
Akhir pekan tiba, Pandu memenuhi janjinya untuk mengunjungi babynya Firhan. Bahkan Pandu tak segan memboyong istri dan anaknya untuk bisa mengunjungi babynya Firhan dan Wati. Bersilaturahmi juga.
Walaupun, Indi juga masih bertanya-tanya kenapa mereka harus ke Solo dan mengunjungi keluarga Om Firhan. Akan tetapi, Pandu justru berusaha memberikan pengertian untuk putrinya itu.
"Apa Om Firhan itu saudaranya Yayah atau Nda sih? Kenapa harus ke Solo?" tanya Indi.
Dia bertanya-tanya, kenapa Om Firhan harus dikunjungi. Apakah itu karena Om Firhan adalah kerabat atau saudara Yayah atau Nda nya? Jika tidak ada hubungan kerabat atau saudara, kenapa harus mengunjungi ke sana.
"Ya, kan bersilaturahmi. Berkunjung untuk orang yang kita kenal tidak ada salahnya," balas Pandu.
"Apa benar begitu, Yayah?" tanya Indi lagi.
"Iya, nanti Indi kalau sudah besar juga begitu. Menjalin hubungan baik dengan orang-orang yang kita kenal. Jangan hitung-hitungan kala membantu orang lain. Biarlah hati kita selalu peka terhadap keadaan yang terjadi di sekitar kita," nasihat Yayah Pandu.
Sungguh, itu adalah sebuah nasihat yang baik. Seorang pribadi yang baik, akan bisa memberikan nasihat yang baik. Sebagaimana orang itu hidup dan berperilaku, begitu jugalah nasihat yang mereka sampaikan untuk anak-anak dan keturunannya. Sama seperti Pandu yang mengharapkan Indi tumbuh menjadi sosok yang peduli dengan sesamanya. Hati, pikirannya, bahkan kaki dan tangannya akan tergerak untuk membantu mereka yang memang membutuhkan.
"Iya, Yayahku," balas Indi.
Gadis kecil yang berdiri di belakang kursi kemudi Yayahnya itu, kemudian mendekati sang Yayah. Kemudian, dengan spontanitas Indi mencium pipi Yayahnya.
"Didi sayang Yayah. Yayah sangat baik," katanya.
Sementara Ervita yang duduk di samping suaminya, tersenyum melihat Indi dan Pandu. Keduanya tidak terikat oleh hubungan darah, tapi keduanya dipersatukan Allah karena hati. Bahkan Ervita sangat yakin, cinta dan kasih sayang di antara keduanya tumbuh sangat besar.
"Mbak Didi sayang Yayah yah?" tanya Ervita.
"Iya dong, sayang Yayah banyak-banyak," balasnya.
__ADS_1
"Yayah juga sayang Mbak Didi," balas Pandu.
Sekarang Pandu merasa lega. Indi memang kritis, tapi bukan berarti anak yang kritis tidak bisa diberikan pengertian. Layaknya mengisi air ke dalam sebuah botol, Pandu dan Ervita akan menuangkan air sedikit-sedikit hingga akhirnya volume air di dalam botol terus bertambah dan penuh, sampai akhirnya melimpah.
"Ada mau mampir beli sesuatu tidak, Nda?" tanya Pandu kemudian kepada istrinya.
"Tidak, Yayah. Langsung ke Solo saja," balas Ervita.
Akhirnya mobil yang dikemudikan Pandu terus melaju dari Jogjakarta menuju ke Solo. Perjalanan kurang lebih dua jam pun ditempuh mereka. Kali ini, Pandu juga langsung menuju ke rumah orang tuanya Firhan. Nanti barulah mereka akan menuju ke rumah keluarga Ervita.
"Benar ini kan, Nda?" tanya Pandu.
"Iya, bener Mas," jawabnya.
Akhirnya mereka memasuki pintu gerbang dan mengucapkan salam. "Assalamualaikum," sapa mereka.
"Waalaikumsalam, mari silakan masuk," balas Bu Hesti.
Akhirnya mereka saling berjabat tangan dan kemudian pandangannya jatuh ke Indi. Biar bagaimanapun ada rasa sedih yang menyelimuti. Indi adalah cucunya, tapi justru seperti orang asing.
"Mau mengunjungi Firhan, Wati, dan babynya, Bu," kata Pandu sekarang.
Tidak berselang lama, Firhan keluar dengan istri dan bayinya. Wati berjalan begitu pelan sembari menggendong bayinya. Mereka pun memberikan salam kepada keluarga Pandu.
"Wah, Mbak Indi dan Yayahnya datang ke rumahnya Om Firhan yah?" tanya Firhan.
Jujur, Firhan sangat senang. Itu berarti Pandu juga seorang yang menepati janjinya. Pandu mengatakan akan ke Solo saat akhir pekan, dan sekarang dia membawa keluarganya untuk mengunjungi Firhan.
__ADS_1
"Ini Wati, untuk si Baby," ucap Ervita memberikan hadiah untuk baby mereka.
"Wah, makasih loh Mbak Ervita. Jadi merepotkan," balas Wati.
"Gak repot sama sekali kok," balas Ervita.
Kemudian Indi mendekat dan ingin tahu adik bayi itu. "Namanya siapa Tante?" tanyanya.
"Namanya Farrel, Mbak Indi. Cowok adik bayinya," balas Wati.
"Oh, cowok yah. Kalau Didi kan cewek," balas Indi.
"Mbak Indi gak pengen punya adik bayi cowok?" tanya Firhan sekarang.
"Enggak. Adiknya Irene aja," jawab Indi.
"Adik Farrel boleh jadi adiknya Mbak Didi enggak?" tanya Firhan kemudian kepada Indi.
Semula Indi tampak diam. Hingga akhirnya Indi menganggukkan kepalanya. "Ya, boleh. Kata Yayah harus jadi anak yang baik kepada semua orang," balasnya.
Baru tadi Pandu menasehati Indi, dan sekarang barulah Indi bisa mengatakan demikian. Pandu dan Ervita sama-sama tersenyum itu artinya Indi bisa menerima nasihat dari orang tuanya barusan.
"Makasih yah," balas Firhan.
Di momen itu juga secara khusus Firhan meminta tolong kepada Indi untuk mau berfoto bersamanya. Foto keluarga utuh versi Firhan. Setidaknya dia memiliki kenang-kenangan berupa sebuah foto dengan Indi, putrinya.
Cukup kesediaan Indi saja sudah sangat berarti untuk Firhan. Walau putrinya tak bisa menerimanya, tak bisa menerimanya. Akan tetapi, jauh di dalam hatinya Firhan mencukupkan diri untuk bahagia. Setidaknya Indi tahu, bahwa Baby Farrel juga adalah adiknya. Itu saja sudah cukup untuk Firhan.
__ADS_1