Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
36 Minggu!


__ADS_3

Hari berganti hari, minggu pun berganti dengan minggu. Tidak terasa minggu menjelang persalinan pun sudah tiba. Kali ini, Pandu kembali mengajak istrinya untuk kembali mengunjungi Dokter Arsy untuk mengetahui kondisi bayi mereka. Sang Ayah tampak begitu telaten dan setia menemani Ervita. Akan tetapi, sekarang Indi tidak turut ke Rumah Sakit untuk memeriksakan kandungan Bundanya. Indi lebih memilih berada di rumah Eyangnya dan bermain dengan Lintang.


"Semoga nanti pulangnya gak kemalaman ya Mas ... sekarang saja sudah jam segini, masih lima antrian lagi," balas Ervita.


"Iya, Nda ... semoga tidak terlalu malam. Aku tahu pasti kamu kepikiran sama Indi kan?" balas Pandu.


Sudah tentu Ervita merasa kepikiran dengan Indi. Sebab, walau berada di tempat yang aman. Di rumah Eyangnya sendiri, jika meninggalkan terlalu lama, rasanya juga tidak tega.


"Iya, kasihan Indi kalau ditinggal terlalu lama," balas Ervita.


Hingga akhirnya lebih dari setengah jam berlalu, dan sekarang barulah mereka dipanggil namanya untuk konsultasi dan pemeriksaan dengan Dokter Arsy. Seperti biasa, Ervita ditimbang terlebih dahulu berat badannya, dan juga ditensi tekanan darahnya. Setelahnya, mereka dipersilakan masuk ke ruangan Dokter Arsy.


"Selamat malam Dokter," sapa Ervita memasuki ruangan pemeriksaan itu.


"Ya, selamat malam Bu Ervita dan suami. Pemeriksaan rutin yah?" balas Dokter Arsy.


"Iya Dokter," balas Ervita lagi.


Kemudian mulailah Dokter Arsy melihat catatan pemeriksaan Ervita. Memang Ervita rutin memeriksakan kandungannya. Hampir setiap bulan, sudah pasti Ervita dan Pandu selalu memeriksakan kandungannya. Walau tidak mengetahui jenis kelamin bayinya. Akan tetapi, mereka bisa mendengarkan perkembangan bayinya dari berat badan, tinggi, posisi di dalam rahim, dan juga mendengarkan detak jantung bayi mereka. Rasanya begitu menyenangkan. Terlebih menjelang minggu persalinan seperti ini, sudah pasti keduanya kian excited untuk melihat perkembangan janin mereka.

__ADS_1


Ervita pun dipersilakan untuk naik ke brankar. Kemudian, ada seorang perawat yang membantu untuk menyingkap sedikit kemeja Ervita, dan USG Gell pun diberikan di atas permukaan kulit di perutnya. Sementara itu Dokter Arsy bersiap dengan transducer di tangannya, siap memeriksa kehamilan Ervita.


"Baik kita akan periksa bersama yah. Usia kehamilan Bu Ervita sekarang 36 - 37 minggu dengan panjang bayi dari kepala hingga tumitnya kurang lebih 47 centimeter, dan beratnya kurang lebih 2,7 kilogram. Untuk berat badan sudah cukup yah. Namun, mengingat usia kehamilan bisa kurang lebih empat minggu lagi, jadi Ibu Ervita mengurangi asupan gula yah. Supaya bayinya tidak begitu besar saat lahir nanti," balasnya.


Ervita mengerti dengan penjelasan dari Dokter Arsy. Memang dia harus mengurangi asupan gula. Selain itu, keinginan Ervita adalah bisa melahirkan secara normal, sehingga berat bayinya kalau bisa tidak terlalu besar juga.


"Posisi bayinya sendiri bagaimana Dok?" tanya Ervita kemudian.


"Posisi bayinya ini kepalanya sudah berada di atas panggul ya, Bu. Selain itu Bapak dan Ibu bisa sering berhubungan supaya menguatkan otot panggul. Selain itu kandungan hormon prostalglandin dari suaminya bisa memicu kontraksi alamiah," jelas Dokter Arsy.


Ervita hanya mendengarkan penjelasan Dokter Arsy, sementara Ervita sudah tahu bahwa suaminya itu seakan menjadi kartu AS untuk bisa menapaki tangga demi tangga menuju puncak asmara. Namun, di dalam hati Ervita sendiri merasa takut karena posisi perutnya kini kian membuncit.


Mendapatkan informasi dari Dokter Arsy yang sangat informatif membuat Ervita pun paham dan belajar juga seputar persalinan. Sembari terus mempersiapkan diri menjelang persalinan nanti.


"Jadi, nanti Bu Ervita ingin melahirkan secara normal atau Caesar?" tanya Dokter Arsy.


"Kalau bisa sih normal saja, Dok," balas Ervita.


Sebenarnya memang Pandu tidak mengharuskan Ervita untuk melahirkan secara normal. Bagi Pandu, apa pun yang menjadi pilihan Ervita sudah pasti Pandu akan mendukungnya. Selain itu, juga mau normal atau caesar rasanya sama saja yang penting keselamatan Ervita dan Bayinya.

__ADS_1


"Jika dari posisi sekarang bayinya sudah berada di atas panggul, mungkin nanti kepalanya akan mulai masuk ke dalam panggul. Selain melakukan hubungan suami istri, Bapak dan Ibu bisa jalan-jalan di pagi hari. Namun, jika nanti Bapak dan Ibu berubah pikiran dan ingin melahirkan secara Caesarean Section, bayi bisa dilahirkan di usia kehamilan 39 minggu di mana seluruh organ tubuhnya sudah berfungsi maksimal," balas Dokter Arsy.


Hampir setengah jam, mereka melakukan pemeriksaan USG. Kemudian Dokter Arsy menuliskan resep untuk Ervita yang kali ini hanya berupa asam folat saja. Itu juga karena kalsium milik Ervita masih ada, sehingga Dokter Arsy meminta untuk menghabiskannya terlebih dahulu.


Kini keduanya dalam perjalanan pulang usai memeriksakan bayinya. Waktu sudah menunjukkan jam 20.00 malam, biasanya jam segini Indi sudah berada di rumah dan tidur. Akan tetapi, sekarang sudah pasti Indi masih bermain dengan Lintang di rumah Eyangnya.


"Sehat-sehat ya Bumil dan Debay," ucap Pandu dengan tangannya mengelus perut Ervita perlahan.


"Iya Yayah," balas Ervita.


"Aku yang deg-degan banget, Nda," balas Pandu.


"Deg-degan karena apa?" balas Ervita kepada suaminya itu.


Pandu pun menganggukkan kepalanya sesaat. "Iya, hanya beberapa lagi untuk bertemu dengan bayi kecil kita," balasnya.


Ervita yang mendengarkan suara suaminya pun menganggukkan kepalanya perlahan. "Aku juga, Mas. Sudah pengen ketemu sama adik bayi. Pengan tahu jenis kelaminnya apa dan pengen gendong-gendong dia," balasnya.


Rasanya baru saja keduanya menikmati masa pengantin baru, dan tidak lama lagi mereka akan menjadi orang tua untuk bayinya. Indi pun akan segera menjadi kakak. Sungguh, semuanya terlalu berharga untuk dilewatkan begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2