Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Penyumbatan Iskemik


__ADS_3

Suasana malam itu di rumah Firhan menjadi begitu riuh, teriakan minta tolong, dan kepanikan membuat tempat itu menjadi mencekam. Suara tape Recorder yang biasa dibunyikan ketika ada orang yang memiliki kerja pun perlahan dimatikan. Fokus para tamu dan tetangga kini beralih kepada melemahnya kondisi Pak Supri. Isak tangis dan suara minta tolong dari Bu Yeni dan Firhan yang lebih terdengar.


Juga ada Bapak Agus yang turut dalam kumpulan tetangga yang kala itu datang. Dengan mata kepalanya sendiri dia melihat bagaimana keluarga Pak Supri mendapatkan malu. Bahkan Pak Agus juga melihat bagaimana Pak Supri yang perlahan jatuh.


"Ayo, ditolong," ucap Bapak-Bapak yang ada di sana.


Ada tetangga yang mencarikan ambulance, ada yang berupaya menahan berat tubuh Pak Supri, dan juga meminta orang untuk tidak berkerumun dan membiarkan Pak Supri mendapatkan oksigen yang banyak.


"Bagaimana ambulance-nya?" tanya seorang Bapak yang tak lain adalah Pak RT di sana.


"Dalam perjalanan," teriak seorang Bapak yang lain.


Hingga tidak menunggu terlalu lama, sebuah ambulance sudah datang. Rupanya kali ini Pak Agus justru yang mengkomando para Bapak-Bapak untuk bisa mengangkat tubuh Pak Supri masuk ke dalam mobil ambulance. Di sana petugas medis dari Rumah Sakit langsung memasang selang oksigen. Bu Yeni dan Firhan pun langsung masuk ke dalam ambulance itu.


Pakdhenya Tiana pun juga turut menuju ke Rumah Sakit. Memang membatalkan pernikahan satu hari sebelum akad sangat berisiko. Pihak keluarga bisa begitu shock, sama seperti Pak Supri, pria angkuh itu kini begitu lemas dan pingsan.


Jarak Rumah Sakit yang cukup dekat membuat Pak Supri segera dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat, dan diberikan pertolongan pertama. Sementara Bu Yeni yang kalut pun masih berusaha bernegosiasi dengan pihak keluarga Tiana.


"Pak, tolong dipertimbangkan lagi. Kasihan suami saya, dia ingin Firhan bisa menikah. Lagipula, Firhan akan datang ke sana dan meminta maaf. Sekiranya masih ada kesempatan," ucap Bu Yeni dengan berlinang air mata.


Terlihat perwakilan dari keluarga Tiana seolah berpikir sesuatu, dan kemudian menelpon ke rumah Tiana. Menjelaskan keadaan yang pelik ini.

__ADS_1


"Setidaknya akad saja, kami sudah berterima kasih," ucap Bu Yeni lagi.


Pikir Bu Yeni adalah sekadar akad saja bisa menyelamatkan nama keluarganya. Tidak sepenuhnya menanggung malu karena kejadian malam ini. Sebatas akad saja sudah bisa menyelamatkan nama keluarganya di tengah masyarakat.


Hingga akhirnya Dokter yang menangani Pak Supri pun keluar dan memberikan penjelasan kepada Bu Yeni dan Firhan di sana.


"Keluarga Bapak Supri," panggil Bapak tersebut.


"Ya, kami Dok," balas Bu Yeni. Kala itu Bu Yeni dan Firhan pun sama-sama berdiri. Begitu risau dengan apa yang hendak disampaikan oleh sang Dokter.


"Terjadi penyempitan pembuluh darah arteri yang membawa darah dan okosigen ke otak, sehingga menyebabkan aliran darah ke otak sangat berkurang. Pasien mengalami stroke atau penyumbatan Iskemik. Selanjutkan masih ada dilakukan pemeriksaan darah untuk mengecek ada atau tidaknya infeksi, kadar gula darah, risiko pembekuan darah, dan mengetahui keseimbangan elektrolit dalam darah."


Di dalam hatinya, Firhan merasakan sangat terpukul. Seharusnya dia lebih berhati-hati. Sekarang, semalam sebelum akad terucap justru Bapaknya harus mengalami penyumbatan Iskemik.


"Apakah Bapak saya bisa sembuh?" tanya Firhan kemudian.


"Kami akan mengupayakan. Penanganan awal kali ini akan berfokus untuk menjaga jalan nafas, mengontrol tekanan darah, dan juga mengembalikan aliran darah," balas sang Dokter.


"Kapan pulihnya Dok?" tanya Bu Yeni sekarang.


"Lantaran Transient Ischemic Attack atau Stroke Iskemik adalah stroke ringan. Stroke ini terjadi secara mendadak dan hanya berlangsung dalam hitungan menit atau jam. Penderitanya bisa pulih dalam satu hari," jelas sang Dokter lagi.

__ADS_1


Mendengar apa yang disampaikan oleh Dokter, kali ini Firhan dan Bu Yeni merasa lebih tenang. Semoga memang Pak Supri bisa segera pulih. Walaupun tentu masih ada masa terapi yang harus dilakukan oleh Pak Supri.


Bu Yeni lantas menatap Firhan di sana, "Han, datanglah ke rumah Tiana ... minta maaflah. Kali ini kami yang bersalah. Setidaknya berusahalah untuk mendapatkan maaf dari Tiana dan biarkanlah pernikahan kalian tetap berlangsung. Biar Ibu saja yang menunggu Bapakmu di sini."


Firhan lantas menatap Ibunya, "Tapi, Bu ... Bapak baru sakit. Tidak mungkin juga menikah tanpa ada Bapak dan Ibu," sahutnya.


"Kamu pria, Han ... tidak membutuhkan wali untuk menikah. Doa dan restu kami selalu buat kamu. Pergilah dan minta maaf. Semoga masih ada kebaikan hati dari Tiana dan keluarganya," balas Bu Yeni.


Mungkin memang suaminya akan sakit, tetapi Bu Yeni hanya berpikir supaya keluarganya tidak mendapatkan malu di masyarakat. Firhan bisa tetap menikah walaupun praktis orang tuanya tidak bisa mendampinginya.


"Jadikanlah ini pelajaran untuk kamu, Firhan ... lebih berhati-hati dalam menjalani hidup. Terlihat sekarang bukan 'anak polah bapa kepradhah.' Tingkah laku anak yang buruk orang tua ikut terdampak buruknya, begitu juga sebaliknya, jika perilaku anak baik, maka orang tua pun ikut terdampak baik. Tingkah laku anak mau baik atau buruk mempunyai imbas untuk orang tua. Jadi, lebih berhati-hati ya Han ... mungkin dulu kamu tidak menyadari merasa masih kecil dan belum dewasa, tetapi kamu sudah lulus kuliah dan bekerja sekarang, jadi lebih berhati-hati dalam menjalani hidup dan dalam membawa diri," nasihat Bu Yeni dengan berlinangan air mata.


Seolah ada kesesakan di dalam hati Bu Yeni sekarang ini. Dulu ketika Firhan melakukan sebuah kesalahan, ketika orang tua Ervita datang dan meminta pertanggung jawab, Firhan bisa mangkir. Imbasnya, Ervita yang diusir dari rumah, sebelum keluarganya akan mendapatkan malu karena anak gadisnya hamil di luar nikah.


Akan tetapi, sekarang Firhan dan keluarganya justru yang mendapatkan malu. Satu kesalahan kecil yang dilakukan Firhan dua pekan yang lalu, rupanya berimbas pada akad yang sudah di depan mata.


"Baik Bu ... Firhan akan ke rumah Tiana sekarang juga. Firhan akan meminta maaf untuk apa yang sudah Firhan lakukan, semoga saja kali ini ada maaf dari Tiana dan keluarganya," jawabnya.


Bu Yeni pun menganggukkan kepalanya, "Iya ... lakukanlah. Kali ini, pikirkanlah nama baik keluarga kita juga."


Mungkin para tetangga dan tamu di rumah sudah membuat buah bibir, ketika perwakilan dari keluarga Tiana datang dan juga mengembalikan seserahan. Sudah digunjingkan oleh tetangga. Akan tetapi, masih berusaha dan meminta maaf bisa dilakukan Firhan sekarang.

__ADS_1


__ADS_2