
Kembali ke Solo dengan gunjang-ganjing kehidupan rumah tangga Firhan dan Wati. Pagi itu, Firhan merasa rumahnya yang sepi, tidak ada Wati di dalam rumah mereka. Lantas Firhan kembali ke kamarnya, mencoba mengingat alasan apa yang membuat Wati pergi meninggalkan rumah.
"Sebenarnya apa yang membuatmu pergi dari rumah Wati? Karena masa laluku yang terungkap, atau karena hubungan kita semalam?"
Firhan menghela nafas panjang dan berusaha untuk mengingat kembali bagaimana hubungannya semalam. Dia memaksa Wati, mendorong istrinya itu sampai jatuh ke ranjang, lantas menindihnya begitu saja. Tidak sampai di sana, Firhan juga meloloskan semua pakaiannya dan memasukkannya secara paksa ketika Wati belum siap.
Sekarang, Firhan mengusapi wajahnya. Seketika Firhan merasa menyesal jadinya. Penyesalan selalu datang terlambat, itulah yang Firhan rasakan sekarang. Tidak ingin kehilangan Wati, Firhan memutuskan untuk cuti dari bank tempatnya bekerja, dan kemudian hendak mencari Wati.
Firhan memilih mandi dan membersihkan dirinya terlebih dahulu dan kemudian menghubungi nomor telepon istrinya. Setidaknya, dia hendak menghubungi dulu. Jika panggilannya tersambung, Firhan tinggal menjemput Wati.
Wati
Memanggil
Nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan
Firhan menghela nafas, rupanya nomor istrinya tidak aktif. Untuk itu, Firhan segera keluar dari rumahnya dan hendak mencari keberadaan Wati. Pencarian dia mulai dari kediaman orang tuanya terlebih dahulu. Menempuh perjalanan dari Solo Utara menuju ke daerah Sebelas Maret, membutuhkan waktu hampir setengah jam untuk Firhan. Begitu sudah sampai di kediaman orang tuanya, Firhan pun bertanya kepada Ibunya.
"Bu," sapanya kepada Bu Yeni ketika memasuki rumah.
"Han, kok pagi-pagi kamu sudah di sini?" tanya Bu Yeni dengan bingung.
"Firhan mau mencari Wati, Bu," jawabnya kemudian.
Di sana Bu Yeni tampak bingung dengan pernyataan anaknya yang hendak mencari Wati. Bukankah kemarin malam, mereka masih berdua. Apakah mungkin ada yang terjadi dengan rumah tangga keduanya?
"Wati tidak ada di sini, Han," kata Bu Yeni kepada Firhan.
Mendengarkan perkataan ibunya, Firhan tampak mengusapi wajahnya. Sebenarnya di mana Wati berada sekarang? Firhan pun berpikir semalam dengan siapa dan menaiki apa Wati pergi dari rumah? Kenapa, dia sampai tak terusik.
__ADS_1
"Ceritakan kepada Ibu, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Bu Yeni.
"Kemarin di rumah, Firhan memaksa Wati, Bu," jawab Firhan.
Firhan memang tidak menjelaskan semua secara gamblang. Namun, Bu Yeni pun tahu apa arti kata memaksa. Hingga wanita paruh baya itu kemudian menggelengkan kepalanya menatap putra sulungnya.
"Han, apa yang kamu lakukan itu tidak benar. Walau hubungan suami dan istri itu penting, tetapi tidak boleh ada pemaksaan. Jika kamu sampai memaksa istri kamu sendiri, apa bedanya dengan tindak asusila, Han?"
Sungguh, Bu Yeni merasa sedih dengan pengakuan Firhan. Walau hubungan suami istri itu wajib, tetapi tidak seharusnya seorang pria memaksa istrinya sendiri. Bagaimana pun hubungan suami istri adalah bentuk ibadah.
"Firhan khilaf, Bu," jawabnya.
Sekarang barulah Firhan mengakui bahwa dirinya telah khilaf. Kemarin memang Firhan tersulut emosi, sampai dia memaksakan kehendaknya kepada Wati. Padahal sebelumnya, Firhan tidak pernah memaksa Wati.
"Dalam iman kita, istri memang menjadi hak suaminya. Akan tetapi, suami pun harus menjaga istrinya. Istri adalah perhiasan untuk suaminya, jadi harus dijaga," ucap Bu Yeni yang memberikan nasihat kepada Firhan.
"Tidak perlu meminta maaf kepada Ibu, Han. Minta maaflah kepada Wati. Dia yang berhak untuk memaafkan kamu," balas Bu Yeni.
Firhan kemudian terdiam. Dia merasa pusing dan bingung harus mencari kemana. Hingga akhirnya, dia bertanya kepada Ibunya lagi.
"Firhan harus mencari Wati kemana ya Bu?" tanyanya.
"Cari ke rumahnya, Han. Siapa tahu, Wati pulang ke rumah orang tuanya," jawab Bu Yeni.
Ketika Ibunya memberitahu bahwa Firhan harus mencari Wati ke rumahnya. Firhan merasakan ciut nyali. Takut juga dengan respons mertuanya.
"Kenapa takut mencari ke rumahnya Wati?" tanya Bu Yeni.
Firhan kemudian menganggukkan kepalanya. "Seorang pria harus berani bertanggung jawab untuk perilakunya, Han. Dulu, kamu sudah pernah lepas dari tanggung jawab. Sekarang, jangan mengulangi kesalahan kamu lagi. Pergi dan carilah Wati. Tenangkan istrinya dan rebut kembali hatinya. Ibu yakin bahwa Wati adalah wanita yang baik. Sosok wanita yang bisa melengkapi kamu."
__ADS_1
Seolah sekarang, Firhan pun melakukan instrospeksi diri. Benarkah bahwa Wati yang cocok untuknya. Walau sekarang, Firhan kemungkinan besar belum bisa memberikan keturunan. Akan tetapi, dengan belajar bersama pastilah nanti akan mendapatkan hasil yang terbaik.
Setelahnya, Firhan kemudian berpamitan dengan Ibunya. "Firhan ke Karang Anyar dulu, Bu. Untuk mencari Wati," pamitnya.
Bu Yeni pun menganggukkan kepalanya. "Iya, hati-hati. Kali ini jangan emosi. Kalau salah ya akui dan minta maaf. Beri pengertian kepada Wati."
Merasa yakin dan siap untuk meminta maaf, Firhan kemudian melajukan sepeda motornya, dan dia menuju ke arah Timur kota Solo, menuju ke Kabupaten Karang Anyar. Teriknya cuaca kala itu, tidak dipedulikan Firhan karena tekadnya sudah bulat untuk bisa mencari Wati.
Menempuh perjalanan hampir satu jam, akhirnya Firhan tiba di rumah mertuanya. Rumah yang ada di dekat Perkebunan Teh di area Ngargoyoso, Karang Anyar. Seketika Firhan disambut dengan udara dingin di kaki Gunung Lawu itu.
"Assalamu'alaikum," salam dari Firhan begitu sampai di rumah mertuanya.
"Waalaikumsalam," jawab mertuanya.
Firhan pun dipersilakan masuk ke dalam rumah. Kemudian ada kedua orang tua Wati yang menyambut Firhan. Mempersilakan Firhan untuk masuk ke dalam.
"Bapak dan Ibu, saya kemari untuk mencari Wati. Apakah Wati ada?" tanya Firhan.
Pasangan paruh baya itu saling berhadap-hadapan. Kemudian ada Ibunya yang memberikan jawaban.
"Sebenarnya apa yang terjadi Mas Firhan? Dulu, kami memberikan anak gadis kami untuk dipinang Mas Firhan melalui proses ta'aruf. Tidak pernah bertemu sebelumnya. Seharusnya Mas Firhan bisa mengerti Wati," ucap ibunya.
"Maafkan Firhan, Bu. Firhan yang salah. Jadi, apakah Wati ada di sini?" tanya Firhan lagi.
"Iya, Wati berada di sini. Sekarang, Wati sedang berada di Air Terjun. Menenangkan diri di sana. Kalau Mas Firhan mau, silakan di susul ke Parang Ijo," ucap Ibu mertuanya.
Parang Ijo adalah tempat di Ngargoyoso yang terkenal dengan Kebun Teh dan juga air terjun. Di sanalah, sekarang Wati berada. Sebab, Wati tadi juga sudah berpamitan bahwa ingin menenangkan dirinya sebentar dengan melihat air terjun.
Tentulah Firhan akan menyusul Wati. Walau dia harus berusaha keras, tetapi Firhan kali ini akan benar-benar meminta maaf kepada Wati. Firhan akan berusaha membawa Wati pulang ke rumahnya. Tidak akan kembali dengan tangan hampa.
__ADS_1