Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Tidakkah Sakit?


__ADS_3

Terengah-engah, itulah yang dirasakan Ervita dan Pandu sekarang ini. Mungkin karena dua pekan tidak bercinta, dan sekarang saling meluapkan rasa itu membuat Pandu bak hilang kendali. Pun Ervita yang benar-benar hanyut dalam harmoni yang indah. Keduanya meledak dan juga pecah.


Cukup lama, mereka menetralkan deru nafas mereka, hingga akhirnya, Pandu memeluk Ervita dan merapikan untaian rambut Ervita. Merasakan perasaan tenang untuk bisa mendekap erat tubuh Ervita tanpa jarak dan tanpa batas seperti ini. Ketika Ervita ada di dalam pelukannya, rasanya Pandu menjadi pria paling tenang sedunia.


"Maaf Dinda ... aku lupa, baby kita. Sakit enggak perut kamu?" tanyanya.


Ya, Pandu merasa dia terlalu bersemangat. Sampai berbagai gaya dia lakukan untuk menapaki puncak Swargaloka.


"Enggak sakit ... biasa, aku lemes dan haus Mas," balasnya.


Pandu menganggukkan kepalanya dan kemudian menggendong Ervita terlebih dahulu dan memindahkannya dari sofa menuju ke ranjang. Dengan hati-hati, Pandu menempatkan Ervita di ranjang. Usai itu, dia membersihkan sisa-sisa percintaan mereka terlebih dahulu, barulah kemudian Pandu mengambilkan air minum untuk Ervita.


"Minum Nda," ucapnya.


Ervita mengulurkan tangannya dan menerima air minum dari suaminya itu. Pelan-pelan dia meminumnya, hingga air putih itu bisa membasahi tenggorokannya yang kering. Setelahnya, Ervita kembali tiduran di tempat tidur, pun Pandu yang segera menyusul Ervita. Keduanya bergelung dalam satu selimut.


"Yakin perut kamu tidak apa-apa Nda? Kram gitu enggak?" tanya Pandu kemudian.


"Kelihatannya sih gak apa-apa kok Mas, adik bayi baik-baik saja," balas Ervita.


Tangan Pandu bergerak dan mengusapi perut istrinya yang memang terlihat masih rata itu. "Perut kamu masih rata, tapi ada kehidupan baru di sini. Maaf, aku beneran lupa tadi," balas Pandu yang seketika merasa menyesal.


"Tidak apa-apa kok Mas ... aku mau mandi dulu ya Mas ... lengket banget," balas Ervita.


"Barengan aja. Biar lebih cepat," balasnya.

__ADS_1


"Suma mandi saja ya Mas ... aku gak kuat lagi deh, kalau sampai lagi," balas Ervita.


"Iya-iya, Nda ... cuma mandi. Tidak akan nakal lagi," balasnya dengan tertawa.


Tidak menunggu lama, keduanya pun menuju ke dalam kamar mandi. Membersihkan tubuh keduanya dari sisa-sisa percintaan yang membuat tubuh keduanya berpeluh. Cukup lima belas menit saja, Ervita sudah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar dan rambut yang masih setengah basah di sana. Ibu hamil itu cepat-cepat mengeringkan rambutnya dan mengaplikasikan krim di wajahnya. Setelahnya, dia memilih kembali menaiki ranjang.


"Ah, sudah segar ... udah, mau ngapain Dinda?" tanya Pandu kemudian kepada istrinya itu.


"Mau bobok sebentar boleh Mas? Capek," balasnya.


Pandu tampak menganggukkan kepalanya, "Boleh saja ... aku peluk Dinda," balasnya.


Pria itu membawa istrinya untuk mengambil posisi ternyamannya di dadanya, dan tangannya bergera mengusapi rambut Ervita. Tubuh yang segar, AC di kamar yang terasa dingin, berpadu dengan aroma parfum yang dikenakan Pandu agaknya menjadi kombinasi sempurna bagi Ervita untuk cepat memejamkan matanya. Terlebih usapan tangan Pandu di kepalanya membuat Ervita bak dinina bobokkan.


Pandu nyatanya tidak turut tertidur, tetapi dia mengamati wajah Ervita di sana. Tangannya kini bergerak dan mengusapi sisi wajah Ervita. Lebih menunduk, Pandu pun mengecup bibir Ervita di sana.


"Aku cinta banget sama kamu, Dinda ... lebih dari yang kamu tahu. Jangan merasa tersakiti dengan masa lalu kamu. Sebab, bagiku masa kini dan masa depan bersamamu adalah yang jauh lebih penting. Semua orang punya masa lalu, Nda ... Entah itu baik atau buruk, masa lalu tetaplah masa lalu. Jangan dimasukkan hati setiap penilaian dari orang lain. Sama seperti aku yang tidak menghiraukan penilaian orang lain terhadapku. Dulu, teman-temanku menilaiku cemen lah, tidak berani menyentuh wanita, bahwa meragukan kepriaanku. Aku mengabaikan semua itu, karena aku yakin bahwa diriku masih dan sangat normal. Kamu, adalah pasangan terbaik untukku. Aku cinta banget sama kamu, Dinda."


Pandu bergumam lirih dalam hatinya sembari mengusapi kening Ervita di sana. Ini adalah perasaan yang Pandu rasakan bahwa memang inilah rasa yang bisa dia miliki untuk Ervita. Perasaan yang sangat besar, bahkan Pandu ketika sudah bersama Ervita seakan lupa dengan masa lalu Ervita, Pandu pun bisa menerima Indi apa adanya, sebagai putrinya.


Kurang lebih hampir dua jam berlalu, terdengar ketukan di pintu rumah Pandu. Pandu yang tidak tertidur pun tahu ada orang yang datang ke rumah. Oleh karena itu, dia segera keluar dari kamar tidurnya dan melihat siapa yang datang ke rumah dan membukakan pintu.


"Ndu ...."


Tak lain dan tak bukan adalah Bu Tari, Ibunya Pandu yang datang ke rumah dengan menggandeng tangan Indi.

__ADS_1


"Loh, Buk ... padahal nanti sore mau Pandu jemput," balasnya.


"Iya, Indi sudah mau pulang. Ngantuk katanya," balas Bu Tari kemudian.


Bu Tari tampak mengamati rumah Pandu yang terlihat sepi itu kemudian bertanya kepada putranya. "Kok sepi ... Ervi di mana?" tanyanya.


"Ervi tidur, Nda ... katanya ngantuk tadi," balasnya.


"Oh, iya ... hamil muda kadang juga merasa ngantuk banget, Ndu ... jadi ya, biarkan saja ... ibu hamil juga butuh istirahat," balas Bu Tari.


"Iya, Bu ... abis jalan-jalan di Prambanan juga tadi, makanya kecapekan. Pandu enggak tidur, cuma jagain dia saja," balasnya lagi.


Bu Tari pun terkekeh perlahan di sana, "Bucin kamu, Le," balas Bu Tari.


"Memang Bu ... Pandu rasanya cinta banget sama Ervi dan ingin selalu menjaga dan membahagiakan Ervita." Pria itu menjawab dengan sungguh-sungguh. Dia mengatakan perasaannya kepada ibunya. Pun bagi Bu Tari yang baru kali ini mendengarkan Pandu yang mengucapkan perasaannya.


"Ya, orang omah-omah, membangun rumah tangga itu yang saling sayang satu sama lain. Suami sebaiknya melindungi istrinya, disayangi istrinya. Memperkuat ikatan cinta, sehingga sewaktu-waktu jika ada badai menerpa, kalian bisa terus kuat dan saling bergandengan tangan. Semua rumah tangga punya masalah dan halangan sendiri-sendiri. Jika dalam membinanya tidak ada cinta dan juga memupuk semua kebaikan. Angel Le ... susah. Maka dari itu, dijaga baik-baik Ervita, Indi, dan bayi kamu nanti," balas Bu Tari.


Tampak Pandu menganggukkan kepalanya, "Iya Bu ... Pandu pasti akan menjaga Ervita, Indira, dan bayi kami nanti," balas Pandu.


"Bagus, Ndu ... menjadi pria dan suami yang tanggung jawab. Sama jangan nakal-nakal sama Ervita, baru hamil. Kasihan," ucap Bu Tari lagi kepada Pandu di sana.


Untuk masalah nakal, Pandu hanya bisa menganggukkan kepalanya saja. Sebab, tubuhnya selalu saja bereaksi aneh ketika bersama Ervita. Begitu mudahnya tersulut, bahkan sekadar puasa lama saja Pandu tidak bisa. Mungkin inilah rekor terlamanya berpuasa dua pekan lamanya usai menikah dengan Ervita. Itu pun juga karena dia merasa takut jika hormon Postaglandin dalam lava pijarnya bisa membuat buah hatinya pusing di dalam rahim Ervita.


"Iya Bu ... walau sebenarnya pengen nakalin. Cuma bakalan ditahan," balas Pandu.

__ADS_1


Bu Tari pun tertawa dan menepuk lengan anaknya itu, "Ya sudah ... Ibuk pulang yah. Hati-hati di rumah," balasnya.


Sepeninggal Bu Tari, Pandu menggendong Indi ke dalam dan menidurkan Indi terlebih dahulu. Begitu Indi terlelap, barulah Pandu pindah dan berbaring di sisi Ervita. Mungkin Pandu memang harus berhati-hati, yang dikatakan oleh Ibunya benar, tidak boleh terlalu nakal dengan Ervita. Walau sebenarnya, hasratnya selalu membara ketika bersama dengan Ervita.


__ADS_2