Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Usai Semua Prosesi


__ADS_3

Sore hari seluruh prosesi acara Mitoni atau tujuh bulanan sudah selesai. Sekarang, Ervita dan Pandu duduk di Pendopo, bergabung dengan keluarga yang lain. Namun, Ervita sendiri masih mengenakan kebaya dan Pandu masih mengenakan Beskap di sana.


"Sudah lega, Vi... sudah tujuh bulan. Tinggal menunggu persalinan dua bulan lagi," ucap Bu Tari kepada menantunya itu.


Ervita pun menganggukkan kepalanya perlahan. "Iya, Bu. Tinggal menunggu persalinan. Lebih deg-degan," balas Ervita.


"Tidak usah deg-degan, dijalani saja. Setidaknya dulu waktu Indi kan sudah punya pengalaman. Paling tidak akan seperti itu juga," balas Bu Tari.


Setelahnya, Bu Tari berbicara kepada besannya yang datang jauh-jauh dari Solo. "Nanti Ervi melahirkan di Jogja saja ngih Bu ... kan keluarga dan suaminya di sini," ucapnya.


"Iya, silakan saja, Bu. Nanti kami sowan (datang) ke Jogja lagi waktu terima cucu," balasnya.


"Tentu, harus datang Bu... Mbak Mei dan Mas Tanto diajak. Nanti kalau Mbak Mei sudah melahirkan diberi kabar juga nggih, Bu. Kan kita sudah menjadi keluarga. Saling memberikan kabar," balas Bu Tari.


Sebenarnya inilah makna bahwa pernikahan anak itu menyatukan kedua keluarga. Di mana keluarga Hadinata bisa dekat dengan keluarga dari Ervita. Begitu juga dengan keluarga Hadinata dengan keluarga besan dari Lampung. Sayangnya, sekarang besan yang dari Lampung tidak bisa hadir ke Jogja. Pernikahan anak itu memang merekatkan kedua keluarga benar adanya.


"Bu, Ervi mau ganti baju boleh tidak?" tanya Ervi sekarang kepada Ibu mertuanya.


Mungkin dengan berkebaya seperti ini rasanya tidak nyaman. Terlebih untuk wanita hamil. Untuk itu, Bu Tari pun menganggukkan kepalanya "Boleh, mau dibantuin siapa?" tanyanya.


Kini Pandu segera berdiri. "Biar Pandu bantuin, Bu. Sekalian Pandu ganti baju. Gerah," balasnya.


"Ya sudah, ganti sana. Kalau sudah ke sini lagi yah. Hati-hati," balas Bu Tari.


Pandu pun segera menggandeng tangan istrinya itu untuk memasuki rumah, berjalan menuju ke dalam kamarnya. Sesampainya di dalam kamar, Pandu segera mengunci pintu kamarnya. Sebelum Ervita melepas baju kebayanya, pria itu mendekap istrinya terlebih dahulu.


"Hmm, kangen kamu, Nda. Sepanjang hari sangat sibuk. Kamu dirias dan lain-lain. Aku kangen," ucapnya.


"Sama, aku juga kangen. Cuma baru sibuk banget," balas Ervita.


Pandu kian mengeratkan dekapannya, dia mencuri satu ciuman di bahu Ervita. Memang sepanjang hari keduanya sibuk, bahkan dalam sehari baru kali ini Pandu bisa merasakan untuk memeluk istrinya.

__ADS_1


"Nanti malam kalau enggak capek ya, Nda," ajak Pandu kepada istrinya itu.


"Iya, kalau kecapekan ya besok ya Mas," balasnya.


Ervita sendiri tidak pernah menolak ketika suaminya meminta. Namun, jika dirinya benar-benar capek, barulah Ervita akan menyampaikannya dengan baik-baik kepada suaminya terlebih dahulu. Untung saja Pandu tidak pernah komplain. Justru Pandu pun bisa memahami Ervita.


"Yuk, ganti baju. Mau dibantuin?" tanya Pandu kepada istrinya.


"Nanti bagian dalam kebayanya aja ya Mas," pintanya.


Pandu melepaskan beskapnya terlebih dahulu, juga blangkon yang dia kenakan. Setelahnya, Pandu melepaskan lilitan jarik di pinggangnya. Rasanya lega.


Sementara Ervita baru membuka kancing demi kancing di kebayanya. Begitu baju kebaya terlepas, menyisakan bagian dalam kebaya dengan model Top toe dengan warna Lilac di sana.


"Mas, bantuin dong," pinta Ervita.


Pandu dengan cepat menganggukkan kepalanya. Dia siap menarik resleting yang ada di belakang punggung istrinya. Namun, sebelum resleting di tarik turun, telapak tangan Pandu memberikan rabaan terlebih dahulu di bahu Ervita yang putih mulus itu. Kembali Pandu mendekap tubuh istrinya dengan menjatuhkan kecupan demi kecupan di sana.


"Begini aja Dinda," balas Pandu.


Apa yang dimaksud Pandu dengan begini saja. Padahal memang sekarang keduanya masih di rumah orang tuanya. Bahkan jari-jari Pandu tampak begitu pelan menarik resleting itu. Hingga ketika resleting perlahan turun dan bahu hingga punggung Ervita terekspos di sana.


"Tidak pake lagi ya Nda?" tanyanya bingung.


"Hmm, pakai apa?" tanya Ervita.


"Itu yang pengait kecil tersembunyi di sini," balas Pandu.


Ervita pun menggelengkan kepalanya. "Kan ini sudah ada, Mas," balasnya.


Pandu bergerak maju dan melihat bagian depan tubuh istrinya. Jadi memang konsep bagian dalam kebaya itu hanya menggunakan resleting saja. Bagian depan pun dibuat menyerupai cup untuk menyangga bagian depan. Barulah Pandu tahu bahwa modelnya akan seperti itu.

__ADS_1


"Cantik banget kamu, Nda," ucap Pandu dengan memperhatikan wajah hingga lekuk demi lekuk feminitas yang sekarang dia lihat.


"Ishhs, apaan sih Mas. Udah deh, malu," balas Ervita.


Pandu justru tersenyum di sana. "Ya sudah, aku bantuin pake baju kamu," balasnya.


Pria itu dengan inisiatifnya sendiri membantu Ervita mengenakan pakaiannya, mulai dari mengaitkan di balik punggung dan membantu Ervita mengenakan Midi dress batik miliknya. Setelahnya, barulah Pandu memakai kemeja batik untuk dirinya sendiri.


Sanggul di kepala Ervita juga sudah dilepas dan make up di wajahnya juga sudah dihapus. Sekarang keduanya sama-sama keluar menuju pendopo dan berkumpul dengan keluarga. Rupanya ada beberapa pedagang dari Pasar Beringharjo yang datang dan Ervita serta Pandu turut memberikan salam.


"Dulu sering jagain kios ya Mbak Ervi ... sekarang di rumah, sudah diurusin Mas Pandu," ucap seorang tamu yang dulu juga mengenal Ervita ketika masih menjadi karyawan di kios batik Hadinata di pasar Beringharjo.


"Nggih, Bu. Sekarang di rumah saja, berjualan batik dari rumah," balas Ervita.


"Walau hamilnya sudah besar. Masih rajin jualan batik ya Mbak Ervi. Bayinya nanti cowok atau cewek nih?" tanya tamu yang lainnya.


"Kami memang belum tahu jenis kelaminnya, Bu. Sedikasihnya saja. Cewek atau cowok tidak masalah," balas Ervita.


Hingga akhirnya menjelang petang justru banyak. tamu yang datang. Memberi selamat untuk Ervita dengan tujuh bulan kehamilannya, dan memberi selamat untuk Pertiwi untuk Aqiqah bayinya. Ketika dia acara dijadikan satu, ternyata juga cukup efektif.


Lantaran mengadakan Aqiqah, maka keluarga Hadinata pun menyembelih dua ekor kambing. Beberapa sudah dibagikan kepada tetangga, dan salah satu blok di pasar Beringharjo. Tidak lupa, untuk orang-orang yang bekerja di kantor konsultan desain interior milik Pandu juga diberikan makanan.


"Ervi, ndak makan dulu?" tanya Bu Tari kepada menantunya itu.


"Enggak Bu ... belum lapar," balasnya.


"Jangan lupa makan. Walau sedikit, biar perutnya keisi. Kalau tidak suka masakan dengan kambing, ada ayam. Itu ibu masakan Ayam Goreng Serundeng," ucap Bu Tari.


Sebenarnya memang Ervita tidak begitu menyukai masakan dari olahan Kambing. Lebih suka sayuran dan juga ayam. Untung saja Ibu mertuanya begitu pengertian karena ada masakan lain untuknya.


"Nggih Bu, makasih," balas Ervita.

__ADS_1


Walau sudah dua kali hamil sebenarnya dirayakan dalam acara tujuh bulan seperti ini baru satu kali. Selain itu, Ervita bersyukur karena dilimpahi mertua yang baik dan suami yang sangat baik. Semua duka di masa lalu seolah terhapuskan. Digantikan Tuhan dengan kebahagiaan dari keluarga dan suami yang menyayanginya.


__ADS_2