Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Yen Ing Tawang ana Lintang


__ADS_3

Berbeda dengan di Solo, keluarga Firhan yang kacau dan sakit karena Pak Supri mengalami gejala stroke di ringan. Di Jogjakarta, malam hari ini justru Pandu dan Ervita menikmati malam berdua dengan duduk bersama di Pendopo rumah mereka.


"Sini Nda ... duduknya mendekat ke sini," ucap Pandu yang meminta kepada Ervita untuk duduknya tidak terlalu berjauhan.


Ada tangan Pandu yang bergerak dan meraih tangan Ervita, sedikit menarik tangan Ervita agar Ervita duduk lebih mendekat kepadanya. Ervita pun tersenyum tipis di sana, dan mulai mendekat kepada suaminya itu.


"Setelah dua pekan menikah, akhirnya bisa menikmati malam bersama kamu," ucap Pandu lagi.


"Setiap hari juga menikmati malam kan Mas," balasnya.


"Cuma kan melantai dan duduk di pendopo baru malam ini. Lihat, ke langit malam itu, Nda," ucap Pandu kemudian dengan menunjuk langit yang gelap pekat yang ada di atas mereka.


Ervita pun menengadahkan wajahnya, dan menatap langit malam, "Dulu waktu aku kecil, rasanya kalau menengadahkan wajah dan juga melihat malam, pasti langit dipenuhi banyak bintang. Kenapa sekarang tidak ada bintang di langit malam ya Mas," ucapnya dengan masih menatap hamparan langit di malam hari itu.


"Ada bintang kok, Nda ... itu," ucap Pandu dengan melirik sesaat kepada Ervita yang duduk di sampingnya.


"Mana?" tanya Ervita dengan singkat.


"Yen ing tawang ana lintang," sahut Pandu.


Ketika menyebut kata 'tawang', pria itu menunjuk pada langit gelap di atasnya, dan ketika menyebut kata 'lintang', Pandu menunjuk pada Ervita yang duduk di sampingnya.


Mendengarkan ucapan Pandu, sukses membuat Ervita tersenyum malu-malu di sana. Jadi, suaminya itu sedang menggombalinya sekarang. Bisa-bisanya pria yang dulunya begitu pendiam dan santun itu, sekarang justru menggombalinya sekarang.


"Apa sih Mas ... malu," balas Ervita kemudian.


"Kenapa juga malu, kan sama suami sendiri. Aku suka lagunya itu, Nda ... lagu jatuh cinta yang sangat indah," balas Pandu.


Ervita pun melirik ke suaminya, "Kamu jawa banget sih Mas ... sukanya juga Langgam Jawa," balasnya.


"Iya, kan tradisi kita ya, Nda ... mau aku nyanyiin?" tanya Pandu kemudian.

__ADS_1


Ervita pun menganggukkan kepalanya, "Boleh ... kalau Mas Pandu mau, aku akan mendengarkannya," balas Ervita kemudian.


Yen ing tawang ana lintang, Cah Ayu (Jika di langit ada bintang, Gadis Ayu)


Aku Ngenteni tekamu (Aku menunggu kedatanganmu)


Marang mego ing angkoso, Nimas (Kepada awan-awan di langit, Manis)


Sun takokke pawartamu (Aku menanyakan kabarmu)


Dek semono, janjiku disekseni (Dulu, janjiku disaksikan)


Mego kartiko, kairing rasa tresna asih (Awan dan Bintang Kartika mengiringi rasa cinta kasih)


Yen ing tawang ana lintang, Cah Ayu (Jika di langit ada binta, Gadis Ayu)


Rungokno tangis ing ati (Dengarkan tangisan di dalam hati)


Ngenteni mbulan ndadari (Menunggu bulan purnama)


Lagu yang dinyanyikan dengan lirih oleh sang pria tampan itu membuat Ervita merasakan getaran di dalam hatinya. Wanita itu membawa tangannya untuk mengalung indah di lengan Pandu. Benar yang Pandu katakan sebelumnya bahwa lagu dalam bahasa Jawa itu memiliki syair yang sangat indah. Terdengar begitu romantis, dan juga baru Ervita ketahui bahwa suaminya itu memiliki suara yang indah.


"Bagus kan?" tanya Pandu kemudian.


"Iya, syair cinta yang dilantunkan kepada langit, awan, malam, dan bintang Kartika. Aku terharu," aku Ervita di sana.


Tangan Pandu terulur dan memberikan belaian di rambut dan sisi wajah Ervita. Pria itu juga merasa lega bisa menikmati malam dengan pujaan hatinya.


"Dulu ... kalau duduk bersama dengan kamu di Pendopo milik Ibu, rasanya aku ingin memeluk kamu seperti ini, memberikan usapan di rambut kamu, sedekat ini sama kamu. Akan tetapi, semua itu tidak pernah aku lakukan karena perasaanku tulus, tanpa menyentuh kamu saja, aku sudah cinta sama kamu. Aku seperti penjaga malam yang menunggu pagi menjelang," ucapnya.


Kali ini Ervita hanya diam dan mencoba memahami apa yang sebenarnya sedang Pandu sampaikan kepadanya. Ervita ingin pesan yang disampaikan Pandu kepadanya itu tidak terputus.

__ADS_1


"Sama seperti aku yang berani menyentuh kamu setelah pernikahan kita. Cintaku menjaga, Nda ... kamu merasa tidak jika aku sudah menjaga kamu selama ini?" tanya Pandu kemudian.


Ada anggukan kepala dan senyuman di wajah Ervita, "Iya ... aku tahu, dari awal kita kenal, kamu sudah menjaga aku," balasnya.


"Syukurlah, kalau kamu tahu," balas Pandu kemudian.


"Aku bisa merasakannya Mas ... kamu yang nolongin ketika ada stok baru datang, kamu yang nolongin untuk ambilin batik di rak atas yang lebih tinggi, kamu enggak membiarkan aku naik pake kursi untuk ambil batik yang ada di atas karena aku hamil, dan semuanya ... aku pikir waktu itu kamu bersikap baik karena menganggap aku sebagai adik kamu. Soalnya jarak usia kita seperti Kakak dan Adik," ucap Ervita.


Manusia bisa merasakan dan kala itu, Ervita merasakan perhatian dan kebaikan Pandu. Namun, awalnya Ervita hanya mengira bahwa itu bentuk perhatian seorang Kakak kepada adiknya, mengingat selisih usia keduanya lima tahun.


Pandu pun tersenyum di sana, "Syukurlah, jika kamu bisa merasakannya. Waktu itu, aku berpikir perasaanku tidak menuntut balas. Namun, emosiku memuncak ketika pernikahan Mei dan kamu direndahkan seperti itu. Itu memicuku untuk berani berbicara bagaimana perasaanku kepadamu yang sebenarnya," balas Pandu.


Ervita menganggukkan kepalanya, "Iya ... enggak apa-apa. Semoga kita bisa rukun seperti ini ya Mas," balas Ervita.


"Iya Nda ... semoga. Aku sekarang merasa lega dan tenang banget bisa memiliki kamu dan Indi. I Love U, Nda," ucap Pandu.


Pria itu tersenyum dan lantas menundukkan wajahnya, dengan begitu lembut Pandu melabuhkan bibirnya di atas bibir Ervita, mengecupnya untuk beberapa saat lamanya. Ada sapuan hangat dari nafas keduanya, ada dua pasang mata yang saling terpejam, di saksikan langit malam dan juga bintang yang tak sepenuhnya tampak.


Hanya sesaat bibir itu berlabuh, Pandu lantas mengikis jarak wajahnya. Pria itu tersenyum dan mengecup kening Ervita di sana.


"Perasaanku kepadamu sangat indah, Nda ... bukan sekadar bercinta saja denganmu, tetapi berbicara bersama, memeluk kamu, dan mencium kamu, itu semua adalah caraku mencintai kamu, mengungkapkan perasaan di hatiku," ucap Pandu kemudian.


"Iya Mas Pandu ... aku tahu," balasnya kemudian.


"Kamu sudah cinta sama aku? Dulu kan kamu bilang masih perlu waktu," tanya Pandu kemudian.


"Iya, aku cinta kamu ... dan akan terus cinta sama kamu," balas Ervita dengan menyandarkan kepalanya di lengan Pandu. Wanita itu memejamkan matanya, meresapi pengakuan cinta dan perasaannya untuk suaminya itu.


Jika sebagian orang menganggap cinta tidak perlu untuk diucapkan, tetapi Ervita kali ini berani mengungkapkan bahwa dia sudah cinta dengan suaminya dan akan selalu mencintai suaminya itu. Satu pengakuan bahwa cinta layaknya sebuah benih yang harus selalu disirami dan juga diberi pupuk, hingga benih itu akan tumbuh perlahan, mengeluarkan batang, daun, dan akhirnya berbunga.


"Makasih Dinda ... Love U So Much," balas Pandu.

__ADS_1


Malam kian berjalan, tetapi keduanya seolah masih menikmati indahnya duduk bersama di Pendopo dengan menikmati gemerisik angin malam, gemercik air mancur yang ada di sisi rumahnya, dan juga kedua telapak tangan yang saling menggenggam.


__ADS_2