
Di akhir pekan ini, rupanya Bu Tari dan Pak Hadinata ingin mengajak Pandu, Ervita, dan Indi untuk berwisata bersama. Memang kali ini keluarga Pertiwi tidak turut serta, karena Pertiwi berada di Lampung, dan baru akan kembali menjelang liburan akhir tahun nanti.
“Jalan-jalan sama Eyang ya Indi, mumpung Eyang libur jualannya,” ucap Bu Tari yang kini sudah memangku Indi dan mereka merencanakan untuk mengunjungi Sindu Kusuma Edupark di area Sleman, Jogjakarta.
“Ya. Yang,” balas Indi dengan menganggukkan kepalanya.
“Kalian juga sering-sering main. Jangan hanya di rumah saja, biar bahagia,” ucap Bu Tari kepada Pandu dan Ervita.
“Iya Bu … soalnya Mas Pandu juga banyak pekerjaan, penjualan batik juga sedang naik,” balas Ervita.
“Bapak itu kalau melihat kalian kok kasihan. Menikah saja tanpa pacaran, tidak bulan madu, udah gitu sukanya hanya di rumah. Sering-sering main, walau hanya di dalam kota,” ucap Pak Hadinata.
"Di rumah bertiga dengan istri dan Indi, sudah bahagia, Pak," balas Pandu dengan mengemudikan mobilnya.
Memang begitulah Pandu, menghabiskan sore hari dan akhir pekan di rumah bersama Ervita dan Indira rasanya sudah begitu bahagia. Pun demikian dengan Ervita dan Indira yang merasakan kebahagiaan dengan hadirnya Pandu di tengah-tengah keluarga mereka. Ervita yang menemukan sosok suami dan pendamping hidup yang begitu melengkapinya, serta Indi yang menemukan sosok seorang Ayah dalam diri Pandu.
Bagi Ervita dan Pandu, kebahagiaan dimulai dari dalam rumah. Suami dan istri yang saling mencintai, serta membagikan cinta itu untuk anaknya. Rumah yang bukan hanya sekadar tempat berteduh, tetapi juga tempat mengekspresikan cinta. Jika sudah mendapatkan kebahagiaan dari dalam rumah, maka yang ada setiap anggota keluarga yang tinggal di rumah itu akan merasa nyaman dan merasakan kebahagiaan yang penuh dalam hatinya.
"Pancen bagus, Ndu … diajak refreshing juga tidak apa-apa. Membahagiakan anak dan istri," balas Pak Hadinata.
"Nggih Pak," balas Pandu dengan menganggukkan kepalanya.
Ervita pun tersenyum, "Ervi selalu bahagia dengan Mas Pandu kok Bapak, Mas Pandu baik banget," balas Ervita.
"Bapak ikut senang. Semoga rukun sampai tua. Rumah tangga itu tidak ada yang sempurna, tetapi bisa saling mengerti dan melengkapi satu sama lain. Kalau mencari rumah tangga yang sempurna itu tidak ada."
Ya, setiap pasangan memiliki idealisme sendiri-sendiri. Tujuan yang hendak dicapai masing-masing pasangan pun berbagai macam. Hanya saja, Pak Hadinata mengatakan bahwa kunci membina rumah tangga adalah saling mengerti dan saling melengkapi.
"Bapak dan Ibu bisa awet sampai 32 tahun menikah itu juga karena saling mengerti dan saling memahami. Kalau yang satu berbicara, yang satu mendengarkan. Kalau yang satu sedang marah, yang satu mendinginkan. Intinya itu saling. Semoga kalian berdua juga begitu," balas Pak Hadinata.
"Amin Bapak, doakan kami berdua," balas Ervita.
Mobil yang dikemudikan Pandu pun tiba di Sindu Kusuma Edupark dan kemudian Pandu terlihat menggandeng tangan Indira, mengajaknya berwisata edukasi bersama di Edupark itu.
"Sana, kalian bertiga jalan-jalan. Bapak dan Ibu nunggu di sini yah, mau lihat koleksi Batik," ucap Bu Tari.
Memang di Sindu Kusuma Edupark terdapat Omah Batik yang sudah seperti Museum Batik yang mempelajari berbagai macam motif Batik, serta ada kisah perjalanan Batik dari dulu sampai sekarang.
__ADS_1
"Nanti telepon saja ya Bu," balas Ervita.
"Iya-iya, diseneng-senengkan hatinya. Dinikmati liburannya," pesan dari Pak Hadinata kepada Pandu dan Ervita.
"Nggih Pak," sahut Pandu dengan menggandeng tangan Ervita di sana.
Bu Tari dan Pak Hadinata yang melihat Pandu menggandeng tangan Ervita dan Indira benar-benar bahagia. Dulu mereka kira, bahwa Pandu akan menutup hatinya dan mungkin akan melajang selamanya. Rupanya ada Ervita, wanita sederhana yang bisa menyemikan bunga cinta di dalam hati Pandu.
"Melihat Pandu bahagia, orang tua juga bahagia ya Pak," ucap Bu Tari.
"Iya Bu, semoga Pandu dan Ervita juga segera diberikan momongan. Biar kian erat rumah tangganya. Indi juga memiliki adik," balas Pak Hadinata.
"Amin Pak, semoga saja. Dulu Ibu pikir apa Pandu terlanjur sakit hati sampai tidak mau pacaran bertahun-tahun lamanya. Akhirnya Pandu bisa memberikan perhatian untuk Ervita, dan kini bahagia dengan Ervita dan Indira."
Bu Tari benar-benar bahagia. Dia pikir anaknya akan menutup pintu hatinya. Ternyata hati Pandu justru jatuh pada sosok Ervita. Di dalam hatinya semoga kebahagiaan yang yang sekarang dirasakan oleh Pandu akan bertahan untuk selamanya.
“Itu pa Yayah?” tanya Indi dengan menunjuk sebuah wahana yang ada di Edupark itu.
“Itu Bianglala, seperti The Eye … Indi mau naik?” tanya Pandu.
Memang di Sindu Edupark ada bianglala raksasa yang kabarnya adalah bianglala tertinggi di Indonesia. Ketika menaiki kapsul ini semua yang ada di wilayah Sleman akan terlihat, dan juga Gunung Merapi yang agung akan terlihat juga.
Jika anak kecil akan taku ketika menaiki bianglala dan juga takut dengan ketinggian, tetapi tidak dengan Indira yang justru excited dan ingin menaiki kapsul di bianglala itu. Pandu pun menganggukkan kepalanya, “Boleh, Ayah beli tiketnya dulu yah,” balasnya.
“Mas, aku takut ketinggian loh,” balas Ervita kemudian.
“Jangan takut yah … ada aku kok, pegangan tangan aku saja,” balas Pandu.
Akhirnya mau tidak mau, Ervita pun menganggukkan kepalanya karena memang Indira sudah mengajaknya menaiki wahana itu. Setelah membeli tiket, mereka dipersilakan memasuki sebuah kapsul, ada Indi yang duduk manis di dalam pangkuan Pandu, sementara Ervita duduk di samping suaminya.
Tangan membawa tangan Ervita untuk berpegangan di lengannya, karena kedua telapak tangannya akan memegangi Indi. Ervita pun akhirnya mengalungkan tangannya di lengan suaminya itu. Hingga akhirnya, perlahan-lahan bianglala itu bergerak, jika Indi terlihat senang, sementara Ervita justru takut dan kian mengerangkan pegangannya di tangan suaminya itu.
“Naik Yayah,” suaranya Indi menggema di dalam kapsul itu.
“Benar, Nak … kita mau di ketinggian nih. Seneng enggak?” tanya Pandu.
“Iyah … seneng,” balas Indi dengan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Sementara Pandu melirik ke istrinya, ketika Ervita sedikit memejamkan matanya dan kepalanya sedikit bersandar di lengan Pandu.
“Seru loh Nda … kamu pernah naik pesawat? Ini kayak naik pesawat gitu, bisa melihat ketinggian,” ucap Pandu.
Ervita pun menggelengkan kepalanya, “Aku belum pernah naik pesawat,” balasnya.
“Serius, belum pernah naik pesawat?” tanya Pandu lagi.
“Iya,” balas Ervita.
“Tuh, lihat Gunung Merapi yang terlihat dari sini,” balasnya.
“Gunung Yah … mana?” tanya Indira.
Akhirnya Pandu menunjukkan Gunung Merapi yang berdiri dengan megah yang memang terlihat dari ketinggian. Kemudian Pandu berbisik lirih kepada Ervita, “Ingat Gunung Merapi, ingat apa Sayang?” tanyanya.
Ervita pun tersenyum tipis di sana, “Ingat kamu, Mas,” balasnya lirih dengan mencubit lengan suaminya itu.
Pandu lantas tertawa, “Mau lagi? Kita bisa menginap di Abhaya Giri,” balasnya.
Ervita pun menggelengkan kepalanya, “Di rumah saja,” balasnya.
“Di kamar mantan jejaka juga bisa,” balas Pandu.
“Sssttss, jangan aneh-aneh, nanti Indi dengar,” balas Ervita kemudian.
Pandu pun tersenyum dan mengusapi puncak kepala Indira. Lantas mereka bertiga bernyanyi lirih naik-naik ke puncak gunung, karena lagu itu adalah lagu anak-anak kesukaan Indira sekarang. Menaiki kapsul di bianglala begitu menyenangkan dan Indira terlihat begitu senang. Setelahnya, mereka turun dan mengajak Indira melihat wahana lainnya.
Tujuan mereka adalah ke Omah Musik, ingin menunjukkan berbagai jenis alat musik kepada Indira. Ketika mereka hendak kesana, ada sosok wanita cantik yang mengenali Pandu dan juga menyapanya.
“Hei, Ndu … Pandu ….”
Baik Ervita, Pandu, dan Indi sendiri atensinya teralihkan kepada sosok wanita yang memang begitu cantik itu. Dari wajahnya yang cantik dan kulitnya glowing, penampilannya yang terlihat bahwa dia bukan dari kalangan biasa.
Akan tetapi, Pandu justru memilih diam dan bersikap biasa saja. Pandu lebih fokus dengan menggendong Indira dengan satu tangannya, dan tangan yang lainnya tengah menggandeng tangan Ervita di sana.
“Lupa sama aku, Ndu?” tanya wanita itu.
__ADS_1
Ervita pun menengadahkan wajahnya dan melihat kepada sosok Pandu yang terlihat biasa saja. Hal ini membuat Ervita bertanya-tanya dalam hati, siapa sebenarnya wanita cantik yang menyapa suaminya itu? Di mata Ervita, wanita itu begitu cantik, bahkan dirinya pun kalah dan tidak ada apa-apanya. Sementara Pandu sendiri hanya menunjukkan wajahnya yang datar dan penuh keengganan. Siapa sebenarnya wanita itu?