
Satu tahun kemudian ....
Tidak terasa memang waktu yang dilewati setiap harinya bisa berjalan dengan begitu cepat. Sama seperti waktu yang dilewati Ervita dan Pandu. Satu tahun sudah berlalu, dan keluarga mereka berdua senantiasa dilimpahi dengan kebahagiaan yang tiada tara.
Irene yang sekarang sudah berusia 1,5 tahun. Bayi kecil itu sudah bisa berjalan dan bisa mengucapkan beberapa kosakata. Lebih lucu, caranya memanggil Ayah dan Bundanya, persis seperti Indi yang memanggil Yayah dan Nda. Hanya saja, suara Irene begitu melengking.
"Yayah ...."
Suara keras dan melengking Irene sampai membuat Pandu tertawa setiap kali putri bungsunya itu memanggilnya. Pria itu berdiri dan kemudian memangku Irene.
"Ya, Sayang ... Adik panggil-panggil Yayah yah? Ihh, kayak Mbak Didi yah ... memanggilnya Yayah. Putrinya Yayah," ucap Pandu.
Memang sangat lucu, Irene dan Indi yang semakin besar kadang menjadi hiburan tersendiri untuk Pandu. Walau kadang, Irene dan Indi juga sudah bisa berebut boneka. Kadang jika berebut boneka, Pandu dan Ervita justru tertawa. Tingkah kedua anak-anaknya sangat menggemaskan malahan.
Kosakata yang bisa dikuasai Irene juga belum banyak. Hanya sekadar Nda, Yayah, dan Apa. Lainnya, dia masih menggunakan bahasa bayi layaknya melakukan bubbling.Tak jarang juga, air liurnya sampai keluar. Namun, memang masanya bayi seperti itu dan Pandu bersama Ervita menikmati.
"Irene kenapa, Mas?" tanya Ervita yang baru saja dari dapur.
"Biasa nih, Nda ... panggil-panggil Yayah," balas Pandu yang kemudian berdiri dan menggendong Irene.
"Nanti jemput Indi di rumah Eyangnya ya, Mas ... sudah hampir sore," ucap Ervita yang meminta tolong kepada suaminya untuk bisa menjemput Indi di rumah Eyangnya. Memang sekarang Indi tengah bermain di rumah Eyangnya bersama dengan Lintang.
"Siap, Bunda ... nanti Yayah akan jemput Mbak Didi," balas Pandu.
Hingga akhirnya, Pandu menyerahkan Irene kepada Ervita. Sementara dia segera menghidupkan sepeda motor dan menjemput Indi di rumah orang tuanya. Sangat lucu, si kecil Irene yang melihat Yayahnya menstarter sepeda motor sudah menangis. Seakan si bayi kecil itu sudah tahu kalau Yayahnya hendak pergi.
__ADS_1
"Dada dulu sama, Yayah ... cuma sebentar kok Yayahnya, jemput Mbak Didi saja," ucap Ervita sembari menenangkan Irene yang menangis.
Pandu sebenarnya sedih kalau hendak berangkat bekerja, atau keluar rumah sebentar dan anak-anaknya sudah menangis. Seakan ingin ikut. Namun, kan kalau bekerja adalah kewajiban sehingga memang mau tidak mau, Pandu harus bekerja.
"Sebentar ya, Sayang ... Yayah jemput Mbak Didi dulu yah. Lima menit saja," balas Pandu.
Keluar dari pekarangan rumah, Pandu tersenyum sendiri. Memiliki gadis-gadis cantik di rumah yang posesif. Kadang Indi yang mengakuisisi dirinya dan nempel sepanjang hari. Sementara, Irene juga maunya dengan Yayahnya. Jika, Yayahnya melakukan hal yang lain, Irene akan menangis.
"Dua anak gadis di rumah membuat Yayahnya benar-benar kayak Raja Minyak. Bergerak sedikit saja tidak boleh. Untung saja, Bundanya sangat sabar," gumam Pandu seorang diri.
Begitu sudah di rumah orang tuanya, Pandu segera mengajak Indi untuk pulang. Sampai Ibunya pun menanyai Pandu.
"Kok buru-buru sih, Ndu?" tanya Bu Tari.
"Iya, Bu ... tadi waktu ke sini, Irene nangis. Kasihan, pengen ikut," balas Pandu.
"Dulu Didi juga begitu enggak Eyang?" tanya Indi dengan tiba-tiba kepada Eyang Uthinya.
Bu Tari mengangguk dan tertawa. "Iya, sama ... kamu dan Irene itu sama. Nangis kalau Yayahnya bekerja," balas Bu Tari.
Tidak bohong. Akan tetapi, Bu Tari mengucapkan fakta bahwa memang dulu sewaktu kecil Indi seperti itu. Sering menangis ketika Pandu hendak berangkat bekerja.
"Pulang yuk? Pamit dulu sama Eyang," ucap Pandu kemudian kepada Indi.
Indi kemudian menjabat tangan Eyang Putrinya. "Eyang Uthi, Didi pulang dulu yah. Nanti kalau libur, Didi main ke rumah Eyang lagi yah. Terima kasih banyak, Eyang," pamit Eyang.
__ADS_1
"Iya, hati-hati ya Mbak Didi," balas Bu Tari.
Setelahnya, Pandu mengajak Indi untuk menaiki sepeda motor dan pulang ke rumahnya sendiri. Di jalan Indi sudah begitu ceriwis dan mengajak Ayahnya bercerita banyak hal. Di jalan, sampai Pandu dan Indi beberapa kali tertawa bersama.
Ketika sudah tiba di rumah, rupanya Irene masih menangis. Sampai Indi bertanya kepada Ayahnya. "Yayah, Adik menangis yah?" tanyanya.
"Iya, tadi waktu Yayah mau jemput akmu, adiknya menangis," balas Pandu.
"Digendong dulu Adiknya, Yayah ... nanti Adiknya tambah menangis loh," balas Indi.
Mengikuti saran dari putrinya. Begitu sudah tiba di rumah, Pandu mencuci tangannya terlebih dahulu dan kemudian menggendong Irene. Ajaibnya, begitu sudah digendong Yayahnya, Irene benar-benar diam.
"Tuh, Adiknya jadi diem kan," ucap Indi.
"Iya, tadi itu pengen ikutan Yayah," balas Ervita.
Setelahnya, Indi bertanya kepada Yayah dan Bundanya. "Yayah dan Nda ... kan Didi sudah lima tahun. Boleh enggak kalau Didi sekolah?" tanyanya.
Tentu sebelum Indi bertanya, Pandu dan Ervita memang sudah merencanakan untuk menyekolahkan Indi ketika usia Indi sudah lima tahun. Sehingga, waktunya tepat hingga nanti masuk ke sekolah dasar.
"Mbak Didi mau sekolah di mana?" tanya Yayah Pandu.
"Di tempatnya Mbak Lintang gimana, Yah?" tanya Indi kemudian.
"Boleh ... besok kita mendaftar dulu yah. Nanti kalau berangkat bisa diantar Yayah, dan pulangnya barengan sama Mama Tiwi yah," ucap Pandu.
__ADS_1
Rupanya Indi pun menganggukkannya kepalanya. Sangat senang ketika keinginannya sekolah rupanya, memang disetujui oleh Ayah dan Bundanya. Di satu sisi, Pandu dan Ervita juga sudah mempertimbangkan dan berharap Indi bisa sekolah dengan lebih semangat nanti.