Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Berpapasan dengan Dia


__ADS_3

Sepanjang malam dilalui Pandu dengan mendamba akan sosok istrinya. Ingin mengajak istrinya berpetualang ke Swargaloka, apa daya sengan kondisi sekarang yang sama sekali tidak memungkinkan. Sehingga, semalaman Pandu hanya puas dengan memeluk tubuh Ervita dari belakang. Sesekali tangannya melingkari pinggang istrinya dan mendekapnya dari belakang.


Hingga menjelang subuh, Pandu sudah terbangun. Pria tampan itu tampak menggeliat dalam tidurnya dan terbangun. Dia tersenyum melihat Indira dan Ervita yang tidur saling memeluk satu sama lain. Tidak berniat membangunkan istrinya, Pandu pun segera keluar dari kamar dan dia hendak menuju Mushola menemani Ayah mertuanya yang menunaikan ibadah shalat di masjid yang berada di dekat rumah.


"Sudah bangun?" tanya Pak Agus melihat Pandu yang sudah keluar dari kamarnya.


"Sudah Pak," balasnya.


Rupanya Tanto juga sudah bangun dan hendak turut ke masjid bersama Bapak dan Kakak Iparnya itu. Kemudian ketiganya sama-sama meninggalkan rumah di pagi yang masih begitu redup itu, menunaikan ibadah terlebih dahulu. Hingga setelahnya, ketiga kembali pulang ke rumah. Ada Pak Agus yang mulai mengeluarkan sepeda motor dari dalam rumah, sementara Ervita dan Mei yang sudah bangun tampak mulai menyeduh Teh dan juga membuat kopi, menyajikan untuk para suami terlebih dahulu.


"Jalan-jalan pagi yuk Nda," ajak Pandu kemudian.


Agaknya pagi yang redup, udara yang juga masih segar, membuat Pandu ingin jalan-jalan pagi dengan mengajak istrinya. Sekaligus mengetahui kondisi kampung di rumah mertuanya itu. Apakah sama dengan di Jogja atau berbeda.


"Sana jalan-jalan saja sana ... kalau Indi bangun kan ada Ibu. Tidak apa-apa," balas Bu Sri yang memberi waktu untuk Pandu dan Ervita jalan-jalan bersama.


"Ke Sebelas Maret aja Mas," ajak Ervita kepada suaminya itu.


Ya, rumah Ervita begitu dekat dengan Universitas Sebelas Maret sehingga kali ini Ervita mengajak Pandu sekadar jalan-jalan di kampus itu Sesekali menikmati pagi dengan jalan pagi bersama.


"Naik motor aja Mas ... nanti di parkir di belakang, terus jalan-jalan," ajak Ervita kemudian.


Pandu pun meminjam sepeda motor milik Tanto dan kemudian memboncengkan istrinya itu menuju kampus untuk jalan-jalan pagi di sana.


"Pegangan Dinda, dulu kan kalau diboncengin sepeda motor enggak pernah pegangan. Sekarang pegangan dong," ucap Pandu kepada istrinya itu.


Ervita pun akhirnya melingkarkan tangannya di pinggang suaminya. Jujur, ini baru kali pertama boncengan dengan sepeda motor bagi keduanya dan bisa berpegangan seperti ini.

__ADS_1


"Nah, gini kan aman ... enak juga," jawab Pandu.


Ervita pun yang gemas lantas mencubit kecil perut suaminya itu, "Modus ... padune," balasnya.


Pandu pun tertawa, "Enggak yow ... enggak modus. Lebih aman boncengan kalau kamu pegangan kayak gini," balas Pandu dengan menaruh satu tangannya di tangan Ervita yang kini melingkari perutnya itu.


"Dinda dan Kanda kalau gini kan romantis, mesra," balas Pandu lagi.


Hingga beberapa menit berlalu, mereka memarkirkan sepeda motornya di pintu gerbang belakang kampus negeri di kota Solo itu, dan mulai berjalan-jalan bersama.


"Ini yah Kampus Bengawan itu. Kamu dulu kuliah di sini Nda?" tanya Pandu kemudian.


"Iya Mas ... dulu. Duh, jadi mellow," balas Ervita.


"Mellow kenapa Dinda?" tanya Pandu kemudian.


"Sabar Dinda ... jalan hidup manusia tidak ada yang tahu kan, kita sebatas menjalani saja apa yang Tuhan gariskan," balas Pandu dan perlahan pria itu menggandeng tangan istrinya.


"Bener Mas ... tapi aku gak mau meratapi masa lalu lagi. Boleh enggak sih kalau sekarang aku ingin bahagia?" tanyanya.


"Tentu boleh dong, Nda ... harus bahagia. Hidup bersamaku dan juga Indi, kamu harus bahagia," balas Pandu.


Ketika mereka berjalan dan melewati area Pasca Sarjana dari arah berseberangan rupawan ada Firhan yang kala itu sedang jogging pagi. Pria itu juga kaget melihat Ervita dan Pandu yang kini jaraknya hanya beberapa meter saja dari tempatnya sekarang.


Sementara Ervita, mengeratkan genggaman tangannya di tangan suaminya, ketika netranya bersitatap dengan Firhan di sana. Baru saja dia mengatakan ingin berbahagia, tetapi ada pria itu yang muncul di hadapannya.


Ketika keduanya berpapasan, rupanya Firhan menghentikan keduanya di sana.

__ADS_1


"Vi, Ervi ...."


Firhan memanggil. Satu panggilan yang membuat Ervita dan Pandu sama-sama menghentikan langkahnya.


"Kamu bahagia sekarang ya Vi? Setelah menghancurkan hidupku dan keluargaku," ucap Firhan dengan penuh amarah di dada.


Masih teringat di dalam benak Firhan bahwa salah satu penyebab Tiana tidak ingin menikah dengannya karena Tiana mengetahui bahwa ada masa lalu antara dirinya dan juga Ervita. Masa lalu yang menghasilkan seorang anak yang kini sudah berusia 2 tahun lebih.


"Sejatinya kehancuran di hidupmu terjadi karena tingkahmu sendiri. Apa yang kamu tabur itu juga apa yang kamu tuai. Jika kamu menabur ilalang, tidak mungkin akan tumbuh padi," balas Pandu.


Firhan pun berdecih di sana, "Ckck, sebegitunya kamu membela sosok wanita murah yang sudah menjadi bekasku," balas Firhan.


Ketika Firhan mengucapkan kata 'Bekas', jujur saja itu sangat melukai hati Ervita. Di samakan dengan sebuah barang yang tidak berharga, hanya sebatas barang bekas semata.


Tidak marah, Pandu justru tersenyum di sana, "Bagimu dia bekas, tapi bagiku dia adalah logam mulia. Belajar menghargai wanita karena kamu pun lahir dari rahim seorang wanita. Tidak perlu menyalahkan Ervita untuk setiap ilalang yang kamu taburkan di ladangmu sendiri," balas Pandu.


"Jangan harap aku akan mengakui anakmu itu!"


Firhan mengancam dan juga menatap tajam kepada Ervita di hadapannya.


Ervita pun menggelengkan kepalanya, "Tidak ... aku tidak akan mengharap apa pun darimu, Han. Sejak dulu, sejak kamu mengingkari janji dan menolak aku serta bayiku, sejak itu aku pernah berharap apa pun darimu," balas Ervita dengan tersenyum di sana.


"Bekas pakai!" Firhan berteriak membuat beberapa orang yang berjalan-jalan atau jogging di sana melihat kepada Ervita.


Pandu menghela nafasnya, "Pria sejati dan memahami harkat seorang wanita tidak akan mengucapkan demikian. Mulutmu harimau, Firhan." Pandu lantas menatap kepada Ervita di sampingnya, "Ayo, Nda kita pergi dari sini!"


Tidak ada gunanya untuk terus-menerus meladeni Firhan dan mulutnya yang mengaum layaknya harimau itu. Lebih baik pergi, Pandu lebih percaya bahwa semua yang dilakukan manusia itulah yang mereka tanam, sebanding dengan apa yang hendak manusia tuai, memang bukan esok, tetapi di masa yang akan datang.

__ADS_1


__ADS_2