Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Memberi Penjelasan


__ADS_3

Pandu dan Ervita benar-benar menikmati waktu untuk jalan-jalan sore di Taman Hutan Kota Keputih itu, dan juga beberapa kali keduanya berswafoto bersama. Bahkan Pandu pun membisikkan kata-kata yang absurd di telinga Ervita, membuat keduanya sama-sama terkekeh geli. Namun, atensi mereka sepenuhnya teralihkan ketika ada seseorang yang memanggil nama Pandu.


“Ndu, Pandu …,” suara seorang pria yang memanggil nama Pandu di sana.


Perlahan, kepala Pandu bergerak menoleh ke sisi kiri dan kanan, mencari sumber suara. Hingga pria yang memanggilnya itu terus berjalan ke arahnya dan tersenyum menatap Pandu.


“Pandu … masih ingat sama aku?” tanya pria itu.


Senyuman di wajah Pandu perlahan sirna, dan kemudian menatap pria itu dengan tatapannya yang dingin. Pandu masih diam, sementara Ervita yang berdiri di samping Pandu pun tampak memperhatikan ekspresi suaminya itu.


“Masak enggak inget sama temen sendiri sih … aku Roni,” balasnya.


Bukannya tidak ingat, hanya saja ada rasa enggan dalam diri Pandu ketiak bertemu dengan Roni. Sebab, ketika bertemu dengan Roni, Pandu akan terkoneksi pada peristiwa pengkhianatan di Gunung Andong beberapa waktu yang lalu. Ketika Roni dan Lina bercinta di dalam tenda.


Pun Ervita yang sudah tahu cerita Roni dan Lina yang pernah diceritakan oleh Pandu dulu hanya bisa memandangi suaminya dan juga menebak apa yang akan terjadi setelahnya.


"Sama siapa Ndu? Setelah sekian tahun akhirnya bisa ketemu dan aku seneng, kamu bisa move on. Aku kira selamanya kamu tidak akan bisa move on dari Lina," ucap Roni lagi.


Ketika Roni mengatakan hal demikian, Ervita menerka sebesar apa cinta yang Pandu miliki dulu untuk Lina sampai temannya mengira bahwa dia tidak akan bisa move on. Waktu lima tahun yang dijalani untuk sendiri juga begitu lama. Padahal, Pandu adalah pria tampan, baik, dan juga kaya raya, tidak sukar untuknya mendapatkan pengganti Lina. Namun, faktanya Pandu butuh waktu begitu lama.


"Hmm, kamu di Surabaya sekarang?" tanya Pandu pada akhirnya.


"Sudah lama ... aku kerja di Surabaya kok. Bagian marketing perhotelan. Aneh yah, dulu kuliahnya apa, sekarang kerjanya apa," balas Roni.

__ADS_1


Kemudian Roni melihat kepada kedua tangan, satu milik Pandu dan satu milik Ervita yang saling bertaut satu sama lain. "Siapa Ndu? Kenalin dong," balas Roni.


"Istriku," ucap Pandu dengan singkat.


Melihat Ervita di sana, Roni pun menganggukkan kepalanya, "Kenalin, Mbak ... aku Roni, teman kuliahnya Pandu," ucapnya.


"Ervi, istrinya Mas Pandu," balas Ervi dengan seformalnya saja.


"Pandu, bisa kita berbicara empat mata?" tanya Roni setelahnya.


"Bicara di sini saja," balas Pandu dengan wajahnya yang datar.


Roni tampak mengernyitkan keningnya. Untuk membicarakan masa lalu yang terkait dengan Pandu dan sekarang ada Ervita yang adalah istri Pandu membuat Roni merasa sungkan. Namun, Pandu pun adalah seseorang yang teguh pada pendiriannya. Tidak akan mungkin dia mau berbicara di tempat yang lain.


"Duduk dulu aja yuk," ajak Roni pada akhirnya.


"Aku pergi saja Mas," bisik Ervita dengan lirih.


"Tidak usah, di sini saja. Nanti Dinda hilang loh," balas Pandu.


Roni berdehem di sana dan kemudian kembali ingin memberikan penjelasan kepada Pandu.


"Pandu ... boleh aku bicara sebentar," ucap Roni.

__ADS_1


"Boleh, bicara saja ... santai saja," balas Pandu.


Roni menghela nafasnya sejenak dan kemudian kembali bersuara, "Begini, Ndu ... aku minta maaf untuk apa yang terjadi waktu kita kemah bersama di Gunung Andong dulu. Semua terjadi karena kami berdua khilaf. Waktu itu, sebenarnya Lina itu menunggu kamu, dia ingin tidur bersama dengan kamu di dalam tendanya. Namun, kamu tidak keluar-keluar. Waktu aku menyalakan kembali api unggun, Lina menangis di depan tendanya, aku kemudian mendatanginya. Mencoba menenangkan dia, dan akhirnya terjadi kekhilafan itu di dalam tenda. Aku akui, aku yang pertama kali mendapatkan keperawanan Lina. Namun, usai itu kami menyesal karena sudah mengkhianati dan menyakitimu. Beberapa kali Lina ingin bertemu kamu, tapi kamu menutup akses. Maafkan aku dulu, Pandu," jelas Roni panjang dan lebar.


Mungkin di Gunung Andong kala itu, ditambah dengan udara gunung yang dingin, Roni dan Lina sama-sama khilaf. Roni bahkan dengan gamblang mengakui bahwa dia yang pertama kali untuk Lina.


"Lina bukan sepenuhnya yang salah di sini, Ndu ... Lina masih cinta sama kamu. Dia usai itu juga berubah dan juga ingin kembali kepadamu," ucap Roni.


Ervita yang turut mendengarkan ucapan Roni berusaha menyibukkan dirinya dengan handphone di tangannya. Namun, di dalam hatinya ada sekelumit ketakutan jika Pandu memberi celah kembali untuk Lina.


"Lina siap melakukan apa saja asal bisa kembali sama kamu," ucap Roni.


Pandu pun tersenyum tipis di sana, "Sayangnya aku tidak berniat sama sekali. Aku sudah menemukan cinta sejatiku, dan dia adalah istriku," tegas Pandu.


"Aku sudah tahu, Ndu ... teman-teman juga memberitahu kalau kamu sudah menikah. Setidaknya maafkan Lina," balas Roni.


"Kalau memaafkan aku memaafkan. Tuhan aja pemaaf, masak umat-Nya akan selamanya mendendam, tapi untuk memulai apa pun itu aku tidak mau. Aku sudah menikah, aku akan menghormati pernikahanku," balas Pandu.


Terlihat begitu mulianya Pandu memandang sebuah pernikahan yang harus dihormati. Ikatan yang akan dia jalani bersama Ervita. Menghormati pernikahan berarti dia juga menghormati pasangannya.


"Maafkan aku juga, Ndu," ucap Roni.


"Hmm, iya ... sudah tidak ada kan?" tanya Pandu kemudian.

__ADS_1


"Satu lagi, Ndu ... kenapa kamu tidak mau menyentuh Lina saat itu? Kalian sudah pacaran satu setengah tahun, Lina bilang sekali pun kamu tidak pernah menyentuhnya. Bahkan untuk ciuman saja, Lina meminta menciummu dan tidak kamu beri. Kamu masih normal kan Ndu? Maaf, Lina kan cantik. Masak kamu tidak menyentuhnya sama sekali," balas Roni.


Mungkin karena tidak pernah menyentuh pacarnya, Pandu pun dipertanyakan. Padahal Pandu hanya ingin membentengi dirinya saja, menjaga komitmennya bahwa dia hanya akan menyentuh wanita yang halal baginya. Itu pun dia tunjukkan mana kala perlahan-lahan mendekati Ervita, dia tidak pernah menyentuh Ervita. Setelah resmi menikah, tiada hari terlewati tanpa menyentuh istrinya itu. Ada yang kurang jika tidak memeluk dan mencium istrinya itu.


__ADS_2