Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Hari Pertama Sekolah


__ADS_3

Selang dua pekan setelahnya, hari ini menjadi hari pertama Indi sekolah. Pagi ini, Indi sudah bersiap dengan mengenakan seragam TK kemeja putih dan dipadukan dengan dress berwarna biru. Sekarang, juga Ervita sedang menguncir rambut Indi.


"Dikuncir dulu yah, biar rapi," ucap Ervita.


"Iya, Nda ... dikuncir yang banyak ya, Nda. Nanti sekolah itu gimana Nda?" tanya Indi.


"Nanti masuk ke kelas. Ada Bu Guru yang akan mengajar anak-anak di kelas. Nanti paling disuruh kenalan dulu. Berani yah nanti kalau disuruh kenalan," ucap Ervita.


Indi beberapa kali menganggukkan kepala. Dia memahami instruksi dari Bundanya. Selama ini, sekolah itu bagaimana hanya Indi ketahui di televisi saja. Sekarang, sekolah sendiri tentu Indi juga merasa sangat senang.


"Mbak Lintang juga sekolah kan, Nda?" tanya Indi lagi kepada Bundanya.


"Iya, Mbak Lintang juga sekolah. Cuma berbeda kelas, kan Mbak Lintang lebih besar dari kamu, Nak," balas Ervita.


"Iya, Nda ... pas istirahat bisa bermain sama Mbak Lintang," ucap Indi lagi.


Hingga akhirnya, Pandu yang juga bersiap ke kantornya menuju ke ruang keluarga. Pria itu terharu melihat Indi mengenakan seragam sekolah TK. Rasanya baru kemarin Indi masih bayi, dan sekarang Indi sudah menjadi anak TK.


"Wah, cantiknya putrinya Yayah," ucap Pandu.


Jujur, Pandu menjadi sangat terharu. Baginya, melihat Indi memakai seragam seperti ini adalah momen berharga. Terlebih kasih sayang yang Pandu miliki untuk Indi sangat besar. Dulu Indi masih kecil, dan sekarang sudah TK. Pasti tidak akan lama lagi Indi akan tumbuh menjadi gadis yang cantik.


"Yayah, nanti berangkat sekolah diantar Yayah yah?" pinta Indi dengan tersenyum-senyum kepada Ayahnya itu.

__ADS_1


"Siap Mbak Didi Putrinya Yayah ... nanti Yayah antar. Adik Irene sama Eyang dulu kan? Nda mau nganterin Mbak Didi kan?" tanya Pandu kemudian.


Memang rencananya di hari pertama sekolahnya, Ervita ingin mengantar Indi ke sekolah. Sebab, hari pertama sekolah adalah hari yang penting untuk anak-anak. Mereka akan belajar mengenal lingkungan baru yang bernama sekolah. Selain itu, apa saja bisa terjadi di hari pertama. Anak yang berani dan percaya diri di rumah, bisa sajadi sekolah nanti menjadi takut dan menangis. Oleh karena itu, Ervita memang berencana untuk mengantar Indi, walau tidak menunggu tepat di depan kelas.


Sebab, Ervita juga ingin melatih kepercayaan diri Indi. Sebatas mengawasi saja. Selebihnya, akan memberikan Indi kesempatan untuk belajar hal baru dan juga belajar berteman. Sebab, akan belajar berteman dan mengembangkan kompetensi sosialnya jika orang tua memberikan peluang dan kesempatan untuk berani mencoba.


Tidak berselang lama rupanya Eyang Uthinya sudah datang. Tampak Bu Tari tersenyum dengan kedua matanya yang juga berkaca-kaca melihat Indi sekarang.


"Wah, cucunya Eyang sudah mau berangkat sekolah?" tanya Bu Tari.


"Iya, Eyang ... Didi mau sekolah," jawabnya.


"Bawa apa saja ke sekolah nanti?" tanya Eyangnya.


Bu Tari pun mengangguk-anggukkan kepalanya. "Sekolah yang pinter ya cucunya, Eyang ... belajar yang rajin. Supaya kalau Indi besar nanti bisa berhasil," balasnya.


"Didi mau jadi seperti Yayah," balasnya.


Pandu yang mendengarkan suara Indi pun tersenyum. Bahkan untuk apa yang Indi cita-citakan pun ingin menjadi sama seperti dirinya. "Kalau Didi mau menjadi desainer interior seperti Yayah, harus sekolah yang rajin. Kuliah juga yah," ucap Pandu.


"Iya, Yayah ... Didi akan sekolah yang tinggi. Biar jadi seperti Yayah. Yayah yang sayang sama Nda, Didi, dan Adik," jawabnya.


Persiapan Indi telah selesai, kemudian Ervita juga mengganti pakaiannya dan sedikit mengenai bedak dan lipstik saja. Supaya tidak terlalu pucat. Setelahnya, mereka berpamitan dengan Bu Tari.

__ADS_1


"Ibu, Ervi nitip Irene dulu ya, Bu ... nganterin Indi sekolah dulu," pamit Ervita.


"Ya, ya Vi ... tenang saja. Ditunggu dulu, Indinya. Untuk Irene sudah pasti Ibu bisa jagain," balas Bu Tari.


Kemudian Indi mencium tangan Eyang Putrinya dan berpamitan. "Eyang, Didi berangkat sekolah dulu ya Eyang. Dadaa ... Eyang," pamitnya.


Setelahnya, mereka keluar dari rumah. Menaiki mobil milik Yayah Pandu dan kemudian mengantarkan Indi ke sekolahnya. Hanya sepuluh menit saja perjalanan. Pandu juga berjanji, nanti akan menjemput Ervita. Setidaknya di hari pertama sekolah Indi, Pandu ingin mengantar dan juga menjemput.


"Yayah, Didi masuk sekolah dulu. Bye Yayah," pamit Indi ketika Ayahnya menurunkannya di depan sekolah.


"Iya, sayang Yayah dulu dong," balas Pandu dengan menunjuk pipinya sendiri. Biasanya memang Indi selalu mencium pipi Ayahnya itu. Sehingga sekarang, giliran Pandu yang minta sayang dari putrinya.


Indi mendekat dan kemudian mencium pipi Ayahnya. Muahh!


Pandu tersenyum, dan dia membalas dengan mencium pipi Indi. "Sekolah yang rajin ya Putrinya Yayah ... nanti Yayah jemput yah. Nikmati sekolahmu. Bermain dan belajar, jangan lupa untuk berteman juga."


Akhirnya, Ervita dan Indi turun dan Yayah Pandu menuju ke kantornya terlebih dahulu. Ervita dan Indi masuk ke sekolah, dan menuju ke lantai dua, tempat kelas para murid berada. Rupanya di lantai dua sudah begitu banyak orang tua yang mengantar anak-anaknya. Bahkan sudah ada anak-anak yang menangis.


"Kok menangis, Nda?" tanya Indi kala melihat ada temannya yang menangis.


"Iya, Sayang ... sekolah hari pertama. Mbak Didi berani kan? Itu sama Bu Guru nanti naik ke atas lagi ke kelas TK A yah," ucap Ervita.


Sampai ada seorang guru yang berkenalan dengan Indi dan mengajaknya untuk naik ke lantai tiga. Indi terlihat tidak begitu grogi dan panik, itu juga karena tadi dia sudah bertemu dengan Lintang. Malahan senang karena Yayah dan Nda-nya benar-benar menyekolahnya di satu sekolah dengan Mbak Lintang.

__ADS_1


Ervita yang menunggu di bawah pun berharap bahwa nanti Indi tidak menangis. Bisa melewati hari pertama sekolah dengan baik, berani, dan percaya diri. Walau begitu, tetap saja banyak hal-hal tak terduga yang bisa terjadi di hari pertama masuk sekolah.


__ADS_2