
Setelah dua hari berlalu, kali ini Pandu pulang kerja dengan memberitahukan kabar kepada Ervita. Sebenarnya, Pandu juga kurang yakin untuk mengambil pekerjaan ini. Akan tetapi, nilai kesepakatan yang akan dia dapatkan termasuk besar, selain itu desain interior miliknya juga berkesempatan untuk semakin merambah ke luar kota.
"Dinda, boleh aku bicara sama kamu sebentar?" tanya Pandu.
Ervita yang tengah memangku Indi dan membacakan buku pun seketika atensinya teralihkan kepada suaminya yang kali ini terlihat serius dan hendak bicara. Hingga akhirnya, Ervita pun merespons dengan menganggukkan kepalanya.
"Ya, silakan Mas ... ada apa?" tanyanya.
"Minggu depan, aku ada proyek di Surabaya itu, Nda. Bagaimana, kalau aku ke Surabaya untuk seminggu menyelesaikan interior desain sebuah kantor, kamu keberatan enggak?" tanyanya.
Ervita terdiam. Namun, dia juga menimbang-nimbang. Waktu seminggu itu termasuk lama. Terlebih sekarang ada baby, sehingga urusan rumah tangga menjadi lebih hectic.
"Kok lama banget sih Mas?" tanya Ervita.
"Iya, karena sekalian nanti aku dikenalkan sama perusahaan konstruksi gitu, Nda. Kalau mereka mau kerja sama, bagian interiornya bisa dariku. Sebenarnya sih sepuluh hari, tapi aku menolaknya," balas Pandu.
Kesepakatan pertama, durasi waktu yang diminta adalah sepuluh hari. Akan tetapi, Pandu pun sadar bahwa sepuluh hari terlalu lama. Seminggu saja, sudah begitu lama untuknya. Selain itu, Pandu juga tahu bahwa istrinya tetap membutuhkan dirinya untuk membantunya mengasuh Indi dan Irene.
"Aku sih sebenarnya, gak apa-apa, Mas. Cuma ... kok lama banget yah," balas Ervita.
Saking sedihnya, mata Ervita saja sudah berkaca-kaca. Sebenarnya, di dalam hatinya sendiri, Ervita merasa juga tidak ingin ditinggalkan suaminya ke Surabaya. Namun, jika untuk pekerjaan, Ervita pun tidak bisa menolak.
"Nilai proyeknya lumayan, Nda. Selain itu kalau bisa mempublikasikan interior kita dan mendapat mitra sih itu lebih baik untuk ke depannya. Apalagi, ditaksirkan akan ada kelesuan ekonomi. Jadi, lebih baik memang kita berusaha mencari mitra sebanyak mungkin," balas Pandu.
Mendengar penjelasan suaminya, Ervita pun berusaha untuk memahaminya. Memang benar, dunia mungkin saja akan mengalami kelesuan ekonomi. Jumlah mata pencaharian pun kian terbatas, sementara jumlah manusia kian tak terbatas. Selain itu, beberapa pakar ekonomi juga mengatakan kemungkinan akan ada resesi. Sehingga, pelaku bisnis pun mulai memikirkan berbagai rencana untuk bisa bertahan.
__ADS_1
"Nda, menangis?" tanya Indi sembari mengamati Ervita.
Sebenarnya, Ervita belum menangis. Matanya hanya berkaca-kaca saja. Itu pun juga karena Ervita sebisa mungkin menahan supaya air matanya tidak jatuh.
"Enggak kok, Mbak Didi," balasnya.
Mendengar jawaban dari Bundanya, rupanya Indi pun segera memeluk Bundanya. "Nda, jangan menangis yah," ucapnya.
Rupanya Indi begitu sensitif, dan perasaannya begitu lembut. Terbukti, dia bisa melihat mata Bundanya yang berkaca-kaca. Setelah itu, dia memberikan pelukan untuk Bundanya.
"Tidak menangis kok, Sayangnya Bunda," balas Ervita.
Mengurai pelukannya, Indi kemudian melihat ke Ayahnya yang duduk di samping Bundanya. "Yayah tidak marah sama Nda kan?" tanyanya.
"Enggak, Sayang ... Yayah enggak marah kok. Mana pernah Yayah marah sama Bunda," balas Pandu.
"Kok Nda nya sedih, Yayah?" tanya Indi.
"Iya, kalau Yayah mau bekerja dulu ke Surabaya boleh enggak Mbak Didi? Satu minggu," tanyanya sekarang kepada Indi.
Indi pun tampak mengamati wajah Ayahnya, kemudian dia kembali bertanya kepada Ayahnya. "Satu minggu itu lama, Yah? Yayah pulang ke rumah kita enggak?" tanyanya lagi.
"Ya, Yayah enggak pulang. Setelah satu minggu baru pulang. Boleh tidak, Yayah bekerja?" tanyanya.
Indi kemudian melihat Ayah dan Bundanya bergantian. Setelahnya, barulah Indi memberikan jawabannya. "Boleh aja, Yayah ..., tapi Yayah harus benar-benar bekerja dan segera kembali. Nanti ... Bunda, Didi, dan Iyene kangen loh sama Yayah," balas Indi.
__ADS_1
Mendengar jawaban yang diberikan Indi, Pandu segera memeluk Indi dengan sedikit menggendongnya. Dia merasa Indi yang masih kecil saja sudah mulai bisa diajak berdiskusi bersama. Selain itu, Indi juga bisa mengutarakan perasaannya. Sungguh, Pandu beruntung karena Indi pasti nanti bisa menjadi sahabatnya juga, temannya berdiskusi saat Indi kian dewasa nanti.
"Nda sedih?" tanya Indi lagi.
"Hmm, iya Mbak Didi ... Nda kangen Yayah," balas Ervita.
Di sini pun, Ervita jujur mengakui perasaannya. Perasaan manusia termasuk jenis emosi, dan Ervita sekaligus mengajar kepada anaknya untuk mengenali emosinya, mengenali perasaannya. Sama seperti dia sekarang yang mengaku kangen dengan Ayah Pandu.
"Sama, Nda ... Didi nanti juga kangen Yayah. Kan Didi sayang Yayah," balasnya.
Pandu kemudian mendekatkan wajahnya, dan mengecup pipi Indi. Cup!
"Hmm, Yayah sayang banget sama Didi. Jadi, boleh kalau Yayah bekerja? Gimana, Nda?" tanya Pandu lagi sekarang.
Ervita pun menganggukkan kepalanya. "Boleh, Yayah ... segera kembali yah. Seperti yang dikatakan Indi tadi, kami akan kangen Yayah," ucapnya.
Pandu kemudian menghela nafas panjang. "Yayah juga kangen kalian. Tiga bidadarinya Yayah. Kesayangan Yayah," balas Pandu.
"Kalau Adik menangis gimana, Yah?" tanya Indi kemudian.
"Ditenangin ya Mbak Didi ... Nda dibantu waktu Yayah bekerja yah," balasnya.
"Oke, Yayah. Nanti Didi pinjemin boneknya Didi," balasnya.
Pandu kemudian tersenyum dan memeluk putrinya itu. "Pinternya anaknya Yayah. Jangan cepet-cepet gede ya, Nak ... biar Yayah bisa gendong-gendong kamu seperti ini. Yayah sayang banget sama kamu."
__ADS_1
Apa yang baru saja dikatakan Pandu memang benar adanya, terkadang merasa bahwa ketika anak beranjak dewasa, dia akan memiliki dunianya sendiri. Tak jarang anak-anak lebih banyak beraktivitas dengan teman-teman, fokus sekolah, dan sebagainya. Pandu pun ingin putrinya tidak cepat-cepat besar supaya dia bisa terus mencurahkan kasih sayangnya untuk putrinya.
Happy Reading ^^