
Malam harinya ketika Indi sudah tertidur. Rupanya, Irene masih terbangun. Bayi kecil itu, kini ditimang oleh Ervita. Kemudian Ervita mengamati wajah mungil bayinya, dengan matanya yang bulat dan terlihat jernih itu.
"Tumben Irene belum bobok?" tanya Pandu kepada istrinya.
"Iya, Mas ... malahan bersuara, babbling gini. Lucu," balas Ervita.
"Sini biar aku yang gendong, Sayang," balas Pandu.
Sekadar menggantikan istrinya. Selain itu, juga Pandu tergerak untuk bisa menggendong Irene. Bayi kecilnya yang begitu disayanginya. Sekaligus melakukan bounding dengan bayinya itu.
"Boleh ... ikut Yayah dulu ya Sayang. Bunda ke kamar mandi dulu sebentar yah," ucap Ervita.
Ervita pun kemudian menyerahkan Irene ke tangan suaminya. Kemudian berpamitan kepada Pandu untuk ke kamar mandi terlebih dahulu.
Tampak Pandu menimang Irene dan kemudian mengajak bicara bayinya itu. "Tumben Dedek kok jam segini belum bobok sih? Sudah jam delapan malam. Dulu, saat Mbak Didi sekecil ini, Yayah sering dengar Bunda kamu menyanyikan lagu untuk Mbak Didi. Yang paling menggerus hatinya Yayah adalah saat Bunda Ervi melantunkan lagu Kasih Ibu. Yayah yang ikut mendengarkan dari luar pendopo saja, bisa terenyuh mendengarnya. Sehat-sehat ya Dik Irene. Nanti Adik jadi teman bermainnya Mbak Didi yah. Saling sayang, saling mempedulikan satu sama lain," ucap Pandu.
Lantas, Pandu menyentuhkan jari telunjuknya ke tangan mungil Irene, dan ternyata Irene menyambut dengan menggenggam jari Ayah. Di sana, Pandu tersenyum.
"Putrinya Yayah dan Nda," ucapnya lirih.
Namun, tak berselang lama, Irene justru menangis. Wajahnya memerah, dan bibirnya yang turun dan terlihat lucu. Pandu tersenyum melihat ekspresi tangisan Irene. Akan tetapi, Pandu tidak mau memanggil Ervita, memberi waktu untuk Ervita menyelesaikan di dalam kamar mandi. Si Ayah memilih untuk berdiri dan kemudian berjalan ke sana-kemari untuk menenangkan Irene. Sayangnya, Irene justru semakin menangis.
__ADS_1
Naluri keibuan Ervita pun tergugah. Dia segera menyelesaikan urusannya di dalam kamar mandi dan kemudian mendekat ke suaminya.
"Cup cup cup ... ikut Yayah kok nangis sih. Sini, sama Bunda," ucapnya.
Pandu pun menyerahkan Irene ke gendongan Bundanya, kemudian Ervita memilih duduk dan kemudian mulai memberikan ASI untuk Irene. Wanita itu membuka kancing piyamanya, dan memberikan ASI untuk Irene. Hanya sekadar mendapat ASI saja, tangisan Irene menjadi reda. Sampai Pandu geleng kepala dibuatnya.
"Cuma menangis saja, terus dapat ASI nangisnya terus diam ya, Nda," ucapnya.
"Iya, Mas ... yang bayi butuhkan kan juga ASI," jawab Ervita.
Pandu kemudian mengamati Ervita yang tengah memberikan ASI untuk Irene. Melihat lebih dekat bagaimana seorang ibu memberikan nutrisi pertama yang dibutuhkan seorang bayi itu. Takjud bagaimana seorang ibu, yaitu istrinya mencurahkan kasih sayang dan juga bentuk perhatian seorang ibu kepada anaknya.
"Seorang ibu yang memberikan ASI untuk bayinya itu sangat luar biasa ya, Nda ... katanya setetes air susu ibu itu sangat berharga. Itu benar, karena kandungan nutrisi dan juga wujud kasih sayang. Luar biasa," ucap Pandu dengan memperhatikan istrinya yang sedang memberikan ASI untuk Irene.
"Dulu waktu memberikan ASI untuk Indi juga seperti ini ya, Nda?" tanyanya.
Ervita pun menganggukkan kepalanya. "Benar ... ya seperti ini, Mas. Bedanya, dulu aku melakukan semuanya sendiri. Memberikan ASI sendiri, begadang sendiri. Sekarang kan, aku ada yang menemani. Kalau begadang malam, juga ada kamu yang menemani juga. Makasih Mas Pandu, sudah membuatku lebih nyaman dan bahagia," ucapnya.
Ervita adalah seorang yang selalu mengucapkan terima kasih kepada suaminya. Untuk perhatian dan kasih sayang Pandu. Walau itu adalah perhatian kecil, tapi Ervita selalu mengucapkan terima kasih kepada suaminya itu. Baginya, apa yang dilakukan suaminya adalah sangat berarti untuknya.
"Sama-sama, Nda ... aku justru yang berterima kasih karena kamu mau mendampingi aku. Sekarang, aku akan selalu mendampingi kamu, Dinda. Mensupport Busui ini supaya bisa lancar meng-ASI-hi sampai Irene berusia 2 tahun nanti," balas Pandu.
__ADS_1
"Iya, Mas ... semoga bisa lulus S2 untuk Irene, sama seperti Indi dulu," balasnya.
"Rasanya waktu baby minum ASI itu rasanya gimana, Nda?" tanya Pandu kemudian.
"Ya, kalau masih baby gini ya geli saja, Mas. Beda nanti kalau sudah tumbuh gigi, bisa digigit. Serasa digigit baby shark," balas Ervita dengan menggelengkan kepalanya.
Mendengar apa yang baru saja disampaikan oleh Ervi, Pandu pun bergidik ngeri. Tidak bisa membayangkan bagaimana gigitan baby shark itu.
"Sakit yah berarti?" tanya Pandu.
"Ya, iya Mas ... cuma ya dinikmati saja."
Pandu kemudian tersenyum, karena sembari mereka mengobrol, nyatanya Baby Irene sekarang sudah tertidur. Sehingga, memang sekarang Ervita meminta tissue kepada suaminya, dan membersihkan bagian puncak buah persik miliknya, dan kemudian memasukkannya kembali. Setelahnya, barulah Ervita menidurkan Baby Irene di box bayi yang ada di samping tempat tidurnya. Sebuah kecupan diberikan Ervita di kening putrinya itu.
"Selamat tidur putri kecilnya Yayah dan Nda," ucap Ervita.
"Yayah, Nda, dan Mbak Didi selalu sayang kamu," ucap Pandu.
Setelahnya, mereka berdua juga harus beristirahat. Memang lebih baik ketika memiliki bayi, saat bayi tidur, ibu ikut tidur. Sebab, ketika malam nanti seorang Ibu juga harus begadang untuk memberikan ASI untuk bayinya.
"Sudah, Nda ... bobok. Istirahat dulu, nanti kalau Irene bangun, aku bangunin kamu," balasnya.
__ADS_1
"Iya, Mas ... peluk yah Mas. Sama dua hari lagi anterin ke Rumah Sakit untuk kontrol jahitan ya, Mas," ucap Ervita.
"Tentu, Nda ... nanti aku anterin untuk kontrol jahitan. Sehat selalu Ndanya Didi dan Irene, Love U."