamu sendiri, sudah bener belum selama ini. Tidak usah memikirkan keharmonisan kalau kamu sendiri terang-terangan menolak suamimu."
__ADS_1
Kali ini Wati sungguh sebal rasanya. Bukannya dia menginginkan rumput tetangga sebelah yang lebih segar dan lebih hijau. Dia hanya sekadar menunjukkan kepada suaminya saja. Akan tetapi, yang terjadi justru dirinya dipojokan dan dituduh yang bukan-bukan.