
Dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama, Ervita mendapatkan kabar dari keluarganya di Solo bahwa adiknya sudah melahirkan seorang bayi laki-laki. Sebagai seorang Kakak, Ervita pun ingin mengunjungi adiknya. Akan tetapi, Ervita berbicara terlebih dahulu kepada suaminya dan menyampaikan niatannya.
"Mas, mau bicara sebentar boleh?" tanya Ervita kepada suaminya itu.
"Tentu boleh... Dinda mau bicara apa sama Kanda?"
Pandu menjawab dengan berurai senyuman di wajahnya. Ketika dia menyebut kata Kanda, terlihat wajah Ervita bersemu merah, dengan kedua matanya yang menyipit. Membuat Pandu gemas rasanya.
"Ish, apa sih, Mas ... malu," balas Ervita.
"Ndak usah malu, aku juga udah lihat kamu luar dalam. Jadi, mau cerita apa?"
"Begini Mas, Mei sudah melahirkan di Solo. Mau enggak anterin aku ke Solo. Satu hari saja, Mas. Tidak usah menginap, aku pengen nengokin keponakan pertamaku," ucap Ervita.
Hanya karena ingin menengok keponakan saja, Ervita mau kalau hanya satu hari saja di Solo. Selain itu, Ervita juga tahu bahwa usia kandungannya sudah delapan bulan. Oleh karena itu, dia tidak meminta menginap. Satu hari saja berada di Solo.
"Kandungan kamu sudah besar tuh, Nda ... aku malahan yang khawatir," balas Pandu.
Tidak dipungkiri karena kandungan Ervita yang kian membesar, dia khawatir jika mengajak Ervita. Terkhusus ke luar kota. Jarak tempuh Jogja ke Solo bisa mencapai dua jam perjalanan. Oleh karena itu, sebenarnya Pandu merasa khawatir.
"Pakai videocall dulu saja gimana? Kandungan kamu sudah 38 minggu. Apa pun bisa terjadi, persalinan bisa datang kapan saja," balas Pandu.
Bukan bermaksud tidak mau mengantar Ervita. Akan tetapi, memang usia kandungan Ervita sudah memasuki 38 minggu. Kian dekat dengan Hari Perkiraan Lahir. Selain itu juga, Dokter berkata di usia kandungan 39 minggu saja, bisa siap melahirkan.
"Yah, padahal aku pengen ketemu secara langsung," balas Ervita.
"Pulang ke Solo, kalau bayi kita sudah lahir saja. Minimal sudah 40 hari bayinya, nanti ke Solo. Kalau sekarang, ditahan dulu. Gimana? Demi kebaikan kamu dan buah hati juga," balas Pandu.
Sekali lagi ini bukan egoisnya seorang Pandu, tetapi dia ingin istrinya melahirkan di Jogja. Di Rumah Sakit yang biasa dia datangi untuk memeriksakan kandungan. Lagipula, Dokter Arsy juga siap untuk membantu Ervita bersalin.
__ADS_1
"Ya sudah deh," balas Ervita.
Menyadari jika pertimbangan suaminya itu benar. Hanya saja, ada rasa sedih dan kecewa karena tidak bisa pulang ke Solo. Akhirnya, Ervita pun memilih pergi ke kamarnya, meninggalkan Pandu yang kala itu ada di ruangan kerjanya. Melihat kepergian Ervita, Pandu tahu bahwa istrinya itu tengah kesal. Namun, bagaimana lagi semuanya juga untuk kebaikan Ervita.
Pandu juga kemudian berdiri dan mengikuti Ervita untuk masuk ke dalam kamarnya. Di dalam kamar dia melihat Ervita yang berbaring miring dengan menangis di sana. Walau tanpa suara, tapi terlihat jelas bahwa Ervita tengah menangis. Pandu pun merasa sedih juga. Niatannya baik, tapi karena istrinya baru hamil yang tentu lebih sensitif dan juga ingin bertemu keponakannya, sehingga menjadi menangis sekarang. Pandu pun menaiki ranjang mereka perlahan-lahan.
"Dinda," panggilnya lirih kepada sang istri.
Akan tetapi, Ervita tak bergeming. Dia memilih untuk menyembunyikan wajahnya. Sementara di hati Ervita sendiri, dia berpikir ini anak pertama adik kandungnya. Sebagai seorang kakak, dia juga ingin menyambut keponakannya. Namun, bagaimana lagi jika suaminya tidak memberikan izin. Dia pikir Pandu akan mengabulkan permintaannya, toh Ervita juga tidak mau menginap. Cukup sehari saja, itu sudah sangat cukup untuk Ervita.
"Kok malahan nangis," ucap Pandu dengan memeluk istrinya itu dari belakang.
Namun, sekarang pun Ervita tidak menjawab. Dia masih menangis dan menyeka sendiri buliran air mata yang jatuh di wajahnya. Walau tadi sudah bisa menerima, di hatinya tetap saja kecewa.
"Dinda, aku kan mempertimbangan kondisi kamu dan anak kita juga. Dokter bilang kalau pengen melahirkan secara normal, kita tinggal nunggu tanda-tandanya dari si baby saja. Di usia 39 minggu pun bayi sudah siap dilahirkan karena organ tubuh internalnya sudah sempurna. Jadi, kamu harusnya sudah stay di rumah, Nda. Bersiap untuk menunggu gelombang tanda cinta dari adik bayi nanti," jelas Pandu.
Bahkan pria itu memberikan penjelasan dan pengertian dengan begitu sabar. Mungkin saja memang istrinya sedang fase merajuk, sehingga di saat seperti ini Pandu yang harus lebih sabar. Berusaha memberi pengertian dan menenangkan Bumilnya yang sedang menangis itu.
Cukup lama Pandu dengan begitu sabar menenangkan Ervita. Hingga akhirnya, Ervita pun menganggukkan kepalanya. Hanya merespons dengan menganggukkan kepala.
"Maaf yah ... bukan maksudku gak mau nganter kamu pulang ke Solo. Cuma, kita sendiri juga sedang masa menanti kapan waktu persalinan itu. Jadi, sabar dulu," balas Pandu.
"Hmm, iya," balas Ervita.
Setelah mendengar istrinya itu mau bersuara. Akhirnya Pandu merasa lebih lega. "Anaknya Mei cowok atau cewek? Siapa namanya?" tanya Pandu kemudian.
"Cowok," balas Ervita singkat.
"Wah, keponakan kita dua-duanya cowok yah. Besok kita videocall Mei yah? Biar aku yang minta maaf ke Mei dan Tanto karena belum bisa pulang ke Solo," ucap Pandu.
__ADS_1
Kali ini Ervita juga merespons dengan menganggukkan kepalanya. Walau sebenarnya Ervita masih menangis. Masih kecewa tidak bisa pulang ke Solo.
"Sini, hadap aku dong ... sini, Dinda," ucap Pandu.
Ervita sebenarnya menolak. Dia masih tidak ingin berhadapan dengan suaminya. Namun, Pandu tak kurang akal. Dia yang turun dari ranjang dan berbaring di depannya Ervita. Sehingga Pandu bisa melihat Ervita dengan wajahnya yang basah berurai air mata.
"Tuh, pasti nangis kan ... aku sudah tahu," ucap Pandu dengan menyeka sisa-sisa air mata di wajah istrinya. Pria itu mendekatkan wajahnya dan mengecup kening Ervita di sana.
"Aku itu berpikir dan mempertimbangkan semuanya untuk kamu, Dindaku Sayang. Amit-amit aja, jangan sampai kerasa melahirkan waktu kita di jalan. Bakalan gak kebayang dengan paniknya kita berdua nanti," balas Pandu.
Ervita masih diam, dengan air matanya yang sesekali berlinang. Akan tetapi, dia pun paham maksud suaminya itu. Jika kerasa melahirkan di jalan juga sangat berbahaya dan membuat panik.
"Maaf yah ... nanti kalau si baby sudah lahir, kita nginep di Solo. Mau?"
"Iya," balas Ervita singkat.
"Masih marah?" tanya Pandu.
"Gak," balas Ervita
"Masih sebel?"
"Gak."
"Yakin, kalau gak marah dan gak sebel, sayang dulu," balas Pandu.
Akan tetapi, Ervita menggelengkan kepalanya. Pandu tertawa dan mendekap erat istrinya itu. Pandu sangat tahu Ervita masih kecewa dengannya.
"Jangan marah, Bumil harus bahagia. Maafkan suamimu ini yah. Semua demi kebaikanmu juga. Untuk Nda dan baby kita."
__ADS_1
Tidak ada niatan apa pun. Jika, usia kandungan Ervita tidak menjelang persalinan pun, Pandu sudah pasti mau untuk mengantar istrinya pulang ke Solo. Namun, sekarang prioritasnya adalah Ervita dan kehamilannya dulu.