Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Jauh Lebih Mulia


__ADS_3

Memang lidah tak bertulang, tetapi berapa banyak perkataan yang sifatnya menyakitkan yang bisa keluar dari lidah. Sama seperti hari ini di mana Ervita yang justru menerima perkataan yang kembali melukai hatinya dari sosok masa lalunya. Tak pernah Ervita mencoba mengusik Firhan. Sejak Ervita datang dengan membawa buku KIA dan hasil USG, seolah mengiba kepada FIrhan untuk memberi pertanggungan jawab, tetapi yang dia dapatkan justru penolakan, sejak saat itu Ervita tidak pernah lagi mengusik hidup Firhan.


Alih-alih membuat keluarganya menanggung malu, dia lebih memilih untuk pergi. Menjadi Ibu tunggal untuk Indira. Akan tetapi kini, hatinya kembali tersakiti mana kala Firhan dengan lantangnya menyebutnya sebagai barang bekas. Ya, barang yang sudah dipakai oleh dirinya. Sebuah ungkapan yang sangat menyakiti seorang wanita.


“Ayo, Nda,” ajak Pandu kemudian.


Sebagai seorang suami Pandu pun sangat tahu bahwa Ervita sedang tidak baik-baik saja sekarang ini. Pandu tahu bahwa apa yang barusan diucapkan oleh Firhan melukai hati dan perasaannya. Sehingga kini, Pandu mengajak Ervita menepi, mencari tempat duduk di area kampus itu, dan hendak menenangkan hati istrinya itu.


Kini, keduanya duduk di sebuah kolam dekat dengan Fakultas Pertanian, melihat tumbuhan Enceng Gondok yang tumbuh di beberapa area kolam, dan burung-burung gereja yang berkicauan pagi itu. Pandu pun duduk mendekat dengan Ervita di sana.


“Sudah tidak usah dipikirin,” ucap Pandu lagi kepada istrinya.


“Hmm, enggak kok Mas,” balasnya.


Pandu kemudian melirik kepada istrinya yang tampak menunduk dan tengah membenarkan resleting jaket yang dia kenakan, “Kenapa, pasti kamu tersakiti kan? Aku sangat mengenalmu, Dinda … sesakit apa pun perkataan orang itu, jangan dimasukkan ke dalam hati yah. Di mataku kamu tidak seperti itu. Di mata kamu jauh lebih berharga, Dinda,” ucap Pandu dengan menghela nafasnya.


Ketika suaminya mengatakan semuanya itu, seolah hati Ervita ditenangkan. Akan tetapi, rasa sakit itu masih ada. Sakit karena perkataan yang dilontarkan kepadanya. “Hmm, itu kan aku pernah berkata kepada kamu, Mas … sebelum pernikahan kita, aku ini bukan janda. Mereka yang menjadi janda, setidaknya mereka pernah bersuami. Akan tetapi, aku ini tidak pernah dinikahi oleh siapa pun. Ya, seperti ini, Mas. Beberapa orang tetap akan menimpakan cela atasku,” balas Ervita.


Pandu menatap lurus ke depan dan de-sah nafas yang terasa berat. “Tapi, tidak di mataku, Dinda … di mataku kamu adalah wanita yang berharga. Memang tak luput dari dosa, karena semua manusia pada dasarnya berdosa. Akan tetapi, tidak mudah menjadi kamu. Ya, kamu yang harus meninggalkan bangku kuliah, meninggalkan rumah, dan hidup terisolasi di Jogjakarta. Di sana kamu harus menunggu Kios Batik sampai 8 jam setiap harinya. Kamu hamil dan melahirkan sendirian. Mental kamu tetap terjaga itu sudah sangat baik, Dinda … kamu sudah melakukan semuanya dengan baik,” ucap Pandu lagi.

__ADS_1


Setitik air mata berpadu dengan senyuman tercetak jelas di wajah Ervita, “Makasih Mas Pandu,” ucap Ervita dengan melirik kepada suaminya itu.


“Sama-sama Dinda … jangan bersedih yah. Tidak mudah menjalani seperti kamu, mungkin selain kamu akan memilih aborsi dan juga menggapai mimpi yang lain. Akan tetapi, kamu mempertahankan nyawa, mempertahankan bayi yang lahir seperti lembaran kertas putih, bayi yang tidak berdosa. Kamu hebat, Dindaku,” ucap Pandu dengan menggandeng satu tangan Ervita di sana.


“Melakukan hubungan di luar nikah sudah berdosa Mas … kalau aku menggugurkan Indira waktu itu, mungkin aku yang sudah benar-benar gila. Aku yakin, semua yang terjadi di alam semesta ini ada hikmahnya. 


Indi yang lahir dan membesarkan hatiku. Indi yang lahir dan menemani kesepianku di tempat merantau. Aku sudah gagal menjadi anak yang berbakti dan membanggakan nama kedua orang tuaku, aku sudah gagal menjadi mahasiswa yang tidak akan pernah diwisuda, tetapi aku tidak mau gagal untuk menjadi Ibu bagi anakku. Ini bukan pengorbanan, tetapi sebatas aku menjalani kodratku," balas Ervita.


"Benar Dinda ... jadi sekarang jangan bersedih yah. Aku akan selalu melindungi kamu. Ya, walaupun aku tidak bisa melakukan kekerasan, Dinda. Mungkin orang lain akan naik darah dan meninju mulut harimau itu tadi. Akan tetapi, aku tidak pernah menggunakan tanganku untuk memukul dan meninju orang lain. Yakinlah, aku akan melindungi kamu dan Indi dengan caraku," balas Pandu.


Memang cara orang melindungi pun berbeda-beda. Pandu menegaskan bahwa untuk naik darah dan menghadiahkan sebuah tinju tidak bisa dia lakukan. Akan tetapi, dia akan tetap menjaga Ervita. 


"Iya Dinda ... Kanda janji sebisa mungkin tidak akan mengangkat tangan dan melakukan adu jotos, tapi percayalah bahwa aku akan selalu menjaga kamu," balasnya.


"Iya Mas ... aku percaya. Bukan hanya hari ini, sejak kita bertemu, sejak aku masih mengandung Indi, kamu sudah menjagaku. Terima kasih," balasnya.


Setidaknya kali ini Ervita bisa merasakan lebih tenang. Pandu pun juga berharap bahwa apa pun yang diucapkan oleh orang lain kepadanya, tidak usah terlalu dimasukkan ke dalam hati. Sebab, di matanya Ervita adalah wanita yang hebat, pernah menjadi Ibu tunggal sekian tahun lamanya untuk Indira.


"Lain kali, jika ada orang yang mengatakan yang buruk kepadamu, lupakan dan hiraukan. Sungguh, Dinda ... di mataku, kamu jauh lebih berharga. Nilai dirimu tidak ditentukan oleh omongan orang lain. Nilai dirimu ditentukan dengan karaktermu yang baik selama ini, dan aku menilaimu adalah wanita yang hebat, wanita yang lemah lembut, wanita yang terluka tapi bisa bangkit. Aku cinta kamu, Dinda," ucap Pandu dengan sungguh-sungguh.

__ADS_1


Ervita tersenyum dan lagi-lagi berurai air mata. Jika ada lidah bisa menghasilkan perkataan yang menusuk ke dalam hati, dari lidah juga bisa menghasilkan perkataan yang manis dan menenangkan hatinya. "Kamu bikin aku nangis bahagia, Kanda ... makasih karena awal tidak merendahkanku. Perasaanmu kepadaku juga bukan perasaan karena kasihan. Perasaan ini cinta kan Mas?" 


"Ini cinta kamu, Dinda ... aku cinta kamu," balas Pandu. 


Ya, bukan perasaan kasihan, bukan perasaan simpati, tetapi perasaan yang Pandu rasakan selama ini adalah cinta. Cinta kepada Ervita, yang semula tak terucap, kini dia bisa dengan leluasa mengatakan bahwa dirinya cinta kepada Ervita. 


Ervita pun tersenyum, “Ya sudah … pulang yuk Mas … nanti ditungguin orang rumah. Indi bisa nangis kalau Bunda dan Ayahnya tidak ada,” ajaknya kini.


Keduanya pun berdiri dan kembali berjalan menuju pintu gerbang belakang kampus, mengambil sepeda motornya yang diparkir di sana. Sepanjang perjalanan, Pandu berjalan dengan menggandeng tangan Ervita.


“Kamu kalau jalan sendirian kayak gini masih seperti mahasiswi loh, Nda,” ucap Pandu dengan melirik kepada Ervita.


“Apaan sih Mas … bikin aku melting loh kamu,” balasnya.


“Serius … kayak gadis,” balas Pandu dengan setengah berbisik di telinga istrinya itu.


Ervita pun tersenyum di sana, “Gadis beranak satu,” balasnya dengan tertawa.


Ini yang Pandu mau, begitu Ervita tidak hanya tersenyum dan berurai air mata, tetapi Ervita bisa kembali tertawa. Bukti bahwa perasaan Ervita sudah membaik sekarang. Pandu menjadi lega, wanita yang kini dia genggam tangannya itu memang adalah sosok yang kuat. Dia rapuh, tetapi dia tidak menyerah. Dia menderita dan sengsara, tapi dia tidak putus asa. Itulah nilai Ervita di mata seorang Pandu Hadinata. 

__ADS_1


__ADS_2