Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Mengulang Kenangan di Kaki Gunung Lawu


__ADS_3

Selang dua pekan berlalu, kali ini Firhan benar-benar mengajak Tiana untuk mengunjungi Tawang Mangu. Ya, tempat yang berada di kaki Gunung Lawu dengan udaranya yang dingin itu memang menjadi tujuan pariwisata untuk banyak orang. Tak jarang banyak muda-mudi yang berakhir pekan di Tawang Mangu. Ada air terjun yang terletak di tempat ini yang cukup terkenal, air terjun itu bernama Grojogan Sewu.


Akhir pekan itu, Firhan pun mengajak Tiana ke air terjun itu. Sejenak refreshing sebelum dua pekan lagi pernikahan mereka berdua akan dilangsungkan.


"Awas hati-hati licin," ucap Firhan yang memperingatkan kepada Tiana untuk bisa lebih berhati-hati.


"Iya, Ayang … makasih," sahut Tiana.


Menepaki anak tangga demi anak tangga, melingkari bukit, akhirnya mereka tiba di Grojogan Sewu. Air terjun yang indah, dengan airnya yang dingin. Terlihat Firhan dan Tiana menikmati keindahan air terjun itu.


"Suka deh lihat air terjun. Gemericik airnya bikin tenang," ucap Tiana dengan pandangan yang menatap ke air terjun setinggi 81 meter itu.


Firhan pun tersenyum menatap Tiana, pria itu kini tampak merangkul Tiana di sana, “Mau berenang enggak?” tanya Firhan kemudian.


“Enggak ah … dingin,” balasnya.


Firhan kemudian mencolek pinggang Tiana, “Dingin-dingin kan enak … habis itu beli Sate Kelinci,” balas Firhan.


Memang sudah menjadi kebiasaan bagi orang-orang yang berwisata di Grojogan Sewu akan membeli Sate Kelinci yang dijajakan oleh para penjual di sana. Menikmati sate dengan memandang eloknya Grojogan Sewu.

__ADS_1


“Bentar deh, Yang … masih mau di sini. Itu air terjunnya indah banget, aku selalu suka setiap kali kamu mengajakku ke sini. Yang, kamu percaya enggak, katanya kalau orang pacaran dan menyeberangi jembatan itu katanya hubungannya bisa putus yah? Enggak akan sampai di pernikahan,” ucap Tiana dengan tiba-tiba.


Firhan pun tertawa di sana, “Ya elah, Yang … hari sudah modern, sudah canggih. Kamu masih aja sih percaya sama Mitos kayak gini,” balasnya.


Wisata Air Terjun Grojogan Sewu memang memiliki sebuah mitos yang berkembang dari warga setempat, bahkan mitos sudah berkembang dari mulut ke mulut. Mitos ini berlaku untuk pasangan yang belum menikah, konon bagi sepasang kekasih yang belum menikah berani melintasi jembatan di depan air terjun, maka hubungannya akan putus, tidak sampai ke jenjang pernikahan.


Sementara bagi Firhan itu hanyalah sekadar mitos belaka. Zaman sudah berkembang, teknologi internet sudah begitu mendominasi sehingga tidak mungkin mitos seperti ini akan terjadi di zaman yang sudah begitu canggih.


“Kamu berani kita seberangi jembatan itu?” balas Firhan dengan menunjuk jembatan yang memang berada di depan air terjun itu.


Tampak Tiana menggelengkan kepalanya, “Enggak … aku tidak berani, bisa-bisa hubungan kita tidak sampai ke pernikahan,” balasnya.


Firhan kembali tertawa, “Yuk ah, sekali menyeberang saja,” balasnya.


“Hujannya makin deras, Yang,” ucap Firhan.


Tiana pun tampak menghela nafasnya, “Kenapa sih harus hujan … padahal seru banget, aku masih pengen lihat air terjunnya,” balas Tiana.


“Awannya gelap ini Yang … kalau di sini terus, kita bisa terjebak hujan. Cari penginapan saja yuk?” tanya Firhan kemudian.

__ADS_1


Setelah beberapa kali dibujuk, akhirnya mereka memutuskan untuk singgah di penginapan yang memang begitu banyak tersedia di pintu keluar air terjun. Di sana, Firhan mengambil handuk kecil dan menyerahkannya kepada Tiana.


“Keringkan wajah dan rambut kamu, Yang,” ucapnya.


Tiana pun menganggukkan kepalanya, dia segera menerima handuk kecil itu dan mengeringkan wajah dan rambutnya yang memang setengah basah. Di dalam kamar itu, Firhan pun mendekap tubuh Tiana, pria itu sudah memberikan gigitan, di telinga Tiana.


“Sayang … DP untuk malam pertama yuk?” ajaknya kini.


Dengan cepat Tiana pun menggelengkan kepalanya, “Ogah … sabar, tinggal dua pekan juga kok,” balas Tiana.


Dengan masih mempertahankan kewarasannya, Tiana mencoba untuk menolak dan juga mempertahankan mahkotanya. Waktu menuju pernikahan hanya tinggal dua pekan lagi. Tiana ingin, ketika mereka menikah nanti, malam pernikahan akan menjadi hadiah pertama yang indah baginya dan Firhan ketika akad sudah diikrarkan. Untuk itu, Tiana pun menolaknya.


“Sekali saja, Sayang … lagian kan sudah pasti bahwa aku akan menikahi kamu. Tidak akan mangkir,” balasnya.


Firhan pun tak kekurangan akal. Kali ini, dia mengatakan bahwa dia pasti akan menikahi Tiana. Lagipula hari menuju pernikahan juga semakin dekat, hanya dua pekan saja. Menikmati keindahan sebelum akad terucap, agaknya menjadi keinginan Firhan sekarang ini.


“Sabar Yang … kan kita udah janji, seburuk apa pun gaya berpacaran kita, tetapi kita tidak akan melakukan hal yang lebih. Malam pertama pernikahan akan kita nikmati bersama seusai akad,” balas Tiana.


Tidak dipungkiri bahwa pacaran mereka juga bukan pacaran yang sehat, ciuman bibir itu sudah biasa bagi keduanya, bahkan saling meraba satu sama lain juga sudah biasa, tetapi untuk yang satu itu memang Tiana selalu menolaknya. Dia selalu mengatakan kepada Firhan bahwa harus menikah dulu dan barulah dia akan memberikan semuanya, setelah akad terucap.

__ADS_1


Akan tetapi, Firhan seolah tidak menghiraukan ucapan Tiana. Pria itu berusaha melakukan apa yang sekehendak hatinya. Sudah berada di puncak hasrat yang membara, ditambah dengan hujan yang turun dengan begitu derasnya di luar sana, sehingga kian memacu Firhan untuk melakukan apa yang dia mau. Seolah mengulang, kenangan hampir tiga tahun lalu kala dia berhasil merenggut mahkota Ervita juga di kaki Gunung Lawu ini.


Akankah Tiana mengalami nasib yang sama seperti Ervita? Atau memang ada cerita lain di antara Firhan dan Tiana?


__ADS_2