Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Makan Sahur Pertama untuk Indi


__ADS_3

Sekarang, Ervita dengan pelan-pelan membangunkan Indi untuk makan sahur. Tidak memaksa, mereka hanya mengingat bahwa Indi ingin belajar untuk berpuasa. Sebagai orang tua, Ervita dan Pandu tentu akan memberikan dorongan dan juga melatih Indi untuk berpuasa.


Anak-anak di bawah lima tahun atau Balita seperti Indi, biasanya belum begitu memahami konsep berpuasa. Untuk itu, Ervita dan Pandu sebelumnya juga sudah memberikan penjelasan secara sederhana kepada Indi bahwa Puasa berarti menahan lapar dan haus. Bahkan, Ervita dan Pandu tidak menakut-nakuti Indi. Itu semua karena ibadah puasa juga dilakukan tidak dengan paksaan. Walau demikian, tetap ada pahala untuk mereka yang mau menjalankannya termasuk anak-anak.


"Mbak ... Mbak Didi, sudah waktunya sahur. Mbak Didi jadi mau belajar untuk berpuasa tidak? Kalau mau belajar berpuasa, bangun dulu yuk ... kita makan sahur dulu," ucap Ervita.


Merasa dibangunkan Indi yang masih kecil pun terbangun. Dia mendengar sendiri suara sahur dari masjid yang ada di dekat rumahnya. Kemudian dia mengucek matanya perlahan, dan kemudian duduk.


"Oh, sahur itu seperti itu ya, Nda? Suara dari masjid itu?" tanya Indi.


Ervita kemudian menganggukkan kepelanya. "Benar. Mbak Didi mau belajar berpuasa tidak? Kalau mau, kita makan sahur dulu. Namun, setelah makan sahur, besok tidak sarapan yah. Sekuatnya saja. Kalau sebelum Dzuhur sudah lapar ya makan lagi boleh. Puasa boleh dilakukan tanpa paksaan," jelas Ervita.


Indi menganggukkan kepalanya. Setelah itu, dia kemudian turun dari tempat tidurnya. Menuju ke dapur dan di sana sudah ada Yayahnya yang menunggu di meja makan. Melihat Indi bangun, Pandu tersenyum.

__ADS_1


"Sudah bangun, Mbak Didi? Kita makan sahur yah," ajak Yayah Pandu.


"Iya, Yayah. Belajar dulu ya, Yah," balas Indi.


Pandu menganggukkan kepalanya. Kemudian Ayah Pandu memimpin doa bersama untuk sahur.


"Nawaitu shauma ghadin 'an adâ'i fardhi syahri Ramadhâni hâdzihis sanati lillâhi ta'âla."


Doa itu berarti, "Saya berniat puasa esok hari untuk menunaikan fardhu di bulan Ramadan tahun ini, karena Allah ta'ala."


Tidak terbiasa makan di waktu begini, kadang Indi kayak mengantuk. Kepalanya terkadang menunduk di meja. Akan tetapi, Indi justru kembali bangun dan makan. Melihat Indi yang ngantuk-ngantuk, tapi masih mau makan seolah mengingatkan Ervita dan Pandu dengan masa kecil mereka dulu. Adakalanya untuk makan sahur itu mata masih berat. Namun, belajar dari kecil, dibiasakan orang tua, akhirnya juga terbiasa.


Usai makan sahur, Ervita menemani Indi untuk menggosok gigi dan ditutup dengan makan tiga biji buah kurma dan minum air putih. Ervita pun menawarkan kepada Indi, "Mau ikut sholat bersama tidak, Sayang?" tanyanya.

__ADS_1


Ya, ketika usai makan sahur, Ervita dan Pandu akan sholat bersama. Pandu yang akan memimpin istrinya itu untuk sholat bersama. Banyak bersyukur dan juga memohon rahmat dari Allah.


"Iya, Nda ... ajarin ya, Nda," balas Indi.


Saatnya Sholat Subuh, Ayah Pandu berdiri di depan. Pria itu membimbing Ervita dan Indi kecil yang berdiri di belakangnya, dan menjalankan sholat bersama. Indi benar-benar mengikuti setiap gerakan sholat yang dilakukan Ayahnya. Belajar dulu, nanti Pandu juga akan membimbing Indi untuk sholat dengan benar dan khusyuk.


Usai sholat, Ervita mencium punggung tangan suaminya, bentuk sebagai istri bahwa dia akan selalu tunduk dan menghormati suaminya. Indi pun melakukan yang sama, mencium punggung tangan Yayahnya.


"Cium tangannya Nda juga, Mbak Didi," ucap Ayah Pandu.


Indi tersenyum dan mencium tangan Bundanya. Ervita tersenyum dan mengusapi puncak kepala Indi. "Tumbuh menjadi putri yang sholehah ya, Nak ... Allah yang berkahi dan lindungi setiap jalanmu," ucap Ervita.


"Iya, Nda. Setelah ini, boleh bobok dulu, Nda? Kan besok masih sekolah," balas Indi.

__ADS_1


"Tentu boleh, Sayang," balas Indi.


Sungguh Ervita dan Pandu sangat senang. Semoga nanti Indi bisa pelan-pelan belajar menjalankan puasa. Selain itu, keduanya berkomitmen untuk membimbing dengan hati-hati. Pendidikan agama untuk anak-anak harus dimulai juga dari dalam rumah. Ayah dan Ibu memiliki kewajiban yang sama untuk membimbing anak-anaknya dalam iman kepada Allah. Oleh karena itu, bulan yang baik dan penuh rahmat ini akan dimanfaatkan Ervita dan Pandu dengan sebaik-baiknya.


__ADS_2