Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Senangnya Indi


__ADS_3

Di sela-sela anak-anak yang berbuka puasa, Ervita mendatangi Indi, menanyai apakah Indi bisa makan sendiri. Jika, Indi kesusahan untuk makan, Ervita pun akan menawarkan bantuan untuk Indi. Namun, ternyata putrinya itu bisa makan dengan baik dan tenang.


"Mbak Didi bisa makannya?" tanya Ervita.


"Bisa, Nda. Nanti dibantuin cuci tangan ya, Nda," balasnya.


Ervita menganggukkan kepalanya. Dia kemudian mengusapi kepala Indi. Tentu saja, jika untuk membantu mencuci tangan pasti Ervita akan membantu putrinya itu.


"Oke, Mbak Didi. Dihabiskan dulu makannya. Makannya pelan-pelan yah. Gak usah terburu-buru supaya perutnya tidak sakit. Nanti kalau sudah, panggil Bunda yah. Nda di sana sama Yayah, Bu Pertiwi, dan Pakdhe Damar," balas Ervita.


Akhirnya, Indi menganggukkan kepalanya. Nanti jika dia sudah selesai makan, pastilah Indi akan memanggil Bundanya dan juga meminta tolong untuk dibantu mencuci tangan. Ervita pun juga memilih kembali bergabung dengan suaminya dan Kakak iparnya.


"Bisa makan sendiri kok, Mas. Cuma nanti katanya minta dibantu cuci tangan aja," balas Ervita.


"Indi memang pinter, Dinda. Tuh, pendiemnya kayak kamu," balas Pandu.


Ervita sendiri memang sebenarnya orang yang pendiem, dan tidak banyak bicara. Namun, semua berubah setelah memiliki Indi. Dia menjadi lebih banyak bicara, karena dari kecil dia sudah menstimulasi Indi dengan sounding. Sehingga, mau tidak mau memang seorang Ibu akan berubah ketika sudah memiliki anak.


"Gak apa-apa, Mas. Penting Indi mau belajar, yang berharga itu proses belajarnya," balas Ervita.


"Bener banget, Dinda. Dia menikmati setiap proses belajarnya itu sudah bagus banget," balas Pandu.


Kemudian ketika anak-anak sudah selesai makan, kemudian mulai Bu Guru yang mengajari anak-anak untuk mencuci tangan. Ervita dan Pandu membiarkan Indi. Bukan karena tak perhatian, tapi memberi kesempatan kepada Indi untuk mencoba hal baru dan juga belajar mandiri. Sebab, untuk membentuk anak menjadi mandiri, memang orang tua yang harus memberikan ruang untuk anak-anak, memberi mereka kesempatan dan juga belajar sendiri. Lambat laun, nanti anak-anak bisa mencapai kemandirian sesuai dengan tahap usianya.


Setelah itu, anak-anak kembali duduk. Lalu Bu Guru bertanya kepada semua siswa yang ada di sana.


"Jadi, siapa di antara anak-anak semua yang berpuasa?" tanya Bu Guru.


Di antara dua puluh siswa di TK A, hanya ada dua orang anak yang menjalankan ibadah puasa. Dia adalah Indi, dan seorang anak lagi yang biasa dipanggil Flo.


"Baiklah, Indi dan Flo puasanya full sehari atau tidak?"


"Puasa Dhuzur, Bu," balas Indi dan Flo bersamaan.

__ADS_1


Bu Guru pun tampak menganggukkan kepalanya. Namun, juga senang ada anak yang belajar untuk berpuasa. Walau hanya setengah hari, tetap itu adalah niat yang baik.


"Kalau Indi dan Flo menjalankan ibadah puasa, coba ada yang hafal doa berbuka puasa tidak?" tanya Bu Guru lagi.


Sekarang, Indi yang mengangkat tangannya terlebih dahulu. "Indi bisa, Bu," ucapnya.


"Baiklah, Indi coba yuk doa berbuka puasa itu seperti apa?"


“Allahumma laka shumtu wabika amantu wa'ala rizqika afthortu birohmatika yaa arhamarrahimiin.” Arti doa buka puasa tersebut adalah: “Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa, dan dengan-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah diri, dan atas rezeki-Mu aku berbuka puasa, dengan rahmat-Mu ya Allah Tuhan Maha Pengasih.”


Bu Guru menganggukkan kepalanya dan anak-anak memberikan tepukan tangan untuk Indi. Lalu, Bu Guru bertanya lagi kepada Indi.


"Indi bisa berdoa berbuka puasa yang mengajarkan siapa?" tanya Bu Guru.


"Yayah dan Nda," balasnya.


"Nah, Mama dan Papa di sini, anak-anak juga diajari untuk belajar berpuasa dan berdoa berbuka puasa yah. Mengajari anak dengan ibadah sejak kecil, seperti Indi dan Flo. Good Job, Indi dan Flo," ucap Bu Guru.


"Semangat puasanya sampai hari Idul Fitri tiba yah," ucap Bu Guru memberi semangat kepada Indi dan Flo.


Dari jauh Ervita dan Pandu juga berbicara dengan orang tua murid yang lain. "Kok Indi bisa hafal sih?" tanyanya.


"Belajarnya pelan-pelan sih, Bu. Sama diulang-ulang," balas Ervita.


"Pinter banget ya anaknya, bisa cepat belajar," balas orang tua yang lain.


Memang belajar itu dibiasakan dari kecil. Sama seperti Ervita yang sudah membiasakan Indi untuk belajar. Ketika Indi tertarik dengan sesuatu, Ervita akan mengajari Indi, membelikan buku, dan juga menemaninya belajar. Kebiasaan seperti itu yang diterapkan Ervita di rumah.


Setelahnya, acara buka puasa bersama selesai. Indi kemudian menuju ke Yayah dan Bundanya. Membawa hadiah yang dia dapat, wajahnya tersenyum ceria. Sangat senang mendapatkan makanan dari Bu Guru.


"Yayah ..., Nda ..., Didi dapat hadiah," balasnya.


"Selamat, Mbak Didi. Hafal yah dengan berdoa berbuka puasa?" tanya Yayah Pandu.

__ADS_1


Indi pun menganggukkan kepalanya. "Iya, hafal dong, Yayah. Kan belajar setiap hari. Sering berdoa berbuka puasa di rumah bersama Yayah dan Nda," balasnya.


Setelah itu, Pandu dan Ervita mengajak Indi untuk pulang. Hari sudah mulai malam, Irene sudah terlihat mengantuk. Oleh karena itu, memang lebih baik untuk segera pulang.


"Belajar yang rajin ya, Mbak," ucap Yayah Pandu kepada Indi sembari mengemudikan mobilnya.


"Iya, Yayah. Kan Didi mau seperti Yayah yang pinter," balasnya.


Lantas, Pandu pun tertawa. "Bunda juga pinter loh. Yang mengajari Indi banyak hal kan Bunda," balas Pandu.


"Iya, Yayah. Nda juga pinter kok. Didi mau bekerja seperti Yayah," balasnya.


Ervita kemudian menganggukkan kepalanya. "Penting Mbak Didi belajar yang pinter. Kalau pinter belajar, sekolahnya rajin, nanti sekolah yang tinggi. Biar bisa jadi seperti Yayah yah," ucap Ervita.


"Iya, Nda."


Keluarga kecil itu melanjutkan perjalanan pulang dan kemudian Ervita bertanya kepada suaminya. "Masih mau mampir beli makan enggak, Yayah? Sapa tahu tadi belum begitu kenyang," tanya Ervita.


"Di rumah aja, Nda. Nanti minta tolong buatin mie instant ayam bawang dikasih telor dan cabai ya, Nda," pinta Pandu.


Rupanya Yayah Pandu ingin menikmati Mie instans dengan tambahan telor dan juga cabai yang dipotong. Ervita pun menganggukkan kepalanya.


"Iya, Yayah. Nanti dibuatin kalau anak-anak sudah bobok yah," balas Ervita.


Pandu kemudian tersenyum. "Makasih Nda ... Love U," balasnya.


Indi kemudian menyahut suara Ayahnya yang kala itu juga dia dengar. "Love U Yayah," sahut Indi.


Semua yang ada di dalam mobil pun tertawa. Termasuk Irene yang turut memanggil-manggil Yayahnya.


"Ya ... yah. Yah!"


Irene bersuara dengan keras, memanggil nama Yayah nya itu. Pandu pun tertawa. Di keliling keluarga yang baik, begitu mudahnya merasakan kebahagiaan.

__ADS_1


__ADS_2