
Firhan langsung mengatakan tujuan awal kedatangannya ke rumah mertuanya adalah untuk meminta maaf kepada Wati dan juga ingin membawa Wati kembali pulang ke Solo. Akan tetapi, kedua orang tua Wati pun cukup bijak. Mereka tidak mau terlibat, melainkan langsung dipersilakan untuk masuk ke dalam kamar Wati. Memulai pembicaraan berdua, dan berharap bisa menyelesaikannya dengan baik-baik.
"Wati, aktu datang ke mari karena aku ingin meminta maaf kepadamu. Selain itu, aku ingin mengajakmu untuk pulang ke rumah kita," ucapnya.
Bagi orang yang sebelumnya tidak pernah meminta maaf, kemudian berusaha untuk meminta maaf itu bukan perkara mudah. Namun, Firhan nyatanya bisa dan berani untuk mengucapkan kata maaf. Sungguh, Firhan sendiri merasa tidak mudah mengucapkan maaf.
Namun, Wati masih terdiam dan enggan untuk memberikan jawaban kepada Firhan. Hingga perlahan-lahan, Firhan mengambil tempat duduk di samping Wati, di tepi ranjang dari kayu, yang biasa disebut dipan itu.
"Aku bela-belain, malam-malam sampai ke sini hanya untuk kamu, Wati. Aku ingin minta maaf, untuk perilakuku yang selama ini tidak baik, aku berjanji akan memperbaikinya. Namun, untuk maaf kepada masa laluku, aku akan mempertimbangkannya lagi," balas Firhan.
Bahkan sekarang dia juga mengatakan dengan jujur. Apa yang terjadi dan terkait dengan sikapnya yang tidak sopan, Firhan akan berusaha memperbaikinya. Akan tetapi, untuk masa lalunya, Firhan akan mempertimbangkannya lagi.
"Aku tidak akan berbicara kasar kepadamu, aku juga tidak akan memaksamu untuk melakukan hubungan suami istri. Kita perbaiki semua bersama. Rumah tangga kita bisa menjadi lebih harmonis," ucap Firhan.
Alih-alih membahas masa lalu yang penuh luka, Firhan pun lebih memilih untuk memperbaiki rumah tangganya dulu dengan Wati. Ibarat kata melihat atap rumahnya, adakah atap yang bocor. Nah, dia akan segera memperbaiki atap yang bocor itu. Memastikan rumahnya lebih kokoh dan bisa ditempati.
"Jangan hanya diam, Wati. Sudah lama kamu berada di sini. Terlalu lama ikut Bapak dan Ibu juga tidak baik, Yang," katanya.
Wati yang semula diam dan kaget melihat suaminya yang malam-malam sampai di kediaman orang tuanya pun akhirnya berbicara. "Aku akan menerima, jika kamu memperbaiki rumah tangga kita. Selain itu, aku meminta kamu untuk berobat. Sebab, aku ingin memiliki keturunan," balas Wati.
Di dalam hal ini pun Wati berusaha berkata jujur dan memberitahukan keinginannya. Dia ingin memiliki keturunan. Oleh karena itu, dia meminta Firhan untuk mau berobat.
"Baiklah," jawab Firhan dengan lirih.
__ADS_1
Setelah itu, Wati memilih untuk berbaring dan mematikan lampu di kamarnya. Pikir Wati, kalau pun akan pulang ke Solo, sebaiknya juga pulang esok hari saja. Sekarang sudah terlalu malam untuk pulang ke Solo.
"Kamu mau tidur?" tanya Firhan.
"Hmm, iya. Kita pulang ke Solo besok saja," balas Wati.
Firhan kemudian menghela nafas panjang. Hari ini harus bermalam dulu di rumah mertuanya. Kemudian Firhan pun merebahkan dirinya di sisi Wati. Walau Wati memunggunginya, tapi Firhan memilih untuk diam.
"Mas, tapi ku minta, begitu ada kesempatan untuk meminta maaf. Minta maaflah. Dengan meminta maaf seseorang tidak akan kehilangan harga dirinya. Justru kamu akan disebut berbesar hati karena mau minta maaf," ucap Wati.
"Kalau aku bisa," balas Firhan.
Sekali lagi Firhan tidak ingin berjanji. Dia hanya mengatakan saja jika memang dia bisa. Lagipula, Firhan merasa masih belum bisa meminta maaf kepada Ervita.
Keesokan Harinya
Hari berkabut mendung. Ketika di Solo, biasanya surya menyapa dengan begitu hangatnya. Di sini, justru langit masih tertutup kabut, dan udara dingin justru menusuk ke tulang. Walau ingin menarik selimut, tapi Firhan sudah bangun. Sementara Wati sudah berada di dapur membantu ibunya untuk menyiapkan sarapan.
Hingga akhirnya, mereka sudah berkumpul untuk sarapan bersama. Firhan pun merasa canggung. Sejak menjadi menantu, baru kali ini dia menginap di kediaman mertuanya.
"Semalam bisa tidur Mas Firhan?" tanya Bu Utomo kepada menantunya itu.
"Bisa, Bu ... tapi dingin banget," balasnya.
__ADS_1
Bapak dan Ibu Utomo pun tersenyum. "Di kaki gunung ya sedingin ini Mas Firhan. Makanya lain kali main ke sini yang lama. Menginap beberapa hari. Biar bisa jalan-jalan ke Candi Sukuh, Candi Kethek, dan Air Terjun," ucap Pak Utomo.
Yang dikatakan oleh Pak Utomo benar. Sebab, di area Ngargoyoso, Karang Anyar ada beberapa tempat wisata dan situs sejarah seperti Candi Sukuh, Candi Kethek, dan Candi Cetho yang dipercaya peninggalan dari Kerajaan Majapahit. Lalu, ada Air Terjun Parang Ijo, dan ada Air Terjun Jumog. Jangan lupakan perkebunan teh yang begitu indah dan juga bisa dikunjungi untuk berswafoto.
"Baik Pak, lain kali saya akan ke sini lagi lebih lama," balas Firhan.
"Nah, sekarang ... mumpung sekarang kalian sudah duduk bersama. Bapak sebagai orang tua ingin memberikan nasihat. Setiap rumah tangga itu selalu ada permasalahannya. Tidak ada rumah tangga yang berjalan mulus. Namun, jangan segan untuk meminta maaf dan menyelesaikan masalah. Juga, untuk kamu, Wati. Jangan lagi kabur dari rumah. Niat kamu untuk menenangkan diri, tapi itu tidak benar. Rumah seorang istri adalah bersama suaminya. Harus diselesaikan baik-baik. Bapak harap, usai ini kalian berdua bisa lebih dewasa dalam menyingkapi masalah."
Bapak Utomo memberikan nasihatnya. Dalam sudut pandangnya juga Wati yang kabur dari rumah juga dinilai bersalah. Penilaian yang objektif karena Pak Utomo tidak membela anaknya sendiri. Kalau salah, anak juga harus dinyatakan bersalah.
"Maafkan Wati juga, Pak," balasnya.
"Bapak merasa sudah bagus ketika suami kamu mau datang ke mari untuk menjemput kamu. Lain kali, diingat-ingat lagi. Ketika ada masalah, langsung diselesaikan. Jangan datang ke sini ketika hati penuh amarah. Datanglah ke sini untuk menikmati liburan. Menikmati masa indah pernikahan. Siapa tahu, nanti Tuhan Allah titipkan momongan untuk kalian."
Wati yang mendengar nasihat dari Bapaknya merasa diingatkan dengan salahnya. Dia pulang ke rumah Bapaknya dalam keadaan hati penuh amarah. Sebal dengan suaminya sendiri. Namun, Wati juga merasa sedih sebab tidak tahu kapan dia dan suaminya akan diberikan momongan. Melihat seriusnya kondisi Firhan sekarang, agaknya memiliki keturunan itu sangat sukar.
"Bapak diakan, kalian akan bisa mendapatkan momongan. Atau lain kali, menghabiskan waktu di sini untuk bulan madu tidak masalah. Siapa tahu, udara dingin bisa membuat pasangan lebih rajin. Benihnya cepat bersemi nanti," ucap Pak Utomo lagi.
"Amin, doakan saja ya Pak. Semoga kelak Allah titipkan momongan untuk Firhan dan Wati. Kami juga menginginkan momongan juga," balas Firhan.
"Ya, Mas Firhan ... kalau belum dikasih berarti memang kalian berdua diminta untuk menikmati pacaran halal dalam pernikahan dulu. Semoga tidak lama lagi," balas Pak Utomo.
Usai sarapan, Firhan pun mengajak Wati untuk pulang ke Solo. Lega sudah hati Firhan karena bisa membawa pulang istrinya pulang ke Solo. Walau Wati masih irit berbicara, Firhan yakin nanti pelan-pelan Wati juga akan bisa bersikap lagi seperti biasa.
__ADS_1