
Sementara itu di kota Solo ....
Firhan hari ini mengikuti ujian semester, karena usai ini para mahasiswa akan memasuki liburan semester. Akan tetapi, di sana Firhan tampak pusing. Rasanya begitu aneh, mual dan muntah yang dia alami masih ada, dan hari ini justru mual dan muntah yang dia alami makin menjadi-jadi.
"Kenapa tow Han? Lebih baik periksa ke Dokter saja," ucap Ibunya dengan geleng kepala karena sudah beberapa bulan berlangsung dan Firhan masih saja mengalami mual dan muntah.
"Enggak Bu ... enggak mau ke Dokter. Apa benar Firhan mengalami kehamilan simpatik ya Bu?" tanya Firhan kemudian.
Bu Yeni tampak mengernyitkan keningnya kala Firhan mengatakan bahwa dirinya mengalami kehamilan simpatik. Apakah memang semuanya ini berkaitan dengan Ervita yang hamil? Benarkah bahwa benar Firhan yang sudah menghamili Ervita?
"Sebenarnya kamu bukan yang menghamili Ervita?" tanya Bu Yeni kemudian.
Firhan tampak menundukkan wajahnya. Kemudian pria itu berkata, "Ya, di Tawangmangu itu sesuatu terjadi, Bu. Antara Firhan dan Ervita. Cuman masak satu kali saja langsung dung sih?"
Bu Yeni menghela nafas mendengarkan pengakuan dari Firhan itu, kemudian Bu Yeni bertanya lagi kepada Firhan, "Satu kali pun kalau sedang masa subur ya bisa jadi. Saat itu kamu memakai pengaman enggak?"
Dengan cepat Firhan menggelengkan kepalanya, "Enggak ... enggak pakai pengaman. Semuanya terjadi begitu saja, Bu," balas Firhan.
Bu Yeni menatap anaknya itu, "Itu berarti memang anak kamu, Firhan. Tidak mungkin tanpa gejala berarti kamu sampai mual dan muntah berbulan-bulan seperti ini," balas Bu Yeni.
__ADS_1
"Cuman, Firhan tidak mau menikah, Bu ... untuk apa menikah jika jalan Firhan masih panjang. Firhan juga baru 22 tahun, enggak mau menikah muda," ucapnya lagi.
"Lalu, untuk anak yang dikandung Ervita bagaimana?" tanya Bu Yeni yang seakan menanyai.
Ketika Bu Yeni menanyai itu, rupanya suaminya datang dan langsung membentak keduanya.
"Untuk apa membicarakan gadis murahan itu!"
Baik Bu Yeni dan Firhan sama-sama terkejut. Tidak mengira bahwa Pak Supri datang dan segera membentak keduanya.
"Jangan sebut-sebut nama gadis itu di sini lagi. Kamu, Firhan ... lupakan dia dan kejar mimpimu. Jadi Auditor yang hebat dan bisa membanggakan Bapak dan Ibu," bentaknya.
"Persetan, Bapak enggak peduli. Yang pasti Firhan harus lulus kuliah dan juga menjadi Auditor. Membanggakan nama orang tua. Lagipula, usianya masih bau kencur, mana bisa Firhan menghidupi anak dan istrinya jika masih ada anak dan meminta kepada orang tua!"
Di dalam masyarakat, sering kali mereka beranggapan bahwa anak yang masih kuliah dan belum kerja adalah anak yang masih kecil karena mereka saja masih menengadahkan tangannya dan menerima pemberian dari orang tua. Bagaimana bisa anak yang masih meminta kepada orang tua menjadi kepala keluarga dan bertanggung kepada istri dan anaknya.
"Biarkan saja dia menderita dengan anaknya, dan kamu harus menjadi orang yang sukses."
Mendengar apa yang disampaikan oleh suaminya membuat Bu Yeni geleng kepala dan mengelus dada. Sementara Firhan hanya bisa menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Ingat karma loh Pak ... kita juga punya anak gadis. Nanti kalau ketimpa hal buruk karena ulah kakaknya bagaimana?" tanya Bu Yeni.
Sebatas mengingatkan suaminya, karena Firhan memiliki adik perempuan yang sekarang masih duduk di bangku SMA, namanya Erma. Manusia tidak pernah tahu bagaimana karma itu berlaku dan mendapat balasan. Hanya saja Bu Yeni sedang mengingatkan suaminya.
"Tidak mungkin Bu ... Erma siswa yang pintar, selalu rangking 1 di sekolah. Erma tidak akan melakukan hal yang membuat kita berdua malu," balas Pak Supri dengan yakin.
Tidak lagi memberikan jawaban, tetapi Bu Yeni hanya bisa berbicara dalam hati, "Ervita juga anak yang pandai. Dia selalu juara satu saat di SMA dulu. Bahkan kuliah pun dia melalui jalur PMDK. Nyatanya apa, masa depannya juga hancur dan itu karena Firhan. Kecerdasan seseorang bukan menjadi jaminan nyata untuk orang itu untuk lepas dari kejadian buruk."
"Pokoknya Bapak tidak mau tahu. Kalian tidak boleh menyebut nama dia lagi di sini!"
Usai mengatakan itu Pak Supri berganti dan menutup pintu dengan keras sampai Bu Yeni dan Firhan terkaget-kaget karenanya. Bu Yeni tampak memejamkan matanya sejenak dan menatap anaknya.
"Kamu diciptakan Allah dengan hati nurani, kamu tentu tahu mana yang benar dan mana yang salah. Jadi, apa yang akan ambil ke depan, kamu tahu jelas Firhan."
Usai mengatakan semua itu, Bu Yeni memilih untuk pergi. Sementara Firhan menjadi orang yang merasa bersalah di sini. Bapaknya yang sudah begitu antipati dan memintanya untuk menjadi orang yang berhasil. Sementara Ibunya yang tampaknya menginginkan Firhan untuk bisa memutuskan dengan hati nuraninya. Firhan sendiri juga tidak mampu untuk menjadi kepala keluarga di usia yang masih muda. Dia sendiri juga belum berpenghasilan tetap.
Masalah yang pelik dan juga rumit. Keluarga Firhan tak lepas dari persitegangan setiap hatinya. Namun, mereka selalu menutup diri dan bahkan selama ini mereka juga tidak pernah mencari keberadaan Ervita. Bahkan pihak Firhan dan semua keluarga yang di Solo sama sekali tidak tahu bahwa hari ini Ervita sudah melahirkan putrinya.
Melahirkan dalam keterasingan, dan juga melahirkan hanya didampingi pihak keluarga Hadinata. Keluarga sedarah dan sedaging nyatanya justru mengusirnya, tidak memberikan perlindungan untuknya, hingga Ervita dalam tindakan persalinan pun harus menjalaninya seorang diri.
__ADS_1