Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Keras Kepalanya Firhan


__ADS_3

Sementara itu di Solo, agaknya Bu Yeni masih tidak percaya jika Firhan mengalami Disfungsi e-reksi. Sebab, mengingat di masa lalu, Firhan bisa menghamili pacarnya dulu. Tidak mudah untuk menerima kenyataan bahwa anaknya mengidap sakit seperti itu.


Hingga akhirnya, selang beberapa hari ketika Firhan dan Wati bermain ke rumah. Di sana, Bu Yeni kemudian bertanya kepada Firhan secara langsung. Bu Yeni menanyai Firhan dan ada Wati di sana. Sehingga tidak sembunyi-sembunyi, karena Bu Wati butuh penjelasan juga.


"Firhan, Ibu mau berbicara," ucapnya.


"Ada apa, Bu?"


Firhan merespons dan kemudian pria itu mengambil tempat duduk di kursi sofa yang ada di ruang tamu. Duduk tepat di hadapan ibunya, hanya dipisahkan oleh meja saja. Wati pun ikut duduk di sisi Firhan.


"Han, ucapan Ibu ini jangan kamu ambil hati. Apa benar, kamu memiliki masalah reproduksi?" tanya Bu Yeni kemudian.


Di sana Firhan tampak bingung. Namun, sekilas dia melirik ke Wati. Dia sangat yakin bahwa Wati lah yang memberitahu Ibunya. Padahal, sebelumnya Firhan sudah mewanti-wanti Wati untuk tidak memberitahukan kondisi dirinya. Menurut Firhan, ketidakmampuannya ini adalah aib, dan tidak perlu diceritakan kepada siapa pun.


"Kamu pasti yang bilang ke Ibu kan?"


Tidak menunggu lama, Firhan segera menuduh Wati. Sebab, yang tahu bagaimana kondisinya yang sebenarnya hanya Wati. Sebab, pemeriksaan kala itu juga dilakukan hanya bersama dengan Wati saja.

__ADS_1


"Tidak ada salahnya seorang menantu berkata jujur kepada Ibunya sendiri, Han. Daripada Ibu mendengar dari orang lain yang belum jelas kebenarannya. Kamu jangan memarahi Wati," balas Bu Yeni.


"Ini aib keluarga, Bu. Tidak perlu diceritakan," balas Firhan.


Selang beberapa tahun, dan Firhan masih saja menjadi orang yang keras kepala. Merasa aib adalah untuk ditutupi dan tidak dicari bagaimana jalan keluarnya. Padahal jika mau terbuka, semua bisa dicari solusinya. Belajar dari masa lalu, seharusnya Firhan bisa lebih terbuka dan juga tidak menyalahkan seseorang.


"Tidak aib, Han ... kita bisa cari solusinya bersama-sama," balas Bu Yeni.


"Solusi apa, Bu? Tidak bisa sembuh," jawab Firhan yang sudah merasa begitu pesimis.


Bu Yeni menghela nafas panjang dan menatap anaknya itu. "Dunia medis sudah begitu maju dan berkembang, Han. Bisa diobati. Mau pengobatan medis atau alternatif pun bisa," balas Bu Yeni.


"Kenapa, Han? Kamu tidak ingin berusaha hingga bisa memiliki anak?" tanya Bu Yeni.


Bagi Bu Yeni terlalu mudah untuk menyerah. Padahal Firhan masih muda. Masih bisa mengusahakan untuk sembuh. Entah itu dengan pengobatan alternatif atau operasi medis. Namun, Firhan sudah menyerah terlebih dahulu.


"Wati ingin memiliki anak, Mas," balas Wati.

__ADS_1


Jika Firhan belum memberikan jawaban, sementara Wati sudah memberikan jawaban bahwa dia ingin memiliki anak. Sebagai seorang wanita, Wati ingin memiliki seorang anak. Di mana dia menyalurkan naluri keibuannya, mengasihi, menyayangi, dan mengasuh buah hatinya sendiri. Selain itu, Wati mengatakan demikian karena Wati merasa bahwa dia sehat jasmani dan reproduksinya pun sehat, sehingga dia ingin memiliki anak.


Lagipula tujuan orang menikah salah satunya adalah ingin memiliki keturunan. Untuk itu, Wati sekarang berkata jujur bahwa dia ingin memiliki anak. Seorang anak yang akan bisa melengkapi kehidupan rumah tangganya.


"Rumah tangga bisa bahagia, tanpa anak," balas Firhan.


"Gak mau, Mas. Aku mau anak. Darah dagingku sendiri," balas Wati. Sekadar menyampaikan apa yang dia mau saja, air mata Wati sudah berlinangan. Dia sangat menginginkan anak. Akan tetapi, suaminya seolah tidak begitu menginginkan anak.


"Yang dikatakan Wati benar, Han ... setidaknya kalian memiliki satu orang anak saja," balas Bu Yeni.


"Kalau nyatanya Firhan tidak bisa, bagaimana lagi Bu?"


"Usaha untuk sembuh dulu, Han," balas Bu Yeni.


Yang Bu Yeni mau adalah Firhan tidak menyerah begitu saja. Toh, masih ada peluang untuk sembuh. Itu pun jika Firhan memiliki semangat dan mau berusaha.


"Toh, Firhan juga sudah memiliki a ...."

__ADS_1


Pria itu nyaris saja membuka masa lalunya sendiri di hadapan Wati. Hingga akhirnya, Firhan menutup mulutnya sendiri dan tidak melanjutkannya. Di sana, Bu Yeni menatap Firhan dengan sorot mata penuh tanya. Pun, dengan Wati yang menangis terisak.


Seketika Wati merasa bahwa ada sesuatu yang disembunyikan Firhan sekarang. Kata apa yang dilanjutkan Firhan sekarang sehingga ucapan suaminya itu terhenti begitu saja. Wati kian bertanya-tanya dalam hatinya, apa yang sebenarnya disembunyikan suaminya darinya.


__ADS_2