Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Bertemu Lagi


__ADS_3

Dengan terpaksa, akhirnya Firhan menuruti saja ajakan Tiana untuk mengajaknya ke Puskesmas, menuruti saran dari Pak Bandi. Walau sebenarnya, Firhan paling anti berurusan dengan Dokter. Baginya, mual dan muntah ini hanya masuk angin biasa dan selalu akan sembuh dan hilang begitu saja. Sebab, biasanya juga seperti itu adanya.


“Ke Puskesmas dulu yah … biar dapat obat anti mual,” ajak Tiana yang kali ini mengantar Firhan.


“Sebenarnya tidak usah. Biasanya juga sembuh dengan sendirinya kok,” balas Firhan.


Akan tetapi, Tiana tetap mengajak Firhan berjalan ke Puskesmas yang tempatnya tidak jauh dari tempatnya KKN. Keduanya memilih berjalan kaki, dan setibanya di Puskesmas, Firhan mendaftar untuk periksa dengan keluhan mual dan muntah saja.


“Masih nunggu antrian,” ucap Firhan yang kini duduk dan menunggu di poli umum. Menunggu sampai nomor antriannya dipanggil.


“Iya, biar nanti sembuh dan tidak mengganggu berjalannya KKN. Kamu sejak kapan mual dan muntah kayak gini?” tanya Tiana kepada Firhan.


“Sejak enam atau tujuh bulan yang lalu. Sebenarnya tiga bulan ini agak berkurang, cuma ya kadang-kadang masih kambuh saja,” balas Firhan.


“Mungkinkah kamu memiliki asam lambung? Biasanya mereka yang memiliki asam lambung, ketika asam lambungnya naik bisa mual, sendawa, hingga muntah, efeknya sampai kerongkongan menjadi sakit,” balas Tiana.


Tiana setidaknya tahu sedikit mengenai asam lambung karena Ibunya memiliki asam lambung dan ketika kambuh sudah pasti merasa mual, muntah, sendawa, dan mengeluh bagian kerongkongannya sakit. Mungkinkah Firhan juga memiliki asam lambung yang kambuhan seperti itu.


Tiba saatnya pemeriksaan untuk Firhan, pria itu masuk ke poli umum dan Dokter mulai memeriksa Firhan, kemudian Dokter pun mengatakan, "Perutnya sebenarnya tidak kembung. Sakit tidak perutnya?" tanya sang Dokter.


"Tidak itu Dokter ... hanya saja kalau mau mual itu baru sakit," balas Firhan.


"Sebenarnya pasien sehat. Jadi, saya beri vitamin dan pereda mual saja yah," balas Dokter.


"Baik Dokter," balas Firhan.

__ADS_1


Kemudian Firhan keluar dari Poli Umum dan mengumpulkan resep ke apotek. Tiana pun menyusul Firhan ke apotek di Puskesmas itu.


"Gimana sakit apa?" tanya Tiana.


"Tidak sakit apa-apa kok. Cuma dikasih Vitamin dan pereda nyeri. Ya, mungkin masuk angin biasa saja. Kamu berlebihan sih, padahal aku menghirup minyak angin saja juga sudah sembuh loh," sahut Firhan.


Tiana pun tersenyum di sana, "Siapa yang nggak khawatir kalau cowoknya sakit gitu. Semua cewek juga pasti khawatir. Syukur deh kalau tidak kenapa-napa. Kegiatan kita di Jogjakarta ini masih lama. Jadi, kuharap kamu tidak sakit lagi."


Mengingat bahwa kegiatan KKN yang akan berlangsung selama 30 hari, sehingga memang Tiana berharap Firhan bisa tetap sehat dan melakukan yang terbaik untuk KKN. Jika, kesehatan terganggu, maka sudah pasti tidak bisa menyelesaikan KKN.


Di kala Firhan masih menunggu obatnya, dari jauh seolah Firhan melihat seorang wanita yang cukup Firhan kenali. Wanita yang menggendong seorang bayi dengan jarik selendang dan berjalan di samping pemuda tampan. Melihat sosok wanita itu keringat dingin muncul begitu saja, bahkan wajah Firhan menjadi pucat karenanya.


Perubahan wajah Firhan yang begitu kentara menyorot perhatian Tiana. Hingga Tiana memperhatiakan wajah Firhan.


"Kamu kenapa Firhan? Wajah kamu mendadak pucat," tanyanya.


Wanita yang Firhan kenali pun sudah mendaftar dan kemudian menuju ke poli anak. Wanita yang sedang berjalan sembari terlibat obrolan dengan pemuda di sampingnya itu beberapa kali tampak tersenyum. Namun, senyuman sang wanita itu hilang bahkan wanita menghentikan langkah kakinya, kala matanya bersitatap dengan Firhan.


Deg!


Firhan.


"Mas Pandu."


Panggilan yang lirih dari Ervita menghentikan Pandu yang sudah berjalan beberapa langkah di depannya.

__ADS_1


"Ya, kenapa Ervi?" tanya Pandu dengan menoleh ke belakang menatap kepada Ervita.


"Mas, kita pulang saja yah ... lain kali saja imunisasinya," ucap Ervita.


Lantas Pandu bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi hingga Ervita berniat untuk membatalkan jadwal imunisasi Indira. Sementara di depan sana, Pandu melihat ke sosok muda-mudi yang mengenakan almamater berwarna biru muda, almamater dari universitas negeri di kota Solo. Sementara cowok di sana juga beberapa kali melihat kepada Ervita.


Agaknya Pandu bisa membaca suasana. Entah itu karena rekan mahasiswa Ervita dulu atau memang ada kaitannya dengan masa lalu Ervita. Pandu kembali menatap Ervita, "Jangan takut ... ayo," ucapnya.


Ervita yang semula diam, akhirnya menganggukkan kepalanya. Dia memilih melanjutkan niatan awalnya ke Puskesmas untuk mengimunisasikan Indira. Bahkan poli anak yang berdekatan dengan apotek itu bisa saja membuat jarak Ervita dengan Firhan kian dekat.


Sesaat begitu melewati apotek, rupanya Pandu menggerakkan tangannya dengan sengaja dan merangkul bahu Ervita di sana.


"Tidak nangis kan bayinya?" tanya Pandu dengan sedikit mendekat ke arah Ervita.


Grogi, bingung, dan juga tidak tahu harus berbuat apa. Ervita hanya bisa tersenyum kikuk dan menggelengkan kepalanya secara samar.


"Tunggu di sini dulu yah," ucap Pandu lagi.


Sementara di sana, Firhan menundukkan wajahnya kala melihat Pandu yang melihat merangkul bahu Ervita. Berbagai spekulasi pun timbul di benak Firhan. Bayi siapa yang digendong Ervita, benarkah itu anaknya dulu? Atau anak Ervita dengan pria itu?


"Kenapa cuma diam sih Han?" tanya Tiana yang juga bingung dengan perubahan Firhan.


"Enggak apa-apa. Mendadak pening," balas Firhan.


Tiana kemudian tersenyum di sana, "Ya nanti istirahat saja. Kan kegiatan KKN masih besok. Jadi makan, abis ini minum obat dan kemudian istirahat saja. Izin sama ketua tim untuk istirahat," ucap Tiana.

__ADS_1


"Hmm, iya," balas Firhan.


Firhan bisa mengatakan itu, tetapi secara sembunyi-sembunyi Firhan melirik Ervita yang berada hanya beberapa meter darinya.


__ADS_2