Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Kekalutan Seorang Ibu


__ADS_3

Menolong orang lain yang sedang membutuhkan, tidak lepas dari karakter seorang Pandu Hadinata yang memang begitu suka menolong. Memang begitulah Pandu, seseorang yang hatinya mudah tersentuh dan tidak segan untuk menolong orang lain. Memang sebelumnya, Ervita lah yang meminta supaya suaminya itu bisa menolong Bu Yeni, tetapi memang Pandu sendiri tidak segan untuk menolong mereka yang membutuhkan.


“Mari saya antar, Bu,” ucap Pandu yang sudah berdiri dan membawa kunci mobilnya.


“Terima kasih Mas ….”


Untuk memberi teman, di sana Pandu mengajak serta Tanto, supaya dirinya tidak begitu canggung. Perjalanan menuju Rumah Sakit dari rumah Ervita hanya sekitaran sepuluh menit saja, kemudian mereka bertanya pasien atas nama Firhan kepada petugas Rumah Sakit.


“Permisi, kami mencari pasien atas nama Firhan?”


Kali ini Pandu yang menanyakan karena memang Bu Yeni terlihat begitu kalut dan juga air matanya yang berlinang. Sehingga Pandu yang menanyakan kepada petugas di Instalasi Gawat Darurat di Rumah Sakit itu.


“Pasien kecelakaan yah? Silakan ke sana,” ucap sang perawat dengan ada yang memandu mereka untuk menuju tempat Firhan di rawat.


Bu Yeni, Pandu, dan Tanto yang melihat Firhan begitu iba. Di brankar, ada seorang pria yang berbaring, kakinya diperban dan juga pelipisnya. Tidak hanya itu bagian tangannya juga ada beberapa luka.


“Firhan,” ucap Bu Yeni dengan tangisan yang sudah pecah.Hatinya sebagai seorang ibu begitu hancur melihat anaknya berbaring lemah di brankar kesakitan.


Kemudian Dokter yang ada di sana menjelaskan kepada Bu Yeni perihal kondisi Firhan sekarang ini kepada Bu Yeni.


"Pasien mengalami korban kecelakaan tunggal, mobilnya juga peyok di sana-sini. Terjadi pendarahan di pelipisnya, lengannya terdapat lecet, dan kaki kirinya patah. Untung saja tidak ada pendarahan di belakang kepala, sehingga meminimalisir terjadinya gegar otak. Pasien mengalami pendarahan sebelumnya di pelipisnya, kaki sebelah kirinya patah, dan juga beberapa luka di bagian tubuh lainnya. Saat ini pasien masih dalam pengaruh obat bius, sehingga pasien masih tak sadarkan diri. Setelah ini, pasien akan segera dipindahkan ke dalam ruang perawatan.” penjelasan dari Dokter tersebut.


"Butuh berapa lama untuk pulih?" tanya Pandu kemudian.


"Paling lama di kakinya, kurang lebih sebulan dan harus melakukan terapi. Kakinya yang patah mungkin akan membuatnya berjalan tidak sempurna, ketidakseimbangan dalam berjalan," ucap sang Dokter.


Mendengar penjelasan dari Dokter, Bu Yeni menangis dengan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Tadi, Firhan pamit untuk menghadiri pernikahan. Akan tetapi, baru sekitaran dua jam berlangsung, kondisi Firhan sudah begitu mengenaskan seperti ini. Kian sakit rasanya ketika Dokter mengatakan bahwa kondisi kakinya memungkinkan Firhan tidak bisa berjalan dengan sempurna.


"Kedua kakinya masih bisa untuk berjalan. Hanya saja, kaki kiri fungsinya akan lebih lemah, sehingga kaki kananlah yang harus menopang tubuh dan berjalan. Dengan terapi, semuanya bisa diperbaiki dengan baik."


Bu Yeni pun menganggukkan kepalanya. Berusaha menerima kenyataan walau sebenarnya ini adalah kabar yang sangat tidak baik untuknya. Di rumah, suaminya juga terus diterapi untuk pulih dari serangan stroke. Bibir yang semula terlihat penceng, sekarang sudah mulai normal. Sementara Firhan juga akan terus diterapi terutama dengan patah kaki yang dia alami.

__ADS_1


Di sana juga, ada beberapa hal yang harus ditanda tangani oleh Bu Yeni. Sementara Pandu dan Tanto kini menunggu di luar.


"Kecelakaan mobil ya Mas?" tanya Tanto.


Pandu pun menganggukkan kepalanya, "Iya ... padahal tadi kami ketemu di tempat pernikahan," balas Pandu.


"Kok bisa ya Mas ... padahal jalanan kota Solo tidak lebar dan bisa kecelakaan mobil. Mau ngebut saja tidak bisa loh Mas, di Solo itu. Dikit-dikit lampu lalu lintas, dan pengguna jalannya banyak. Heran aku, Mas," ucap Tanto.


Memang begitulah kondisi jalanan di kota Solo, yang memang banyak pengendara entah itu mobil, sepeda motor, dan bus yang membuat jalanan begitu penuh. Memacu mobil dengan kecepatan tinggi rasanya juga tidak bisa.


"Aku kurang tahu juga ... tadi cuma bertemu di acara nikahan temannya Dinda," balas Pandu.


Kali ini Tanto justru tersenyum, "Romantisnya Mas ... panggilnya Dinda loh," ucapnya.


"Iya, panggilan sayang," balas Pandu.


"Kita di sini sampai kapan Mas?" tanya Tanto lagi.


Tanto pun kemudian menganggukkan kepalanya, "Oke Mas ... katanya dia sudah jahat kepada Mbak Ervi, tapi Mas Pandu masih mau menolong," ucap Tanto dengan menghela nafas.


"Membantu orang lain jangan melihat dulunya dia menyakiti atau enggak. Selagi masih bisa membantu ya sudah dibantu saja. Itu ajaran dari Bapak dan Ibukku," balas Pandu.


Memang itulah ajaran dari kedua orang tuanya. Jika membantu orang lain masih mengingat apa yang sudah terjadi di masa lalu. Selamanya hati hanya akan tertutup oleh amarah dan dendam. Selagi masih bisa membantu, lebih baik membantu.


"Keren Mas ... kadang sekarang mana bisa Mas. Sekalinya dendam ya sudah dendam saja," balas Tanto.


Pandu pun tersenyum, "Semarah apa pun jangan dendam. Ya, waktu emosi memuncak marah ya marah aja waktu itu. Besoknya sudah dilepaskan, jangan mendendam lagi," balasnya.


Bu Yeni yang mengurus administrasi pun kini kembali mendatangi Pandu dan Tanto di sana. "Sudah Mas ... terima kasih bantuannya. Mas Pandu dan Mas Tanto kalau mau pulang, silakan," ucapnya.


"Sudah semua administrasinya Bu?" tanya Pandu.

__ADS_1


"Sudah Mas Pandu ... memakai KIS tadi, mengumpulkan fotocopy dan KTP tadi. Nanti akan diuruskan Rumah Sakit," balas Bu Yeni.


Syukurlah untuk perawatan dan pengobatan pun bisa dicover oleh asuransi kesehatan dari pemerintah tersebut. Jika tidak, sekarang mungkin tagihan sudah mencapi belasan juta Rupiah. Tentu akan lebih membebani Bu Yeni.


"Terima kasih banyak Mas Pandu ... anak saya yang tidak benar, dan suka menyakiti Ervita sekarang malahan ditolong sama suaminya Ervi," ucap Bu Yeni dengan menundukkan wajahnya.


"Tidak usah berkata demikian Bu ... selagi saya bisa akan saya bantu," balas Pandu.


Sebelum pulang, Pandu juga membelikan roti dan air minum untuk Bu Yeni terlebih dahulu. Setidaknya ketika menjaga orang sakit, ada yang bisa dimakan dan diminum Bu Yeni di sana. Kemudian Pandu dan Tanto berpamitan untuk pulang. Banyak yang mereka renungkan kali ini, pentingnya berkendara karena kesaksian dari Dokter mengenai mobil Firhan yang peyok di sisi kiri dan juga mengendalikan emosi. Dalam benak Pandu pastilah ada kaitannya dengan pernikahan Tiana dan Rudy yang membuat Firhan merasa ditikung dan dikhianati. Terlebih melihat Ervita yang membuat Firhan makin marah saja. Akan tetapi, Pandu berpikir bahwa bukan kesalahan Ervita. Yang ada istrinya itu adalah korban. Akan tetapi, orang sering kali menyalahkan orang lain untuk apa yang menimpa dirinya.


***


Dear My Bestie,


Bestie juga silakan mampir dan mendukung karya berikut ini yah ... :D


1. Hilangnya Cinta Suamiku karya Syasyi



2. Innallaha Ma'ana Sesungguhnya Allah Bersama Kita karya Santi Suki



3. Pemandu Hati Pengganti karya Chika Shi



Terima kasih semuanya. Bagi yang suka cerita Author, silakan follow nama pena Author untuk mendapatkan update cerita terbaru dan juga akan banyak cerita baru yang akan terbit bulan depan. Dukung selalu yah ...


Love U All,

__ADS_1


Kirana


__ADS_2