Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Pertunangan Firhan


__ADS_3

Sementara itu di kota Solo, rupanya Firhan akan melangsungkan pertunangannya dengan Tiana. Setelah beberapa tahun berpacaran, akhirnya pria itu akan benar-benar bertunangan dengan Tiana. Pertunangan Firhan pun hanya berselang dua hari saja dari pernikahan Ervita dengan Pandu. Apakah ini memang sudah direncanakan sebelumnya, atau dilakukan secara dadakan.


Petang itu, keluarga Firhan bersama dengan perwakilan dari RT, dan tetangga di kanan dan kiri pun akhirnya pun menuju kediaman Tian dan hendak melangsungkan acara pertunangan.


“Permisi,” sapa pihak keluarga Firhan yang datang ke kediaman Tiana.


Rupanya dari pihak keluarga Tiana pun sudah menunggu dan menyambut baik kedatangan dari keluarga Firhan. Bagaimana Tiana dan Firhan sudah berpacaran lama, sejak keduanya sama-sama kuliah. Sehingga dari pihak keluarga Tiana pun merasa juga berlama-lama pacaran jika tidak segera melangsungkan pernikahan.


“Mari-mari silakan masuk,” sapa kedua orang tua Tiana yang mempersilakan masuk keluarga Firhan dan tokoh masyarakat yang hadir sebagai saksi bahwa pertunangan sudah dilangsungkan.


“Permisi … ini kami datang ke mari untuk menjalin silaturahmi dengan pihak keluarga Hartanto, dan juga mengikat Tiana dalam hubungan pertunangan dengan putra kami, Firhan,” ucap Pak Supri yang kala itu menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya.


Hingga keluarga itu, diterima dengan baik di sana, dan lantas dilakukan acara tukar cincin. Tampak kini Firhan berdiri di hadapan Tiana, pria itu tersenyum menatap kekasihnya yang tidak akan lama lagi akan menjadi istrinya.


“Tiana, cincin ini adalah tanda bahwa hubungan kita berdua akan lebih serius ke depannya. Kuharap, usai ini kita bisa menikah dan meresmikan hubungan kita,” ucap Firhan. Hingga kemudian dengan hati-hati Firhan menyematkan cincin di jari manis Tiana.


Setelahnya, giliran Tiana yang memasangkan cincin di jari manis Firhan. Bukan hanya cincin pertunangan. Akan tetapi, pihak keluarga Firhan juga sekaligus memberikan seserahan berupa set pakaian wanita, kain kebaya dan jarik, perhiasan, dan juga uang tunai. Memang biasanya di kalangan masyarakat ada yang memberikan seserahan pernikahan sewaktu tunangan, tetapi ada juga yang memberikan seserahan pernikahan di malam midodareni. Semuanya baik dan juga tentunya sesuai kesepakatan pihak keluarga pria.


Usai tukar cincin, kedua keluarga pun berembug untuk menentukan hari yang baik bagi keduanya. Memang semua hari itu baik, tetapi dalam perhitungan Jawa akan mencari hari yang lebih baik dan memberikan berkah untuk kehidupan berumah tangga.


“Jadi, kapan pernikahan Firhan dan Tiana bisa dilangsungkan?” tanya Pak Hartanto.


“Mari silakan Pak … kami ngikut saja,” balas Pak Supri.


“Bagaimana kalau satu bulan lagi Pak?” balas Pak Hartanto.


“Ya, baik … tidak masalah,” balas Pak Supri lagi.

__ADS_1


Setelahnya, pihak keluarga dan juga tokoh masyarakat yang datang pun menikmati hidungan yang disajikan. Sementara Firhan mengajak Tiana untuk berbicara berdua di depan.


“Sudah lega kan? Aku akan menikahi kamu,” ucap Firhan dengan menatap wajah pacarnya itu.


Tiana pun menganggukkan kepalanya, “Iya … cuma harus menunggu satu bulan lagi yah,” sahutnya.


Firhan pun tertawa, “Enggak sabar banget ya mau nikah sama aku? Mau merasakan malam pertama,” balas Firhan dengan melirik Tiana.


“Huss, ngaco aja sih,” balas Tiana dengan memanyunkan bibirnya kepada Firhan di sana.


Lagi-lagi, Firhan pun tertawa di sana, “Besok hari Minggu … kita ke Tawang Mangu yuk, Yang. Ngadem,” ajaknya kepada Tiana.


Terlihat Tiana menatap Firhan di sana, “Hobi banget sih ngajakin ke Tawang Mawang,” balasnya.


Sekali lagi Firhan pun tertawa, “Iya … ngadem, menikmati udara segar di kaki Gunung Lawu. Adem kan enak, Yang,” balasnya.


Firhan tertawa, karena memang ketika melangsung pesta pernikahan itu biasanya pihak keluarga wanita yang lebih repot. Bisa mencari gedung, memesan katering, membuat kebaya, dan lain-lain. Sementara pihak keluarga pria cukup datang, mengucapkan akad dan melangsungkan resepsi. Acara bisa dilanjutkan jika memang pihak keluarga pria ingin melakukan ‘Ngunduh Mantu’ di mana pihak keluarga pria akan melangsungkan pesta lagi. Akan tetapi, sekarang biasanya cukup mengadakan satu kali pesta saja.


Firhan pun menganggukkan kepalanya. Lebih baik menunggu waktu sampai dua minggu, dan juga menunggu acara pernikahannya. Ada sebuah rencana yang sudah Firhan susun sebelumnya untuk mengajak Tiana ke kaki Gunung Lawu itu. Apakah yang hendak Firhan lakukan sebenarnya?


***


Sementara itu di Jogjakarta ….


Malam itu, Pandu masih menonton film kartun kesukaan Indira. Agaknya, sudah dua hari tinggal bersama Pandu, Indira justru semakin lengket dengan Pandu. Setiap kali ada kesempatan Indira selalu menempel dengan Ayahnya itu. Ervita pun sampai geleng kepala.


“Setelah punya Ayah, Indi kayak enggak butuh Bundanya,” ucap Ervita dengan lirih.

__ADS_1


Pandu pun tersenyum di sana, “Ayahnya Indi selalu butuh Nda, nya kok,” balas Pandu.


“Apa dia baru seneng-senengnya punya Ayah ya Mas?” tanya Ervita kemudian.


Dengan cepat Pandu pun menganggukkan kepalanya, “Iya mungkin, Nda … dulu kan lihat Lintang sama Papanya menangis, sekarang Indi sudah punya Ayah sendiri.”


Ervita pun kembali tersenyum mendengarnya, “Makasih sudah mewujudkan keinginan Indi untuk memiliki Ayah,” balasnya.


“Sama-sama Dindaku … terima kasih juga sudah menerima pinanganku,” balas Pandu.


“Yayah, num cucu,” pinta Indi kali ini kepada Ayahnya yang ingin minum susu. Mungkin juga karena hari sudah malam, sehingga Indi meminta minum susu dan setelahnya akan tidur.


“Biar Bunda buatkan yah,” balas Ervita.


Akan tetapi, Indira justru menggelengkan kepalanya, “Uatin Yayah oleh? (Dibuatkan Ayah boleh?),” tanyanya dengan menunjukkan kedua bola matanya yang bening dan seakan berharap Ayahnya yang akan membuatkannya susu.


“Ya, Ayah buatkan yah,” balas Pandu yang mengusapi puncak kepala Indi, dan kemudian membuatkan susu untuk Indira.


Hanya beberapa menit menuju dapur, Pandu sudah kembali dengan membawa dodot berisi susu hangat rasa vanilla khusus untuk Indira itu. “Ini … diminum yah, cuma sekarang sudah malam, jadi kita bobok yah. Sudah nonton tv-nya, besok nonton lagi sama Ayah yah,” ucap Pandu.


Indira pun menganggukkan kepalanya, “Ya Yayah … bobok sama Yayah dan Nda,” sahutnya.


Akhirnya, Ervita dan Pandu pun menuju ke dalam kamar tidur Indira. Mereka menidurkan Indira terlebih dahulu. Di atas tempat tidur, tampak Indira mencium pipi Ayah dan Bundanya secara bergantian.


“Ayang Yayah Nda,” ucapnya.


Pandu dan Ervita pun sama-sama memeluk Indira yang berbaring di tengah-tengah, di antara keduanya di sana. “Iya kami juga sayang Indi,” balas keduanya dengan mencium pipi Indi.

__ADS_1


__ADS_2