
Jika ada sosok yang datang dari masa lalu, dan memberikan kenangan pahit untuk Ervita salah satunya adalah Bapaknya Firhan yang bernama Bapak Supri. Kala itu, Pak Supri juga gigih tidak mau jika Firhan menikahi Ervita. Katanya menikah muda bisa menghancurkan cita-cita Firhan menjadi seorang Auditor.
Bahkan dulu, Pak Supri juga yang menilai Ervita lah yang bersalah karena tidak bisa menjaga dirinya. Hingga mahkotanya hilang begitu saja. Sejak itu, hubungan keluarga Ervita dan Firhan selalu berseteru. Sampai akhirnya, Pak. Supri mengalami penyumbatan iskemik dan terkena Stroke ringan karena dulu Firhan pernah gagal menikah dengan pacarnya.
Sejak saat itu, agaknya Ervita tidak pernah lagi bertemu Bapaknya Firhan itu. Kali terakhir ketika mengantarkan Bu Heny ke Rumah Sakit.
Sekarang bisa dibilang baru pertama Ervita melihat Pak Supri setelah sekian tahun lamanya. Ervita berdiri dan hendak memberikan salam kepada Pak Supri. Namun, agaknya mungkin karena menua atau gejala stroke yang diidapnya, Pak Supri menjadi lupa dengan sosok Ervita.
"Pak," sapa Ervita.
"Ini ... siapa?" tanya Pak Supri.
"Ervita, Pak. Anaknya Pak Agus," jawab Ervita.
Lantas Pak Supri mengamati Ervita. Berusaha untuk mengingat-ingat. Akan tetapi, Pak Supri perlahan mengingat bahwa ada satu nama Ervita yang dia ingat. Namun, baginya nama Ervita itu hanya memberikan kepahitan saja. Hingga akhirnya, Pak Supri menggelengkan kepalanya perlahan.
"Ervita yang itu kan?" tanyanya.
__ADS_1
"Kalau tidak ingat, tidak apa-apa, Pak," sahut Bu Hesti.
Hanya saja, Bu Hesti tidak ingin jika suaminya itu bisa mempermalukan Ervita lagi sama seperti dulu. Bagi Bu Hesti semua adalah masa lalu. Toh, sekarang baik Firhan dan Ervita sudah sama-sama memiliki keluarga sendiri. Masa lalu setidaknya biarlah menjadi masa lalu.
"Nama itu menggangguku," ucap Pak Supri kemudian.
Hingga di batas Pandu memilih untuk mengajak Ervita dan anak-anaknya pulang. Pandu hanya menjaga karena Indi sangat kritis, dia bisa mendengarkan yang tidak-tidak.
"Baiklah, Firhan. Sekali selamat yah. Kami pamit pulang dulu," pamit Pandu.
Akhirnya, Pandu dan keluarga berpamitan. Dia menggendong Indi dan Irene bersamaan karena keduanya minta digendong oleh Yayahnya. Akhirnya, Pandu memasukkan Indi dan Irene ke dalam mobil terlebih dahulu. Sembari menghidupkan mobilnya.
Namun, Pak Supri tampak menahan Ervita. Lantas, pria yang rambutnya sudah beruban itu berkata lagi kepada Ervita.
"Oh, kamu Ervita yang hamil di luar nikah itu kan? Kenapa ke sini. Jangan pernah menginjakkan kaki di rumahku," katanya dengan menatap tajam kepada Ervita.
Deg!
__ADS_1
Jantung Ervita seketika berdebar-debar. Walau beberapa tahun, lebih dari lima tahun sudah berlalu. Namun, letak kesalahan, yang menyangga aib tetap adalah dirinya. Pandu mendekat dia menggandeng tangan Ervita.
"Sudah, yuk ... tidak usah didengarkan," bisik Pandu.
Ervita tersenyum kepada suaminya dan hendak berjalan ke arah mobilnya. Namun, langkah kakinya terhenti ketika Pak Supri kembali berbicara.
"Diingat-ingat yah, jangan pernah ke sini lagi. Apalagi dengan anakmu yang haram."
Buliran bening di sudut mata Ervita tak bisa ditahan lagi. Ya, ada air mata yang berlinang dengan sendirinya. Ini yang selalu dia takutkan, takut jika orang lain akan mengatai Indi yang bukan-bukan.
Pandu yang menggandeng tangan Ervita, berbisik kepada istrinya.
"Sudah, tidak perlu didengarkan. Kita pulang," ajak Pandu.
Ya, menurut Pandu tidak perlu lagi bagi Ervita mendengarkan hal seperti itu. Keputusan Pandu memasukkan Indi dan Irene ke mobil juga adalah keputusan yang tepat. Supaya anak-anak tidak mendengar yang tidak-tidak.
Maksud hati datang untuk bersilaturahmi, tapi masih ada saja orang yanh menghakimi Ervita. Menumpahkan semua salah kepadanya, padahal kesalahan itu terjadi karena dua belah pihak, tapi Ervita dan Indi menjadi dua orang yang paling tidak bisa dimaafkan.
__ADS_1