Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Baby Girls


__ADS_3

Menyambut seorang bayi memang memberikan rasa bahagia tersendiri. Tangisan bayinya, seolah menyudahi perjuangan dan juga kesakitan Ervita. Sebab, ketika bayinya lahir, semua sakit itu seolah sirna. digantikan dengan rasa bahagia di dalam hatinya.


"Baby kita, Dinda," ucap Pandu dengan wajah berderai air mata.


Walau begitu Pandu merasa sangat bahagia. Perjuangan panjang keduanya akhirnya berbuah manis. Mendampingi Ervita sekian jam lamanya benar-benar membuat Pandu selayaknya menaiki roller coaster. Kadang dia berdesir hebat, kadang panik, kadang khawatir, dan sekarang ada rasa bahagia yang menyelimuti hati.


"Baby kita cewek ya Mas?" tanya Ervita dengan menangis di sana.


Namun, sesungguhnya Ervita merasa begitu lega karena bisa menyelesaikan perjuangannya sampai akhir. Tadi, Ervita sempat ragu apakah dia bisa melahirkan dengan selamat. Ervita merasa durasi waktu pembukaan demi pembukaan yang panjang, dan juga sakit yang lebih dominan.


"Iya, kita akan memiliki dua putri di rumah kita," balas Pandu.


Hingga akhirnya bayi kecil yang baru lahir itu diangkat dan kemudian ditaruh di atas dada Ervita untuk melakukan Inisiasi Menyusui Dini atau biasa disebut dengan IMD. Inisiasi Menyusui Dini adalah proses memberikan ASI sesegera mungkin selama 30 hingga 60 menit sejak bayi dilahirkan.


Inisiasi Menyusui Dini sangat bagus untuk melakukan bounding pertama antara Ibu dan bayi. Momen skin to skin pertama antara Ibu dan bayinya adalah bounding pertama. Si baby bisa merasakan hangatnya kasih seorang Ibu, sementara sang Ibu bisa menyayangi babynya. Pengungkapan sayang setelah sembilan bulan lamanya, hanya bisa mengusapi perut, dan melakukan sounding untuk Si Baby.


"Lucu banget ... cantik seperti Nda," balas Pandu.


Ya, di mata Pandu sekarang wanita yang cantik adalah Ervita. Terlebih melihat secara langsung bagaimana istrinya berjuang dengan sepenuh daya dan air mata untuk melahirkan putri kecilnya rasanya kecantikan Ervita di mata Pandu berlipat-lipat jadinya. Padahal secara nyata kini wajah Ervita begitu sembab, matanya juga sembab dan memerah, rambutnya sama sekali tidak rapi. Mungkin ini adalah kondisi yang kurang baik untuk Ervita pasca bersalin.


"Kamu bisa saja, Mas," balas Ervita.


Tangisan bayi dan sekarang badannya yang rapuh, tapi hangat seakan menghapus semua rasa bersalin yang Ervita rasanya. Sebab, ketika si baby sedang berusaha menemukan sumber kehidupan pertamanya, di bawah sana Dokter Arsy sedang menjahit bagian di pangkal paha, membersihkan Ervita usai bersalin. Ketika jarum menembus permukaan kulitnya saja, Ervita sampai tidak lagi merasakan sakit, hatinya dilingkupi dengan kebahagiaan melihat bayi kecilnya.

__ADS_1


"Doaku dijawab Tuhan, Nda ... dalam dia dan sujudku, aku berdoa kepada Tuhan, aku ingin memiliki bayi perempuan. Walau aku sudah memiliki Indi, biar aku menjadi Ayah yang hebat untuk dua putriku nanti. Menjadi cinta pertama untuk Indi dan adiknya," balas Pandu.


Setelah melihat kelahiran putrinya barulah Pandu berani berbicara mengenai harapan dan doanya yang ternyata memang menginginkan bayi perempuan. Ervita pun tersenyum di sana. Tidak mengira rupanya suaminya itu menginginkan bayi perempuan.


"Tuhan menjawab doa kita, Mas," balas Ervita.


"Benar ... Kembang Sepasang di dalam istana kita," balas Pandu.


Apa yang dikatakan Pandu ini benar. Sebab, dalam pengistilahan dalam bahasa Jawa, ketika dalam satu keluarga memiliki dua anak perempuan, maka akan disebut dengan Kembang Sepasang. Ada penyebutan lain bagi keluarga yang memiliki anak laki-laki dan perempuan juga.


"Iya Mas ... aku sih apa pun itu, tidak masalah. Yang penting sehat, selamat, dan sempurna," balas Ervita.


Jika Pandu menginginkan anak perempuan, Ervita lebih memilih untuk ikhlas. Apa pun anak yang lahir nanti adalah anugerah dari Allah semata. Sehingga memang Ervita akan menerima apa pun itu. Terlebih ketika pemeriksaan selama hamil, keduanya sudah sepakat untuk tidak mengetahui hasil jenis kelamin bayinya. Memilih untuk menunggu.


"Ya, bisa, Dokter," balas Ervita.


Setelah hampir satu jam, bayi kecil yang berada di dada Ervita itu akhirnya diambil, kemudian diberikan suntikan Vitamin K di otot paha. Tujuan dari diberikannya suntikan Vitamin K ini adalah untuk mencegah pendarahan di berbagai organ tubuh. Lalu, dilanjutkan dengan pemberian suntikan HB 0 yang berfungsi untuk melindungi bayi dari Hepatitis B yang bisa menimbulkan gangguan berbahaya pada tubuh.


"Adik bayinya sudah ada namanya belum Bapak dan Ibu?" tanya Dokter Arsy di sana.


Ervita kemudian menatap suaminya yang menggenggam tangannya. "Kamu sudah siapin nama, Mas?" tanya Ervita.


"Kamu ada ide nama enggak, Nda?" tanya Pandu.

__ADS_1


Kali ini Ervita menggelengkan kepalanya. "Tidak, berikanlah nama untuk putri bungsu kita," balas Ervita.


Pandu tersenyum di sana. Ketika dirinya dipercaya untuk bisa memberikan nama untuk putrinya, tentu saja Pandu merasa bahagia. Namun, memang sejak Ervita hamil, Pandu sudah kepikiran untuk memberikan nama dengan huruf awalan I, supaya bisa seperti Indira, kakaknya.


"Irene," jawab Pandu.


"Irene?" tanya Ervita.


"Iya, artinya Damai sejahtera. Dalam hidup manusia, salah satu yang dikejar adalah hidup rukun, damai sejahtera sentosa. Tata, titi, tentrem, Karto Raharjo, Nda. Apa lagi?" balas Pandu.


Di sana Ervita pun menganggukkan kepalanya. "Boleh, baiklah. Nama lengkapnya?"


"Irene Retania Putri Hadinata," balas Pandu.


Arti nama itu adalah seorang putri yang membawa damai sejahtera dan berharga layaknya berlian, seorang putri dari keturunan Hadinata. Pandu memang ingin menyematkan nama keluarganya kepada putrinya ini.


"Bagus banget," balas Ervita. Ervita tidak perlu berdebat dan menerima nama yang sangat indah dari suaminya itu.


"Indira dan Irene ... setuju kan?" tanya Pandu lagi.


"Iya, setuju," balas Ervita.


Sungguh luar biasa. Kali ini suasana ketika menyambut bayi pun terasa berbeda. Ditemani oleh suami tercinta, dan juga ada nama yang sangat indah tersemat untuk putrinya. Irene Retania Putri Hadinata yang akan melengkapi kebahagiaan keluarga Pandu, Ervita, dan Indira. Suasana persalinan yang sepenuhnya berbeda ini membuat Ervita merasa bersyukur.

__ADS_1


__ADS_2