Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Wejangan dari Orang Tua


__ADS_3

Anak adalah anugerah dari Yang Kuasa bagi para orang tua. Pun demikian Pandu dan Ervita juga sebenarnya dalam tahap menunggu, ketika Allah akan menganugerahkan keturunan untuk mereka berdua. Bukan hanya menunggu, keduanya juga berusaha. Namun, waktu yang tepat tetap saja di kedaulatan Allah semata.


"Sebentar, Bapak dan Ibu mau bertanya dulu, kalian kalau memiliki anak lagi, adiknya Indi, kalian siap tidak?" tanya Pak Hadinata kepada Pandu dan Ervita.


"Siap, Bapak," jawab keduanya dengan mantap.


Ketika menikah dengan Pandu, dan kemudian mereka bergumul bersama, di saat itu juga Ervita sudah menyiapkan dirinya untuk kemungkinan akan segera hamil, entah itu cepat atau lambat. Ervita pun juga sejak melahirkan Indi sampai sekarang juga tidak memasang kontrasepsi sama sekali.


"Bukannya Bapak dan Ibu meminta dengan tergesa-gesa itu enggak. Hanya saja, coba memiliki waktu bersama, lebih berkualitas, supaya jadi. Dibarengi berdoa supaya Gusti amanahkan anak-anak yang lucu untuk kalian berdua. Perhiasannya orang yang sudah berumahtangga adalah anak-anak mereka. Sama seperti Bapak dan Ibu, semua ini hanya titipan. Akan tetapi, perhiasan kami yang paling mulia adalah Pertiwi dan Pandu," jelas Pak Hadinata.


Pandu dan Ervita pun diam, mendengarkan pitutur (nasihat - dalam bahasa Jawa) dari Pak Hadinata kepada mereka berdua. Serta, Pandu dan Ervita dibukakan wawasannya bahwa anak adalah perhiasan yang berharga bagi orang tua.


"Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi salah adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan," ucap Pak Hadinata yang mengutip QS Al-Khafi 18 ayat 46.


"Di iman kita saja disebutkan anak adalah perhiasan kehidupan dunia. Kita orang tua harus menjaga dan menyayangi anak dengan sebaik-baiknya. Bapak doakan kalian cepat diberikan berkah momongan," balas Pak Hadinata lagi.


Ervita dan Pandu sama-sama menganggukkan kepalanya. Memang tidak diminta untuk serta merta memiliki anak, tetapi dengan hamilnya Pertiwi membuat Pak Hadinata dan Bu Tari juga menginginkan hal yang sama untuk Pandu dan Ervita.


"Ervi enggak KB kan?" tanya Bu Tari kemudian.


"Mboten Bu ... Ervi tidak KB sama sekali kok. Sejak melahirkan sampai sekarang tidak menggunakan konstrasepsi," balasnya.


Bu Tari kemudian tertawa, "Kalau dulu, para ibu enggak memakai kontrasepsi, setiap tahun bisa beranak pinak terus. Makanya dulu, orang kuno itu anaknya banyak. Simbahnya Ibu itu anaknya 11. Sedangkan Sinbahnya Bapak ini anaknya 7. Bener-bener keluarga besar," balas Bu Tari.


Dulu, memang angka kelahiran begitu tinggi. Tidak ada pembatasan untuk memiliki anak. Baru di era orde baru, dicanangkan Keluarga Berencana, dan setiap rumah tangga lebih baik hanya memiliki dua anak saja.

__ADS_1


"Iya, Bu ... zaman dulu memang begitu. Apalagi dengan falsafah, banyak anak banyak rejeki. Sehingga begitu banyak memiliki anak," balas Ervita.


"Kalau sekarang tidak perlu banyak-banyak, Vi ... semampunya saja. Sebab, anak bukan butuh hanya dilahirkan, tetapi juga dibesarkan, diasuh dengan baik, mendapatkan pendidikan yang baik. Tanggung jawab dan peran orang tua juga dijalankan," balas Pak Hadinata.


"Benar Pak ... kayak kita berdua, anaknya cuma dua. Pertiwi dan Pandu, begitu mereka sekolah benar, mendapatkan jodoh, kita sudah lega, Vi," balas Bu Tari.


"Jadi kapan kalian bulan madu sana. Tidak apa-apa. Kalian masih muda, menikmati apa yang bisa dinikmati tidak apa-apa. Lagipula, Bapak dan Ibu siap membantu. Usaha dulu," balas Pak Hadinata.


Pandu yang sejak tadi diam, perlahan bertanya kepada Ervita. "Mau Nda?" tanya Pandu kepada istrinya itu.


"Terserah Mas Pandu saja," balas Ervita.


"Ikut aku ke Surabaya nanti mau?" tanya Pandu lagi.


"Iya, sana ... ikut Pandu, jalan-jalan berdua. Nanti kalau punya bayi, akan susah lagi kesempatan untuk berdua. Kayak Pertiwi itu, kalau di sini Lintang sering diasuh Eyangnya. Dia dan Damar jalan-jalan berdua. Buat Ibu, tidak apa-apa. Selagi masih muda, Ibu juga orang yang kolot, Ibu bisa menyesuaikan diri dengan Pertiwi, dan dengan kamu juga, Vi ... ingat kan, bagi Ibu dan Bapak, kamu itu adalah anak kami," balasnya.


"Nitip Indi nggih Bu?"


"Iya, tenang saja. Nanti Indi sama Eyangnya. Dinikmati sana," balas Bu Tari lagi.


Hari itu, cukup lama Ervita dan Pandu berada di rumah orang tuanya. Hingga sore, setelahnya mereka baru pulang ke rumahnya sendiri. Begitu sampai di rumah, Ervita memandikan Indi terlebih dahulu dan kemudian menyuapi Indi.


Pun Ervita dan Pandu yang bergantian untuk mandi dan membersihkan dirinya. Kemudian baru jam 19.00 saja, Indi sudah rewel dan ngantuk, sehingga Ervita menidurkan anaknya dulu, sementara Pandu menunggu di dalam kamarnya. Tidak sampai 15 menit, Ervita sudah keluar dari kamarnya Indi dan masuk ke dalam kamarnya.


"Indi sudah bobok Nda?" tanya Pandu kemudian.

__ADS_1


"Iya, sudah ... kecapekan main sama Eyangnya mungkin."


"Sini Nda, duduk sini," ucap Pandu menepuk bagian dari sofa yang dia duduki meminta Ervita untuk duduk dekat dengannya.


Ervita pun menuju sofa, dan kemudian mengambil tempat duduk di samping suaminya itu.


"Ya, Mas Pandu ... ada apa?" tanyanya.


"Kamu tidak merasa ditekan orang tuaku untuk segera memiliki anak kan?" tanyanya.


Ervita menghela nafas sejenak dan kemudian barulah berbicara, "Enggak sih ... biasa saja. Orang tua juga pengennya anaknya yang baru menikah juga diberikan momongan. Jadi, ya ... kita usaha dulu saja."


"Syukurlah, aku takut kalau kamu merasa ditekan," balas Pandu kemudian,


Ervita menggelengkan kepalanya perlahan, "Enggak, aku tidak merasa ditekan, itu malahan kita diperhatikan sama Bapak dan Ibu," balasnya.


"Jadi, mau nanti ikut aku ke Surabaya?" tanya Pandu kemudian kepada istrinya.


"Boleh Mas ... menikmati dulu seperti yang dikatakan Ibu, dan juga berusaha," balasnya.


Pandu kemudian tersenyum, "Siap-siap dengan gempuran awan panas dan erupsi ya Nda," balas Pandu dengan tertawa.


"Boleh ... sapa tahu nanti ada yang jadi. Padahal kita juga baru tiga bulan menikah ya Mas ... lucu. Harus berusaha ekstra deh Mas," balas Ervita.


Pandu pun tertawa, "Aku harus belajar jurus-jurus baru dan mematikan kayaknya Nda," balasnya.

__ADS_1


Malam itu, pasangan suami istri begitu absurd dan tertawa-tawa bersama. Entah apa yang mereka bicarakan, tetapi terlihat bahwa keduanya sama-sama bahagia. Tidak merasa tertekan, tetapi usaha masih harus jalan terus.


__ADS_2