
Berdiri di antara ya dan tidak. Merasa gamang dan gusar, itulah yang Firhan rasakan sekarang ini. Dia bingung dengan apa yang harus dia pilih. Di satu sisi, dia tidak ingin kehilangan Wati lagi. Sementara di sisi yang lain, dia juga malu jika harus datang dan meminta maaf.
"Yang dikatakan Wati barusan benar, Firhan. Datanglah dan meminta maaf. Apa perlu Ibu juga menemani kamu?"
Sekarang giliran Bu Yeni yang memberikan dukungan kepada Firhan. Bu Yeni setuju dengan apa yang Wati sampaikan. Oleh karena itu, dia menawarkan diri untuk turut menemani Firhan mendatangi ke rumah Ervita. Yang Bu Yeni tahu, jika sekarang Indi ada di Solo, jadi mungkin saja Ervita juga ada di Solo. Lebih baik memanfaatkan momentum ini untuk meminta maaf.
"Baiklah, Firhan akan ke sana dan meminta maaf," ucapnya.
Sampai pada akhrinya, Wati juga bersiap. Dia sudah benar-benar membesarkan hatinya. Akan menemani suaminya itu. Pemikiran Wati sekarang ketika suami berdosa, istri pun juga berdosa. Walau ada dosa individu. Namun, ketika seseorang berdosa dan kita tahu tapi berusaha diam dan tidak terusik, justru kitalah yang bersalah. Wati hanya ingin usai ini suaminya menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Menjadi sosok pria yang mau bertanggung jawab dan juga berani mengakui kesalahan.
Tidak ada kesalahan besar atau kecil. Tidak ada dosa besar dan juga dosa kecil. Semua dosa itu nilainya sama di mata Allah karena dosa adalah melanggar perintah Allah, melakukan yang tidak baik. Yang Wati inginkan, usai semua ini suaminya lebih peka dengan hati nuraninya. Ketika bersalah, tidak perlu menunggu waktu lama untuk meminta maaf.
Sekarang, Firhan dan Wati menaiki sepeda motornya, dan mereka benar-benar mengunjungi rumah keluarga Ervita. Tidak dipungkiri dada Firhan berdebar-debar. Suhu tubuhnya meningkat, bahkan keringat dingin sesekali muncul begitu saja. Ada rasa takut yang melingkupi diri Firhan.
Hingga akhirnya, sepeda motor Firhan sekarang sudah berhenti tepat di depan rumah Ervita. Kali ini, Wati menganggukkan kepalanya, memberikan kode kepada suaminya untuk berani melangkah. Tidak menghindar lagi.
"Assalamualaikum ... permisi," ucap Wati.
Jujur, Wati sendiri juga merasa gentar sekarang. Akan tetapi, untuk melakukan apa yang baik, lebih baik memang dia harus berani melangkah dan terus mendampingi suaminya.
"Waalaikumsalam," sapa Bu Sri.
__ADS_1
Jujur saja Bu Sri juga merasa kaget mendapati Wati dan Firhan yang sekarang datang ke rumahnya. Sebagai orang tua ada juga perasaan bahwa semua ini berkaitan dengan kedatangan Ervita ke Solo.
"Permisi Bu ... saya dengar Ervi datang dari Jogjakarta. Apakah saya bisa berbicara dengannya?"
Sekarang giliran Firhan yang berusaha untuk berbicara. Walau ada kemungkinan ditolak, tapi sekarang dia berani melangkah. Sangat terlambat memang, karena sudah berlalu hampir lima tahun.
"Ada Mas ... masuk dulu," balas Bu Sri.
Pak Agus, Mei, dan Tanto juga melihat tamu yang bisa dikatakan spesial ini. Namun, mereka sepakat untuk tidak ikut campur. Pastilah ada yang sesuatu yang sangat penting sekarang. Untuk itu, Mei, Tanto lebih memilih mengajak Indi dan Irene untuk naik ke lantai dua. Sementara Bu Sri dan Pak Agus hanya memanggilkan Ervita saja, setelahnya mereka lebih memilih keluar dari rumah. Ervita pun menemui keduanya dengan didampingi oleh Pandu.
Ketika dia melihat Firhan datang ke rumahnya. Wajahnya menunduk, sontak ada rasa tidak enak. Sementara Pandu menggenggam tangan Ervita, pria itu memberikan remasan perlahan. Seakan menyatakan kepada Ervita bahwa dia akan selalu mendampinginya.
"Vi, lama tidak bertemu," ucap Firhan. Sebuah kalimat pembuka yang tentunya akan masuk ke dalam pembahasan yang lebih serius.
"Hmm, iya," balas Ervita sekenanya saja.
Wati kali ini juga menyentuhkan telapak tangannya memberi tepukan di dekat lutut suaminya. Mengisyaratkan kepada suaminya untuk berani berbicara. Tidak perlu menunda-nunda lagi niat baik di dalam hati.
"Hmm ... uhm, begini Vi ... aku datang ke mari untuk silaturahmi, sekaligus aku ingin meminta maaf kepada kamu. Maafkan untuk masa lalu yang pernah terurai di antara kita. Maafkan aku yang banyak dosa kepadamu dulu. Aku benar-benar minta maaf, Vi," ucap Firhan sekarang.
Ervita terdiam. Tidak ada angin, tidak ada hujan. Masa lalu yang bergulir hampir lima tahun yang lalu, baru sekarang Firhan datang dan meminta maaf. Namun, jauh di dalam hatinya tidak ada lagi dendam untuk Firhan. Ervita sudah menerima takdirnya dengan ikhlas. Menutup masa lalu, dan meraih masa depan bersama dengan suaminya.
__ADS_1
"Dulu tindakanku sangat berdosa, Vi ... aku yang mengambil kehormatanmu, tidak mau bertanggung jawab, dan menolak anak itu. Banyak dosa aku kepadamu, Vi. Setelah mengalami banyak fase dalam hidup dan dorongan dari istriku, aku ke mari untuk minta maaf," ucap Firhan lagi.
Ervita yang semula diam pun, sekarang mengeluarkan suaranya.
"Aku memaafkanmu, Han ... jauh sebelum kamu minta maaf, aku sudah memaafkanmu," jawab Ervita.
Mendengar apa yang dikatakan Ervita, air mata Firhan lolos begitu saja. Dia kira selama ini Ervita sangat membencinya. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, Ervita sudah memaafkannya. Wati juga menitikkan air matanya. Wanita yang dia lihat benar-benar berjiwa besar, mau untuk memaafkan bahkan ketika Firhan belum sempat mengucapkan maaf.
"See ... serius, Vi?" tanya Firhan.
"Iya, aku tidak pernah dendam kepadamu, Han. Namun, semua tentang kita sudah berlalu. Jadi, biarkan saja berlalu. Tidak perlu dibuka lagi. Aku sudah menikah dan bahagia bersama suamiku, Mas Pandu. Begitu juga kamu, bahagialah bersama istrimu," jawab Ervita.
Wati yang diam dan menitikkan air matanya, sekarang berkesempatan untuk berbicara. "Mbak Ervi, aku baru-baru saja mengetahui masa lalu Mas Firhan. Sebagai seorang istri, aku juga minta maaf ya Mbak. Maaf untuk salahnya Mas Firhan di masa lalu," ucapnya.
"Tidak usah minta maaf, Mbak ... tidak apa-apa," balas Ervita.
Begitu juga Pandu yang sekarang juga berbicara. "Yang disampaikan istriku barusan benar. Itu semua hanya masa lalu. Manusia tentulah akan memaafkan sesamanya. Jika Allah saja maha pemaaf dan maha pemurah, mengapa manusia yang diciptakan dari debu dan tanah justru menyimpan dendam dalam hatinya? Semuanya adalah masa lalu. Tidak apa-apa, Firhan. Jadikan ini pengalaman di masa depan," ucap Pandu.
"Ya, matur nuwun," balas Firhan.
Rekonsiliasi yang terasa canggung. Namun, berhasil untuk menutupi lembaran lama yang usang dan penuh debu. Yang pasti Firhan sudah meminta maaf, dan Ervita yang tidak dendam dengan Firhan. Sudah mengikhlaskan semua sebagai sebuah garis takdir yang harus dia terima dan jalani.
__ADS_1