Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Akad


__ADS_3

Tidak terasa masa 35 hari sudah berlalu, dan sekarang di kawasan Abhayagiri, Sleman, Jogjakarta. Tempat ini dipilih langsung oleh Pandu karena menginginkan pernikahan di daerah perbukitan dengan Gunung Merapi sebagai latarnya.


Di area outdoor sudah dihiasi aneka bunga mawar putih yang melambangkan kesucian cinta, tidak lupa janur kuning yang dibuat penjor juga menyambut para tamu undangan begitu memasuki tempat yang biasa difungsikan sebagai hotel ini.


Sementara itu, keluarga dari Solo juga sudah datang dan juga tampak duduk di tempat yang sudah disediakan untuk keluarga besan. Tak ayal, beberapa tamu undangan begitu terpana dengan pesta pernikahan yang sedang berlangsung siang itu. Terlihat, semuanya begitu sangat indah dari dekorasi, hingga penyusunan meja dan kursi. Jangan salah, Pandu sebagai desainer interior sampai turun langsung untuk mewujudkan konsep pernikahan impiannya ini. Bahkan Pandu sampai bolak-balik Sleman ke kota Jogjakarta untuk menentukan semuanya berjalan lancar dan sesuai dengan ekspektasinya.



Di dalam sebuah kamar, Ervita tengah dirias. Wanita itu begitu cantik mengenakan Kebaya berwarna putih dengan model kutu baru dengan hiasan payet yang menyebar di sekitar dada hingga lengan. Membuat payetan dengan pola bunga-bunga yang begitu indah. Sementara kain jarik dengan Sido Mukti itu memang sengaja dipilih karena corak itu adalah salah satu corak batik yang diperbolehkan untuk dipakai pengantin. Dalam filsafah kebudayaan Jawa yang Adhi luhung, kain batik ini terdiri dari kata "Sido" yang berarti "menjadi" dan "Mukti" yang berarti kehidupan yang makmur dan sejahtera hingga sampai di akhirat. Kain batik ini memang direncanakan oleh Bu Tari dan Pak Hadinata akan dipakai oleh Ervita dan Pandu di hari pernikahannya. Makna dari kain corak ini adalah kedua pengantin akan memiliki sikap saling pengertian dan menyayangi satu sama lain.


Ervita pun sudah berias, dengan paes yang terbuat dari pidih berwarna hitam yang menghiasi keningnya. Paes corak Jogjakarta yang dilukiskan di keningnya. Rangkaian bunga pengantin dari perpaduan bunga melati, mawar, dan kenangan juga menghiasi rambut Ervita di sana. Sekilas, Ervita begitu mempesona. Bahkan dalam balutan kebaya dan riasan pengantin khas Jogjakarta seperti ini, tidak ada yang tahu bahwa Ervita sudah memiliki seorang putri.


Bu Sri yang menjemput Ervita untuk segera keluar karena akad nikah akan berlangsung pun tampak meneteskan air matanya. Tidak mengira bahwa putri sulungnya hari ini benar-benar akan menikah dengan pemuda yang baik, pemuda yang juga sayang kepada Indira, dan tentu dari keluarga baik-baik.


"Ervi ... sekarang ke luar yah," ajak Bu Sri kepada putrinya itu.


"Iya Bu ... Indi di mana Bu?" tanyanya karena tidak melihat Indira.


"Sama Mei dan Tanto kok. Yuk, kita keluar yah ... ayune anaknya Ibu ini," puji Bu Sri kepada putrinya.


Dengan digandeng oleh Ibunya dan juga Bu Tari yang juga datang menjemput, Ervita pun berjalan pelan-pelan. Wanita itu begitu terpesona melihat dekorasi pernikahan yang sangat indah. Tentu dengan venue utama yaitu pelaminan yang hanya berhiaskan bunga Mawar Putih dan Gunung Merapi sebagai latarnya. Sangat indah.


Rasanya Ervita benar-benar tidak percaya bahwa ini adalah pesta pernikahannya. "Ayune Vi ... Pandu bisa pangling (tidak mengenali - dalam bahasa Jawa)." Bu Tari berbisik dan mencubit lengan Ervita di sana.


"Matur nuwun, Bu," balasnya dengan menunduk malu.


Hingga Ervita melihat sosok mempelainya sudah duduk dan terlihat begitu tenang di hadapan Bapaknya dan juga penghulu di sana. Ervita pun berjalan dengan mantap menyongsong pengantinnya yang tampak mengenakan Beskap berwarna putih, senada dengan kebaya yang dia kenakan.

__ADS_1


Menyadari kehadiran Ervita, Pandu pun terpukau. Seolah putri kedhaton lah yang berjalan ke arahnya sekarang ini. Begitu cantik dan anggunnya mempelai wanitanya itu. Hingga akhirnya Bu Tari dan Bu Sri mendudukkan Ervita di sisi Pandu, dan menudungkan kain berwarna putih di atas kepala mereka sebagai simbol bahwa pernikahan itu menyatu dua kepala.


"Bisa kita mulai?" tanya penghulu.


Terlihat anggukan dari Bapak Agus dan Pandu di sana. Bapak Agus lantas langsung menjabat tangan Pandu, kepada pemuda itulah dia akan menyerahkan harta berharganya yaitu putrinya dalam lindungan Pandu. Bapak Agus begitu kencang menjabat tangan Pandu kala itu.


"Saya nikahkan, dan saya kawinkan engkau dengan putriku Ervita Emalia binti Agus Sugiarto dengan engkau Pandu Hadinata dengan mas kawin berupa mas kawin dan seperangkat alat sholat tunai."


Bapak Agus membacakan kalimat akad itu dengan dada yang gemuruh. Penuh haru rasanya.


"Saya terima nikah dan kawinnya Ervita Emalia binti Agus Sugiarto dengan mas kawin tersebut tunai."


Pandu mengucapkan Ijab Wobulnya dalam satu tarikan nafas, hingga penghulu dan saksi sepakat mengatakan,


"Sah!"


Sama halnya dengan Bu Tari dan Bu Sri yang juga turut meneteskan air matanya. Pernikahan penuh haru, hingga perempuan paruh baya yang kini mengenakan Kebaya berwarna hijau itu sama-sama menitikkan air mata melihat putra dan putrinya telah siap untuk membina sebuah keluarga.


Lantunan ayat suci Al'Quran pun dilantunkan, maka Ervita dan Pandu sama-sama menangkupkan telapak tangannya dan menundukkan wajahnya. Keduanya sama-sama mengamini setiap ayat-ayat yang dilantunkan siang itu.


"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir." (QS Ar Rum ayat 21)


Maha besar Sang Pencipta yang menumbuhkan kasih sayang di antara Pandu dan Ervita. Hingga keduanya bisa menjadi satu. Semua karena kebesaran Allah semata.


Para hadirin yang datang pun begitu takjub dengan mas kawin dan hantaran yang diberikan keluarga Hadinata kepada pihak mempelai wanita. Bukan hanya alat sholat, tetapi juga perhiasan, uang tunai yang dibingkai begitu indah, dan juga ada kunci rumah di sana.


Tak ayal, mas kawin yang diterima Ervita pun menjadi buah bibir pada tamu undangan. Termasuk di antaranya keluarga Firhan yang turut menghadiri pernikahan itu. Semua itu karena mereka tetangga, sehingga tetangga pun turut datang dalam hajatan yang diselenggarakan tetangganya.

__ADS_1


Kemudian acara dilanjutkan dengan penyematan cincin di jari manis masing-masing mempelai. Ervita yang pertama kali memasang cincin pernikahan itu di jari manis Pandu, kemudian dia menundukkan wajahnya guna mencium punggung tangan suaminya. Kemudian, Pandu juga memasangkan cincin pernikahan di jari manis Ervita, kemudian mencium kening istrinya itu.


Sebatas ciuman di kening yang diberikan oleh Pandu benar-benar membuat Ervita menegang. Rasa gugup menyelimutinya, tetapi dia harus berusaha menahan semuanya. Apalagi Pandu mencium kening Ervita dengan durasi yang cukup lama, momen itu kian membuat Ervita merasa gugup. Namun, dia tidak bisa mengelak karena ada kameramen yang mengabadikan momen itu dalam bidikan lensa kamera.


Usai prosesi tukar cincin, Pandu dan Ervita sama-sama melanjutkan ke prosesi sungkeman sebagai bentuk tanda bakti dan hormat yang diberikan anak kepada orang tuanya. Bentuk rasa syukur dan terima kasih karena telah memberikan bimbingan dan kasih sayang dari lahir hingga akhirnya mereka menikah.


Ervita mengambil posisi sujud dan memohon doa restu kepada Bapak dan Ibunya.


"Bapak dan Ibu ... tolong restui Ervi dan Mas Pandu. Doakan pernikahan kami langgeng," pintanya dengan berurai air mata.


Bapak Agus dan Bu Sri meneteskan air matanya di sana. "Bapak dan Ibu minta maaf ya Vi ... maafkan kami karena gagal menjadi orang tua yang baik. Bapak dan Ibu tentu merestui dan berharap pernikahan kalian berdua langgeng dan selalu bahagia," ucap Pak Agus dengan memeluk putrinya itu.


"Titip Ervi nggih Mas Pandu ... tolong dipandu, dibimbing, semoga bisa saling mengisi satu sama lain," ucap Pak Agus kemudian kepada menantunya.


"Nggih Pak," jawab Pandu dengan sepenuh hati.


Selanjutnya, Ervita dan Pandu kini meminta doa dan restu kepada keluarga Hadinata. Keduanya bersujud di hadapan kedua orang tua dan Pandu yang berbicara kali ini.


"Bapak dan Ibu terima kasih sudah merestui Pandu dan Ervi ... doakan kami berdua semoga kami bisa menjalin pernikahan shakinah, mawaddah, dan wa'rahmah," pintanya.


Terlihat pelukan hangat dari Pak Hadinata kepada putranya itu. "Pasti Nak ... Bapak doakan yang terbaik untuk kalian berdua. Sekarang sudah memiliki garwa (pasangan hidup). Dijaga baik-baik, dihargai, dan dilindungi. Sayang juga kepada Indira, anak kalian," nasihat dari Pak Hadinata.


"Nggih Pak," sahut Pandu dengan mantap.


Momen sungkeman yang begitu mengharu biru. Kini keduanya sudah duduk bersama di venue pelaminan. Begitu padu dan serasi keduanya bersanding. Di Abhayagiri tersemat ikrar yang menyatukan dua anak manusia. Tersemat janji untuk mengasihi sehidup dan semati. Ada senyuman yang terus menghiasi wajah kedua mempelai, hingga pesona Arga Merapi pun kalah dengan pesona kedua mempelai yang tengah berbahagia sekarang ini.


Happy Wedding Pandu dan Ervi!

__ADS_1


__ADS_2