
Selang satu pekan berlalu, sekarang Taman Kanak-Kanak tempat Indi sekolah akan melakukan Outing ke Kepolisian Resort Kota atau Polresta. Tujuan dari dilakukan kegiatan ini supaya anak-anak mengetahui tugas seorang polisi dan tidak takut dengan seorang polisi. Sebab, biasanya anak-anak takut dengan Pak Polisi. Oleh karena itu, anak-anak akan diajak untuk mengunjungi kantor kepolisian.
Kali ini Pandu juga khusus libur untuk bisa mengantarkan Indi mengikuti Outing Class. Sementara Irene dititipkan kepada Eyangnya. Sehingga hanya Ervita dan Pandu saja yang menemani Indi ke kantor polisi. Sebagaimana kesepakatan bersama, bahwa anak-anak bisa berangkat sendiri-sendiri dari rumah, kemudian bertemu di Polresta. Para guru sudah menunggu di sana.
"Polisi itu apa, Yayah?" tanya Indi yang bertanya kepada Yayahnya tentang apa itu polisi.
"Yang dijalan memakai seragam cokelat di dekat lampu lalu lintas itu namanya polisi lalu lintas, Mbak ... nanti Mbak Didi juga akan tahu apa itu polisi," jelas Pandu.
"Menakutkan enggak Yayah?" tanya Indi lagi.
Sekarang Ervita dan Pandu sama-sama tersenyum. Kemudian Pandu menggelengkan kepalanya. "Enggak ... enggak serem kok. Kalau kita tidak bersalah, dan tidak melanggar peraturan, ya tidak serem," balas Pandu.
Sekarang, Indi yang menganggukkan kepalanya. Dia bisa mengerti maksud dan penjelasan dari Yayahnya itu. Hingga akhirnya, mereka sudah tiba di kantor kepolisian. Kemudian, sudah ada kelompok anak-anak TK berseragam olahraga yang sudah berkumpul. Ervita, Pandu, dan Indi pun usai memarkirkan mobilnya, kemudian mulai bergabung dengan anak-anak dari TK.
Ervita memang sengaja berdiri agak jauh, supaya Indi berani dan mandiri. Tidak hanya maunya dengan Yayah atau Ibunya saja. Sebab, di sana ada juga seorang anak yang hanya mau dengan orang tuanya saja. Ketika disuruh bergabung dengan teman-temannya justru menangis.
Di sana Ervita dan Pandu juga memperhatikan anak-anak yang lain. Sudah ada yang berbaris dengan Bu Guru, ada juga berlari-lari. Sementara, Lintang kala itu baru datang. Tampak Lintang yang juga ceriwis, menyapa Om dan Buliknya.
"Om Pandu ... Bulik Ervi ...."
Anak itu menyapa dengan langsung Om dan Buliknya dengan menggandeng tangan keduanya. Membuat Pandu dan Ervita juga kaget.
__ADS_1
"Eh, Mbak Lintang ... sama siapa, Mbak Lintang?" tanya Ervita.
"Sama Mama aja kok, Bulik ... Papa bekerja, jadi sama Mama aja," balas Lintang.
Tidak lama kemudian tampak Pertiwi yang datang dan bergabung dengan Pandu dan Ervita. "Kalian udah duluan yah?" tanya Pertiwi.
"Iya, Mbak ... baru lima menit tadi kok," balas Ervita lagi.
"Kena lampu merah tadi, jadi baru sampai. Untung enggak telat," balas Pertiwi. Kemudian dia berbicara kepada Lintang. "Mbak Lintang, sana sama anak-anak TK B yah."
Akhirnya, Lintang bergabung dengan anak-anak sekelasnya karena Lintang sudah lebih besar sehingga teman-temannya tidak ada yang menangis. Tidak seperti kelompok TK yang kecil dan juga anak-anak KB.
"Pandu dulu waktu kecil juga kayak gitu, Vi," tunjuk Pertiwi kepada anak TK yang kala itu menangis. Ceritanya adiknya dulu seperti itu. Suka menangis.
"Kenapa Nda?" tanya Pandu.
"Kamu dulu seperti itu ya, Mas? Sukanya menangis?" tanya Ervita dengan kembali tersenyum.
"Endak lah, Nda ... aku cakep kok sejak kecil," balas Pandu dengan tertawa.
"Bohong, Vi ... sukanya nangis. Kemana-mana maunya dianterin Ibu. Gak mau ditinggal sama Ibu," cerita Pertiwi lagi.
__ADS_1
"Udah lah, Mbak ... gak usah diceritain," ucap Pandu sekarang kepada Pertiwi.
Hingga akhirnya ada beberapa polisi yang mulai untuk memberikan arahan, dan juga mengajak anak-anak bernyanyi. Ada lagu polisi dan lampu lintas. Anak-anak sangat bahagia dan mendengarkan arahan dari polisi dengan baik. Ikut menyanyi. Ikut mengucapkan rambu-rambu lalu lintas mulai dari Dilarang Berhenti, Tikungan, dan juga Dilarang Parkir.
"Kayak pelayanan masyarakat ya Mas," ucap Ervita kepada suaminya.
"Bener, Nda ... kan ada divisi pelayanan masyarakat kayak gini di kantor kepolisian, Nda," balas Pandu.
Hampir satu jam anak-anak mengikuti pengarahan dan cerita dari para polisi. Setelah itu, anak-anak mendapatkan kesempatan untuk menaiki mobil polisi. Masing-masing anak mengantri untuk menaiki mobil polisi. Hingga perhatian Ervita dan Pandu, itu juga karena ada ada anak kecil laki-laki yang berjalan di samping Indi. Anak laki-laki itu hanya mau naik mobil polisi dengan Indi.
"Itu sama Indi terus loh. Kalau di sekolah, katanya Lintang ... Indi selalu main sama anak itu dan dua anak cewek," cerita Pertiwi.
Itu juga karena Lintang juga sering bercerita kepada Pertiwi bahwa Indi sudah memiliki teman-teman di sekolah. Ervita pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Oh, itu namanya Satria, Mbak ... itu yang menangis di hari pertama sekolah. Indi cerita tuh sama Yayahnya," balas Ervita.
Ya, anak yang berdiri di samping Indi itu adalah Satria. Dia adalah anak yang menangis waktu hari pertama sekolah. Dia juga yang diceritakan Indi kepada Yayahnya waktu Yayahnya menjemputnya pulang dari sekolah.
"Pandu dulu juga kayak gitu. Nangisan. Cengeng," balas Pertiwi dengan nada menggoda.
"Ya, kan masih kecil, Mbak ... sekarang aku sudah jadi pria dewasa. Bisa tanggung jawab kepada istri dan anak-anak," balas Pandu dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
Ya, semua adalah cerita di masa lalu. Sekarang, dia sudah berubah menjadi pria dewasa yang bisa bertanggung jawab penuh kepada anak dan istrinya. Lebih dari itu, Pandu juga bisa memberikan sandaran secara utuh dan penuh untuk istrinya.