Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Undangan Bukber


__ADS_3

Selang dua hari berlalu, kali ini Pandu memberikan kabar kepada istrinya perihal undangan buka bersama alumni fakultas tempatnya kuliah dulu. Tentu, Pandu ingin datang tapi tidak sendiri. Melainkan dia ingin datang bersama dengan Ervita. Oleh karena itu, dia ingin bertanya dulu kepada Ervita.


"Nda, ada undangan untuk bukber nih. Mau enggak dampingi aku datang ke bukber?" tanya Pandu kepada istrinya.


Ervita pun tersenyum ketika suaminya itu menyampaikan perihal undangan kepada dirinya. "Eh, bukannya gak boleh buka bersama ya Mas?" candanya kepada suaminya itu.


"Boleh lah, yang penting itu enggak hedonisme. Jangan ditafsirkan secara langsung gitu. Dibaca lagi keterangannya," balas Pandu yang juga sembari tertawa.


Setelah itu, Ervita bertanya lagi kepada suaminya akan dilaksanakan di mana karena dia hanya sekadar ingin tahu saja. Selain itu, juga apakah mungkin mengajak dua putrinya. Jika, terus-menerus dititipkan ke Eyangnya juga sungkan.


"Di mana acaranya Mas?" tanya Ervita.


"Di Resto, Sayang ... kawasan Kota Gede. Gimana, mau ikut enggak?" tanyanya lagi.


"Kita bawa Indi dan Irene boleh enggak?" tanya Ervita kemudian kepada suaminya.


Pandu menganggukkan kepalanya. "Boleh ... malahan gak apa-apa. Diajak saja. Kan untuk Irene nanti kita bisa membawa stroller," balas Pandu.

__ADS_1


Memang sebenarnya membawa dua anak itu repot. Terlebih Irene yang baru akan dua tahun. Irene sangat aktif mengeksplor ruangan seperti berjalan atau masih suka merangkak dengan sendirinya. Untuk itu, memang Ervita memikirkan gerakan Irene yang sangat aktif itu.


"Kalau enggak, Mas Pandu datang saja ngajak Indi, gak apa-apa kok," balas Ervita.


Namun, Pandu kemudian menggelengkan kepalanya. "Enggak ah ... aku maunya sama kamu kok. Kalau repot membawa anak ya itu konsekuensinya, Dinda. Risikonya beranak dua ya gitu. Jadi, ya gak apa-apa," balasnya.


"Nanti kalau Mas Pandu malahan repot ngurus anak dan gak bisa ngobrol sama temen-temennya gimana? Buka bersama kan sekalian temu kangen pastinya," balas Ervita.


Ada kalanya buka bersama itu sekaligus menjadi acara silaturahmi Saling bertanya kabar. Terlebih kepada teman yang sudah lama tidak pernah bertemu. Pastinya acara silaturahmi dan temu kangen itulah yang sebenarnya dinantikan. Bukan pada sajian makanan saat berbuka puasa.


"Ya, iya sih ... cuma ya kalau aku santai saja. Sekalian kan ngabuburit ngajak kamu dan Indi yang juga sama-sama berpuasa. Sebenarnya tujuanku itu sih, Dinda," balas Pandu.


"Aku selalu menikah sama kamu, tidak pernah marah, Dinda. Sabar kok, jadi ya santai saja," balas Pandu.


Apa yang baru saja disampaikan oleh Pandu pun adalah sebuah fakta bahwa dirinya tidak pernah marah selama menikah dengan Ervita. Pun dengan kehidupan rumah tangganya yang memang lebih banyak adem ayemnya. Tidak hanya drama, dan tidak banyak perselisihan.


"Oke deh, mau kalau gitu," balas Ervita lagi.

__ADS_1


"Nah, gitu dong, Dinda. Nanti kalau kamu ada undangan buka bersama di Solo, ya aku anterin. Tidak apa-apa. Kami tidak ingin pulang ke Solo dan menjenguk Bapak dan Ibu. Kita pulangnya mumpung masih puasa saja. Kan lebaran kita Jogja," balas Pandu.


"Sebenarnya, aku pengen pulang ke Solo sih, Mas. Cuma Indi sudah siap apa belum? Sejak kejadian dulu itu, Indi gak mau ke Solo," balas Ervita.


Bukannya Ervita tidak mau pulang ke Solo. Namun, sejak bertemu Firhan dan Firhan mengatakan bahwa dia adalah Ayahnya Indi juga, sejak saat itu Indi enggan untuk diajak pulang ke Solo. Anak kecil itu, mungkin merasa bingung bagaimana dirinya memiliki dua ayah. Dalam benaknya, Indi masih belum menerima.


"Ya, kan gak bisa selamanya menghindar, Nda. Fakta sebenarnya, dia ayah biologisnya, Indi. Mau enggak pulang ke Solo. Penting kan Indi diberi tahu sedikit-sedikit," balas Pandu.


"Mau, akhir pekan kita pulang ke Solo. Nginep semalam saja ya, Mas," pinta Ervita kepada suaminya.


"Menginap dua malam juga boleh kok. Nanti kita berangkatnya Jumat agak sore saja. Pulang Minggu," balas Pandu.


Ya, setidaknya memang ada hal-hal yang tidak bisa dihindari. Selain itu juga, kenyataannya memang ayah biologisnya adalah Firhan. Oleh karena itu, Pandu hanya berpikir untuk semua kemungkinan yang ada. Tidak mungkin akan menghindar terus-menerus.


"Iya, Mas. Walau fakta itu sangat menyakitkan," balasnya dengan menghela napas panjang.


"Kita bisa melewatinya bersama-sama, Dindaku. Aku akan selalu bersamamu," balas Pandu dengan sungguh-sungguh.

__ADS_1


Rencana Pandu memang mengunjungi keluarga Ervita di saat masih puasa, sementara untuk lebaran nanti berada di Jogja. Atau bisa, lebaran hari kedua atau lebaran kupat baru pulang ke Solo lagi. Memang keluarga besar ada di Jogja dan Solo jadi harus membagi waktu.


__ADS_2