
Kurang lebih hampir dua pekan berlalu, kini giliran kakak kandung Pandu, yaitu Pertiwi yang datang dari Lampung. Bukan tanpa sebab, tetapi memang akan diadakan syukuran tujuh bulanan di Jogja. Selain itu, Pertiwi juga berencana untuk melahirkan di Jogja. Sama seperti dulu ketika Pertiwi melahirkan Lintang, dia juga memilih untuk pulang ke Jogja.
Sehingga kali ini, Pandu akan menjemput kakaknya itu. Jika sebelumnya, dia menjemput kakaknya bersama dengan orang tuanya, kali ini Pandu menjemput Kakanya bersama dengan Ervita dan Indi. Sementara Pak Hadinata dan Bu Tari untuk menunggu di rumahnya.
"Enggak apa-apa ngajak aku Mas?" tanya Ervita kepada suaminya itu.
"Lah, ya tidak apa-apa dong Sayang ... kan ngajak istriku sendiri. Emangnya apa yang salah?" tanya Pandu.
"Bukan begitu, Mas Panduku ... kan biasanya ada Bapak dan Ibu yang ikut, sekarang justru aku dan Indi yang ikut," balas Ervita.
Ya, biasanya ketika Mbak Pertiwi akan datang dari Bandar Lampung, Pandu lah menjemput kakaknya itu bersama dengan Bapak dan Ibunya. Sementara sekarang justru dengan Ervita dan juga Indi.
"Tidak apa-apa, Sayang ... lagian di rumah Bapak dan Ibu masih membersihkan rumah dan Ibu juga masak Gudeg Manggar tadi. Itu karena Mbak Pertiwi yang ingin Gudeg Manggar," jelas Pandu.
"Gudeg Manggar, Mas?" tanya Ervita dengan bingung.
"Iya ... tahu enggak manggar itu apa?" balas Pandu.
"Bunga kelapa kan?"
Dengan cepat Pandu pun menganggukkan kepalanya, "Benar ... Bunga kelapa atau Manggar bisa juga untuk membuat Gudeg. Yang dipakai itu adalah Bunga Kelapa yang masih muda. Jika Gudeg dari Nangka muda cenderung memiliki cita rasa yang manis, gudeg dari Manggar memiliki rasa yang gurih," jelas Pandu kepada istrinya itu.
"Yang masak Gudeg, siapa Yayah?" tanya Indi yang turut menyahut dan masuk dalam obrolan dengan Ayah dan Bundanya.
"Eyang, Didi ... Eyang membuat Gudeg Manggar. Ibu Pertiwi dan Mbak Lintang akan datang. Sekarang, Didi ikut Yayah dan Bunda ke bandara dulu yah? Kita jemput Ibu Pertiwi dan Mbak Lintang," balasnya.
__ADS_1
"Iya Yayah ... Didi kangen sama Mbak Lintang," jawabnya yang kemudian fokus ke jalan menuju ke arah Kulon Progo untuk menuju ke Bandara Internasional Jogjakarta.
Ervita pun kemudian kembali berbicara kepada suaminya itu, "Jadi, pengen Gudeg Manggar juga, Mas ... penasaran," ucapnya.
"Ya nanti kita makan bersama dengan Mbak Pertiwi dan Mas Damar," balas Pandu.
"Mas Damar pulang ke Jogja juga yah?" tanya Ervita kemudian.
"Iya, nganterin istrinya dong, Nda ... habis itu LDM, Mas Damar harus bekerja kan di Bandar Lampung. Nanti kalau sudah waktunya bersalin baru akan cuti," balas Pandu.
Memang rencananya akan demikian adanya. Pertiwi dan Damar akan melakukan Long Distance Marriage terlebih dahulu. Sebab, Pertiwi ingin melahirkan di Jogja. Menurut Pertiwi dekat dengan orang tua membuatnya merasa nyaman dan tidak bingung dengan siapa yang akan menjaga Lintang nanti. Lagipula, hari persalinan yang bisa datang kapan saja, jika di Jogja ada Bapak, Ibu, dan Bapak yang siap sedia. Barulah nanti ketika menjelang Hari Perkiraan Lahir, Damar baru akan mengambil cuti dan pulang lagi ke Jogja.
"Sedih ya Mas ... ya enaknya dekat dengan orang tua, tapi sedihnya jauh dari suami," balas Ervita.
Pandu pun menganggukkan kepalanya, "Memang begitulah adanya, Nda ... nanti kamu udah dekat sama aku saja, aku yang akan merawat kamu. Indi bisa ikut Eyang dulu," balasnya.
"Ya, besok aku yang merawat kamu. Aku cuti 40 hari, Nda," balasnya.
Mendengar apa yang disampaikan Pandu, Ervita pun terkekeh geli di sana. Bisa-bisanya suaminya itu sampai mau mengambil cuti selama 40 hari untuk merawatnya pasca persalinan. Yang ada justru Pandu akan semakin begitu repot nanti, dan pekerjaan bisa terkendala.
"Ndak usah, Mas ... lagian kan dulu juga udah pengalaman kan melahirkan sendiri, pulih sendiri," balas Ervita.
"Cuma jangan menangis malam-malam ya Nda ... kalau merasa sakit atau apa, mending kamu bilang langsung saja sama aku," balas Pandu.
Ya, Pandu berbicara seperti itu karena dulu dia sering mendengar Ervita yang menangis tiap malam. Rintihan pilu, tapi kala itu Pandu hanya bisa mendengarkannya saja. Senandung lagu Kasih Ibu pun bisa didengar oleh Pandu hampir di setiap malam.
__ADS_1
"Enggak ... nangisnya sama kamu aja," balasnya.
"Iya, nangis di dadaku aja, Nda ... jangan menangis sendirian dan kesakitan seorang diri lagi."
Tidak terasa, mobil yang dikemudikan oleh Pandu sudah tiba di Bandara Internasional Jogjakarta dan kemudian mereka menunggu di pintu kedatangan. Sembari memperhatikan jadwal kedatangan pesawat dari Jakarta ke Jogjakarta. Ya, tidak ada pesawat langsung dari Lampung. Harus transit terlebih dahulu di Jakarta. Oleh karena itu, kini mereka menunggu pesawat dari Jakarta menuju ke Jogjakarta.
"Naik pesawat ya Yayah?" tanya Indi di sana.
"Iya, Didi mau naik pesawat enggak?" tanya Pandu kepada putri kecilnya itu.
"Yah ... mau sih Yayah, cuma takut juga. Takut kalau Didi ngompol nanti," balasnya.
Mendengar apa yang disampaikan Indi, Pandu pun tertawa, "Pakai diapers waktu terbang. Didi mau enggak diajakin Yayah dan Bunda naik pesawat?" tanyanya.
"Ya mau Yah. Kemana?" tanya Indi lagi.
"Didi pengen ke mana? Nanti ajak Bunda jalan-jalan dulu sebelum melahirkan," balas Pandu.
"Jatim Park, Yayah ... mau lihat hewan-hewan," balas Indi.
Pandu pun menganggukkan kepalanya, "Oke ... nanti yah, kita naik pesawat ke Surabaya. Nunggu Bunda siap yah?"
Hingga tidak berselang lama, terdengar pemberitahuan bahwa pesawat dari Jakarta menuju Jogjakarta sudah tiba. Mereka menunggu pertemuan kembali dengan Mbak Pertiwi dan juga Lintang, serta Mas Damar.
Yang ditunggu-tunggu pun tiba. Terlihat Mbak Pertiwi dengan perutnya yang membuncit dan juga Lintang yang digandeng oleh Papanya. Mereka tersenyum dan melambaikan tangannya dari jauh. Lintang pun sedikit berlari di sana.
__ADS_1
"Om Pandu ...."