
Makan malam yang penuh obrolan dan suasana kekeluargaan yang begitu kental. Di saat seperti ini ada yang Pak Hadinata syukuri dalam hatinya. Sejak dulu, Pak Hadinata menginginkan seluruh keturunannya, baik itu anak, menantu, dan cucu bisa hidup rukun dan berdampingan dengan baik.
"Kalau melihat anak, menantu, dan cucu kumpul begini rasanya senang. Rumah kembali ramai. Bayangkan semula hanya ada Bapak dan Ibumu, kemudian beberapa tahun pernikahan kami dilengkapi dengan hadirnya Pertiwi dan Pandu. Sekarang, tambah dua menantu dan empat cucu. Total keluarga besar Hadinata ada sepuluh orang," ucap Pak Hadinata.
"Semakin bertambah ya Bapak. Apalagi nanti kami menetap di Jogja. Bisa sering bertemu," balas Damar.
"Damar, kalau Bapak boleh memberikan saran. Mencari perumahan di dekat-dekat sini saja. Sama seperti Pandu. Bapak dan Ibu tidak mengharuskan kalian tinggal satu atap dengan Bapak dan Ibu. Namun, jika dekat kan bisa lebih erat dan rapat. Semakin harmonis. Kalau membutuhkan bantuan sewaktu-waktu bisa."
Itu adalah nasihat dari Bapak Hadinata. Sebagai orang tua, pertama-tama Pak Hadinata mengungkapkan bahwa dia tidak memaksa dan tidak mengharuskan bagi Damar dan Pertiwi untuk tinggal dengan mereka dalam satu atap. Sebab, Pak Hadinata pun tahu bahwa anak ketika sudah menikah dan berumahtangga pasti inginnya hidup sendiri dan bisa mandiri. Itu sudah terbukti dari Pandu, yang begitu usai menikah langsung memboyong Ervita untuk tinggal di rumah yang sudah dia beli cukup lama.
Bapak Hadinata dan Bu Tari tidak keberatan. Justru mereka mendukung ketika anak-anaknya belajar hidup mandiri. Akan tetapi, jika anak-anaknya tinggal berdekatan dan tidak terlalu jauh, itu lebih bagus lagi karena bisa menerapkan kerukunan persaudaraan, jika ada yang membutuhkan bantuan juga bisa dengan cepat dibantu.
"Bapak sekali lagi hanya memberikan nasihat. Kalau dekat kan hangat. Butuh sewaktu-waktu juga tinggal memanggil. Namun, kalian kalau mau hidup bersama Bapak dan Ibu, kami juga tidak masalah. Kami menerima dengan tangan terbuka," ucap Pak Hadinata lagi.
"Rencana Damar semula memang begitu, Bapak. Sehingga bisa dekat. Terlebih Pertiwi memiliki bayi, kalau ada yang bisa membantu lebih baik. Selain itu, Lintang dan Indi bisa tumbuh bersama. Menjadi teman sepermainan," balas Damar.
Bapak Hadinata dan Bu Tari tampak menganggukkan kepalanya. "Ya itu bagus, Damar. Untuk urusan rumah, jangan khawatir. Nanti Bapak dan Ibu bisa membantu sedikit-sedikit. Kalau memang ingin tinggal di sini pun tidak masalah," balas Pak Hadinata.
Damar merespons dengan menganggukkan kepalanya. "Mama, mau tinggal di sini atau kita membeli rumah di kompleks sini?" tanya Damar.
"Kalau sementara ikut Bapak dan Ibu dulu bagaimana, Mas? Ada Ibu yang membantuku banget untuk mengurus Langit," jawab Pertiwi.
Bukan bermaksud apa-apa. Akan tetapi, Pertiwi sendiri merasakan bahwa dekat dengan Ibunya, membuatnya merasakan ada bala bantuan. Terlebih kadang Langit tantrum dan hanya ingin gendongan, sehingga Pertiwi dan Bu Tari bergantian untuk menggendong Langit.
__ADS_1
"Ya, tidak apa-apa Pertiwi. Selama Ibu masih ada, masih sehat. Pasti Ibu akan membantu anak-anak Ibu. Mengurus cucu sendiri bukan menjadi masalah untuk Ibu," balas Bu Tari.
Memang begitulah Bu Tari yang memang tidak masalah ketika membantu anak untuk mengasuh cucu. Lagipula, untuk urusan Kios batik sudah ada pegawai-pegawainya. Sehingga, dalam seminggu hanya dua kali Bu Tari ke kios untuk mengecek persediaan batik di sana. Untuk laporan keuangan saja banyak dibantu Ervita untuk rekapitulasinya.
"Memiliki keluarga besar yang rukun dan harmonis kayak gini adalah berkah. Ketika kalian berkesusahan, bersedih, berbagi cerita, tempat kalian pulang adalah keluarga. Jadi, untuk anak-anak Bapak, kalian tidak perlu sungkan sama Bapak dan Ibu. Selama Bapak dan ibu masih gesang (hidup dan sehat), pasti Bapak dan Ibu akan selalu membantu kalian. Apa pun itu," ucap Pak Hadinata.
"Nggih Bapak ... Damar berterima kasih, selama ini sudah selalu dibantuin. Bahkan Pertiwi dan anak-anak juga dijaga dengan baik. Terima kasih banyak."
Di kesempatan kali ini Damar pun tidak lupa untuk mengucapkan rasa Terima kasihnya kepada mertuanya. Dia sudah dibantu begitu banyak. Bahkan Pertiwi dan anak-anak juga dijaga dengan baik.
Cukup lama keluarga Ervita dan Pandu berada di rumah orang tuanya. Sekarang, mereka pun pulang dengan berjalan kaki, menyusuri jalanan di kompleks perumahan mereka, dengan Pandu dengan merangkul bahu Ervita.
"Seneng, Nda? Malam ini bisa kumpul-kumpul," tanya Pandu.
"Kita juga wujudkan keluarga yang rukun dan harmonis versi kita ya, Nda," balas Pandu.
Ervita pun menganggukkan kepalanya. "Iya, Mas ... mau. Aku selalu bermimpi memiliki keluarga yang erat, rukun, saling menerima, saling mengerti. Keluarga yang akan menerinaku apa adanya dan tidak menghakimiku," balasnya.
"Iya, Dinda. Pasti itu. Dimulai dari kamu punya suami dulu, aku akan melakukan semua itu untuk kamu," balas Pandu.
Mendengar jawaban dari suaminya, Ervita kemudian tersenyum dan melirik suaminya itu. "Terima kasih banyak Mas Pandu. Tuhan baik banget sama aku, sampai Tuhan memberikanku pendamping hidup sepertimu," balasnya.
Pandu kemudian tersenyum. "Suami kamu ini limited edition loh, Nda. Cuma punya kamu saja," balasnya.
__ADS_1
"Tipe lainnya udah sold out ya Mas? Ervita menanggapinya dengan tertawa.
" Iya dong, Pandu cuma buat Ervita. Percaya tidak, Nda ... anak-anak itu akan melihat dan meniru perilaku orang tuanya. Bapak dan Ibuku sebaik itu, jadi aku pun pengen seperti Beliau di kemudian hari. Bahkan, sekarang aja aku sudah kepikiran bagaimana rasanya nanti kalau aku sudah gua, dan seluruh anak, menantu, dan cucu ngumpul bersama. Itu berkahnya orang tua, Nda. Melihat semua anak, semua keturunannya rukun," balas Pandu.
Ervita pun menganggukkan kepalanya. "Benar Mas ... ada kalanya ketika anak-anak bertikai justru orang tua yang bersedih bahkan jatuh sakit. Setuju dengan ucapan Bapak tadi. Kamu bersyukur, Mas. Keluarga kamu benar-benar baik," balas Ervita.
Kini mereka memasuki rumah, dan Ervita menidurkan Irene terlebih dahulu. Setelahnya, dia menyusul suaminya ke tempat tidur.
"Kalau ada Lintang, Indi jadi sering bobok di sana ya Mas?"
Ya, itu karena sekarang Indi ingin tidur bersama Mbak Lintang lagi. Sebenarnya, Ervita dan Pandu sudah mengajaknya pulang. Akan tetapi, Indi memilih tidur di rumah Eyangnya.
"Iya, Dinda. Merasa memiliki teman dan figur kakak. Tidak apa-apa. Kan ya sama Lintang," balas Pandu.
"Iya sih, Mas. Cuma kadang gak enak. Apalagi Mas Damar dan Mbak Pertiwi udah puasa lama, pasti kangen-kangenan malam ini," balas Ervita.
Pandu kemudian menyandarkan kepalanya di bahu istrinya. "Aku juga pengen kangen-kangenan sama kamu, Dinda. Swargaloka sudah memanggil kita," balasnya.
"Sabar dulu ya Mas. Masih lama," jawab Ervita.
"Iya, gak apa-apa. Aku menunggu kamu kok, Nda," balas Pandu.
Jika ada Damar dan Pertiwi yang malam ini akan melimpahkan semua rasa rindu. Untuk Pandu harus bersabar terlebih dahulu. Ervita masih berada di masa tidak boleh disentuh. Semoga saja Pandu bisa menahan sampai Ervita sendiri juga sudah siap.
__ADS_1