Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
City View di Pagi Hari


__ADS_3

Melakukan sesuatu yang tidak layaknya rutinitas pada umumnya rupanya memberikan kebahagiaan tersendiri untuk Panji dan Ervita. Malam itu benar-benar dilalui keduanya untuk berlelap hanya tercover selimut putih tebal saja. Benar yang Pandu katakan sebelumnya, bahwa saling memeluk dan mendekap yang terasa justru hangat.


Bahkan Pandu merasa tidurnya malam ini begitu lelap dan nyenyak. Kapan lagi bisa tidur bersama tanpa batas sehelai benang pun dengan pasangannya sendiri. Pagi hari, Pandu sudah terbangun lebih dulu. Pria itu tersenyum menatap wajah Ervita yang masih begitu nyaman dalam pelukannya. Sekadar iseng, pria itu merapikan anakan rambut di kening Ervita.


"Semalam kamu capek enggak Dinda? Cuma, kalau bobok kayak gini ... nyenyak banget. Aku pengen bersamaku, kamu selalu bahagia ya Dinda. Menghapus semua duka dan air matamu," ucap Pandu dengan lirih.


"Ku harap usai empat hari ini, kita akan segera mendapatkan berkah momongan ya Dinda ... rasanya begitu lucu membayangkan Indi memiliki adik. Kita akan mendapatkan keponakan dari Mei dan Mbak Pertiwi, dan semoga kita akan akan mendapatkan momongan dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama," gumam Pandu dengan lirih.


Yang Pandu pikirkan saat itu adalah betapa lucunya ada tiga bayi yang lahir bersamaan. Ada Mei, adik iparnya yang sekarang sedang hamil, dan Mbak Pertiwi, kakaknya yang sudah hamil. Semoga saja, usaha keras di kota Pahlawan ini akan menghasilkan berkah yang luar biasa untuk mereka berdua.


"Kamu itu ayu, sederhana, kenapa ada yang tega menyakiti kamu sih, Dinda ... aku tidak menjanjikan banyak hal, tapi aku akan menjaga kamu seumur hidupku. Kamu itu permata hati dan hidupku, Nda," ucap Pandu dengan mengecupi kening Ervita di sana.


Rupanya usapan tangan Pandu di keningnya, dan bibir yang juga mendarat di puncak kepalanya membuat Ervita terbangun. Wanita itu mengerjap dan membuka kelopak matanya perlahan-lahan.


"Hmm, Mas ... sudah bangun?" tanya Ervita dengan suaranya yang serak.


"Sudah dong Dinda ... bangunku kan selalu pagi, walau sepanjang malam lembur," balas Pandu. Ervita pun tersenyum dan merapikan rambutnya yang berantakan pagi itu.


"Iya, kamu memang rajin kok Mas ... pagi-pagi sudah bangun," balas Ervita.rupan


"Iya, biar rejekinya tidak dipatuk ayam," balas Pandu dengan terkekeh geli.


Ada wejangan dari orang Jawa zaman dulu bahwa hendaknya orang-orang bangun pagi supaya rejekinya tidak dipatuk ayam. Sebenarnya ini adalah ilustrasi, ayam adalah hewan yang bangun pagi dan begitu bangun dan keluar dari kandangnya mereka segera mematuk-matuk untuk mencari makan. Manusia hendaknya juga bangun pagi, memiliki semangat untuk mengais rejeki.


"Nggih Mas Pandu," balas Ervita dengan tertawa.


"Mandi yuk Sayang," ajak Pandu kepada istrinya itu.


"Gantian aja yah," balas Ervita.


"Ya sudah, sana kamu duluan," balas Pandu.


Ervita pun beringsut, hendak menyibak dengan selimut putuh yang menutupi tubuh polosnya, tetapi Pandu justru tampak mengamati Ervita. Seolah tak jemu-jemu untuk memandangi Ervita di sana. Sampai Ervita menjadi malu sendiri jadinya.


"Malu Mas ... jangan lihatin," balas Ervita.


Pandu pun tersenyum, "Mengagumi istri sendiri loh, Nda," balasnya.

__ADS_1


"Hadap sana dulu ... malu," balas Ervita.


Pandu pun menganggukkan kepalanya, dia membuang arah pandangannya sesaat dan kemudian kembali menatap indahnya tubuh istrinya itu. Sekadar mengamati Ervita yang berjalan dari ranjang menuju kamar mandi saja rasanya hati Pandu sudah berdesir, dan pusaka Lingga miliknya sudah berdiri.


"Pesona kamu luar biasa, Nda ... begitu saja, aku sudah on loh," gumam Pandu dalam hati.


Baru lima menit, Ervita menuju ke dalam kamar mandi, rupanya pintu kamar mandi sudah terbuka, dan Pandu dengan wajah tenang memasuki kamar mandi itu.


"Mas, kok ke sini?" tanya Ervi dengan bingung.


"Iya, nyusulin kamu mandi," balas Pandu.


Ya Tuhan, tadi sudah janji untuk mandi sendiri-sendiri. Rupanya sekarang Pandu berubah pikiran dan langsung menuju kamar mandi dengan begitu santainya. Terlebih ketika Pandu langsung berdiri di samping Ervita, mencuci wajahnya dengan facial foam dan juga menggosok giginya. Ervita sampai deg-degan rasanya.


Usai ritual yang berhubungan mulut dan wajahnya, rupanya Pandu segera mendekap tubuh Ervita dari belakang. Pria itu tersenyum melihat pantulan mereka berdua di cermin.


"I Love U, Nda," ucap Pandu dengan menaruh dagunya di bahu istrinya itu.


"Malu Mas," balasnya lagi.


"Kenapa malu ... sama suami sendiri juga," balas Pandu.


"Enggak ... kan sama kamu aja, satu-satunya wanita yang halal bagiku," balas Pandu.


Ervita pun mengulas senyuman tipis di sana, dan kemudian menatap suaminya itu. "Aku masih malu, Mas ... walau sudah tiga bulan berjalan, rasanya masih belum terbiasa," balas Ervita.


Setelahnya, Pandu segera membawa Ervita sama-sama berdiri di Shower box. Sama-sama basahan. Keduanya pun bergantian untuk membasuh tubuh mereka dengan menggunakan shower puff yang melimpah dengan busa di sana. Benar-benar menikmati sensasi basah-basahan bersama. Ervita sampai malu rasanya ketika Pandu menggosok punggungnya dengan shower puff.


"Kapan lagi punya waktu intens di pagi hari," balas Pandu.


"Di Jogja, mandiin Indi dulu Mas ... di sini Bundanya Indi malahan dimandiin sama Ayahnya," balas Ervita.


"Tidak apa-apa, Dinda Sayang ...."


Usai mandi bersama, Pandu segera menarik tangan Ervita dan memangkunya di sofa yang ada di sudut kamar itu. Tidak banyak berbicara, Pandu segera memagut bibir Ervita dengan nafas yang memburu. Tubuh yang masih setengah basah, kain handuk yang hanya membungkus pinggang Pandu, dan membungkus area dada hingga Paha Ervita, justru membuat Pandu ingin mencoba bagaimana rasanya melepas handuk di dari tubuh istrinya.


Begitu dalam, Pandu memagut, menghisap, dan mengulum bibir dengan sensasi mint yang menyegarkan itu. Sungguh indah ketika kedua kulit dengan sensasi kenyal itu saling menyapa dan berbagi kehangatan. Dalam pangkuan sang suami, bisa Ervita rasakan bahwa pusaka suaminya sudah begitu menegang. Pun Ervita rasakan tegangan lebih dari 1100 volt yang menyengat tubuhnya mana kala bibir Pandu mengecupi bahunya yang terekspos sempurna dan juga bibirnya yang bermain-main di tulang belikat hingga tulang selangkanya.

__ADS_1


"Mas Pandu," de-sah tak tertahan pun keluar pula dari bibir Ervita.


Kali ini Ervita menggerakkan tangannya dan mencoba meraba pusaka Lingga yang sudah mengeras itu dari luar handuk yang dikenakan suaminya. Sekadar rabaan dan remasan saja membuat Pandu menghela nafas dan meracau. Ciuman bibir Pandu terurai, dan pria itu menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.


"Dinda ... Din ... da."


Ervita tersenyum dalam hati, rupanya begitu mudahnya suaminya itu tersulut. Mengikuti instingnya, Ervita pun turun dari pangkuan suaminya dan lantas membuka lilitan handuk di pinggang suaminya itu. Terlihat jelas Lingga itu sudah berdiri. Tangan Ervita yang masih dingin karena usai mandi meremasnya perlahan, mengurutnya dalam gerakan naik dan turun. Pandu kian menggila, dengan menyerukan nama istrinya, dan mende-sah kenikmatan.


Pandu kian menggila namanya sapuan lidah dan rongga mulut yang hangat dari istrinya mengulum Lingga itu. Gerakan peristaltik dari bibir yang benar-benar memabukkan untuk Pandu. Tangan Pandu pun meremas area dada Ervita di sana, dia menarik begitu saja lilitan handuk yang dikenakan Ervita hingga handuk itu merosot begitu saja ke lantai.


"Dinda ... Dinda," Pandu kian meracau.


Sebelum bisa terjadi letupan vulcanologi, Pandu menarik wajah Ervita di sana. Dia menidurkan Ervita di sofa itu, dan dengan nafas yang memburu dia menghisap dengan begitu rakusnya buah persik itu. Tidak membutuhkan waktu lama puncak buah persik itu sudah memegang.


"Jangan digigit terlalu kencang, Mas," pekik Ervita ketika merasakan gigi suaminya menggigit di puncak itu dengan begitu gemasnya.


"Nikmat Dinda ... mantap," sahut Pandu yang memberikan godaan di titik-titik sensitivitas di tubuh istrinya itu.


Wajah Pandu terus bergerak turun dan kini, dia sudah menginvansi lembah di bawah sana. Usapan demi usapan, tusukan ujung lidah dan sekaligus menggodakan dengan kedua jarinya. Oh, Ervita menggeliat dan kian terengah-engah.


Benar yang suaminya katakan bahwa berbagai jurus jitu dan mematikan agaknya benar-benar sudah Pandu siapkan. Lantas, kini Pandu memandu Ervita untuk bangkit, dan giliran pria itu yang tidur di sofa.


"Kamu yang handle Dinda," instruksi Pandu.


Dia menginstruksikan Ervita untuk menindih tubuhnya, dan perlahan-lahan Pandu memandu untuk menyatukan Lingga dan Yoni. Oh, Ervita bergetar hebat. Tidak biasanya dia berada di atas, on top. Lantas kedua tangan Pandu menggerakkan pinggul Ervita di sana.


"Handle Dinda," pintanya lagi.


Ervita hanya mengikuti instingnya untuk bergerak, tegangan ketika di atas rasanya sungguh luar biasa. Sampai Ervita memekik dan melenguh. Dirinya terombang-ambing dalam badai kenikmatan. Terlebih tangan suaminya yang tak henti-hentinya memberikan remasan dan memilin puncak buah persiknya.


"Cantik Dinda ... hh, Dinda," racau Pandu dengan mengamati keindahan di depan matanya.


Kali ini sensasi yang dirasakan sungguh luar biasa. Sampai Ervita nyaris menjerit ketika merasakan terpaan badai yang membuatnya menggigil dan sekujur tubuhnya meremang.


Bahkan Pandu juga memacu dengan pinggulnya, hingga terjadi hantaman dari piring-piring tektonik yang siap meicu terjadinya erupsi volcanologi yang dahsyat.


Hingga akhirnya Pandu sampai di batas pertahanannya. Pusaka Lingga itu menegang dan berkedut di dalam sana, pun dengan milik Ervita yang berpadu hangat. Ervita rubuh di atas tubuh suaminya dengan mendekap tubuh suaminya itu begitu erat.

__ADS_1


"Oh, amazing," ucap Pandu dengan merasakan dengingan di telinganya, nyaris saja untuk beberapa detik telinganya seolah tuli usai erupsi Volcanologi yang begitu dahsyat.


Pagi yang indah dengan kegiatan yang indah. Tidak pernah terpikir banyak hal baru yang mereka coba bersama di hotel ini.


__ADS_2