Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Terbang ke Andromeda


__ADS_3

"Kamu suhu banget sih main Dakon," ucap Pandu dengan menyimpan kembali kuwuk ke dalam tempat penyimpanan.


"Kalau Dakon ya memang dulu waktu kecil selalu main, Mas ... ada satu yang aku gak bisa main Mas," balas Ervita.


Pandu lantas menatap kepada istrinya itu dengan pandangan yang menelisik, "Hmm, main apa Dinda?" tanyanya.


"Mainin hati dan perasaan kamu," balas Ervita.


Mendengar apa yang Ervita katakan, Pandu pun mengulum senyuman di wajahnya dan mencubit pucuk hidung Ervita di sana. Sangat gemas dengan istrinya itu, sampai rasanya ingin benar-benar mengajak istriny mengarungi angkasa dan menembus hingga ke Andromeda.


"Udah yuk ... keburu malam. Kita main Dakon dari sore dan sekarang sudah malam," balas Pandu.


Ervita pun akhirnya menyimpan Dakon yang baru saja dibelikan oleh suaminya itu. Lantas dia mengapit tangan suaminya untuk masuk ke dalam kamar. Pandu pun tersenyum karena istrinya itu begitu manis dan menggemaskan.


"Aku simpan ya Mas ... nanti kalau Indi sudah agak besar, mau aku ajarin untuk main dakonan. Makasih Mas ... kamu mengembalikan memori terindah di masa kecilku dengan menemaniku bermain dakon," balas Ervita.


"Sama-sama Nda ... everything for you ... kabeh kanggo sliramu (semua untuk dirimu - dalam bahasa Indonesia)," balas Pandu.


Ervita pun buru-buru untuk menyimpan dakon yang sudah dibelikan oleh suaminya itu, lantas Ervita kembali berjalan dan melihat Pandu yang duduk di sofa yang ada di sudut kamarnya. Pria itu menepuk pahanya dan menginstruksikan kepada Ervita untuk duduk di pangkuannya.


"Sini ... duduk sini, Nda," ucap Pandu.


"Serius?" tanya Ervita dengan bengong.


Pandu pun menganggukkan kepalanya, tangannya terulur dan dengan sedikit kekuatan dia menyentak tubuh Ervita, hingga Ervita duduk di pangkuannya. Layaknya wanita yang membonceng sepeda, begitulah posisi duduk Ervita sekarang ini, hanya satu paha saja yang dia duduki, dan tangan Ervita refleks berpegangan di bahu suaminya.


Kedua pasang bola mata saling beradu, Pandu yang sesekali menelisipkan untaian rambut Ervita ke belakang telinganya, menatap Ervita dengan pandangan yang menusuk hingga ke sanubarinya.


"Terbang ke Andromeda mau?" tanya Pandu kemudian kepada Ervita di sana.


"Apa yang bisa kita lihat di sana?" tanya Ervita.

__ADS_1


Pandu pun dengan lebih nakal membawa tangannya dan mencubit area dada Ervita, "Kita akan mengorbit di lubang hitam supermasif," ucapnya.


"Hhh, nakal," balas Ervita dengan memukul dada Pandu di sana.


"Kamu mau bukti Dinda?"


Kedua bola mata Ervita membesar, bukti apa lagi yang hendak suaminya itu kepadanya.


"Hmm, aa ...."


Terlambat sudah jawaban yang hendak diberikan Ervita. Sebab, di detik berikutnya Pandu sudah mengambil tindakan dengan cepat dan tepat. Satu ciuman yang dengan begitu cepatnya merenggut bibir Ervita dan menelan suara yang hendak memberikan jawaban ini.


Bibir Pandu bergerak dan terus melu-mat bibir Ervita. Pergerakan bibir yang syarat akan lu-matan basah itu bak bintang-bintang biru yang bersuhu panas di Galaksi Andromedi. Bintang-bintang layaknya matahari yang panas dan membara hingga mengekspos inti biru panasnya. Kedua mata yang perlahan kian meredup, decakan yang menyertai adalah satu fakta yang tidak bisa terelakkan. Dalam lu-matan, ada de-sahan tertahan yang membuat Ervita dan Pandu sama-sama saling mengulum, saling menghisap, saling melu-mat. Bibir bertemu dengan bibir, usapan bertemu dengan usapan, hingga gairah dalam tubuh mereka benar-benar bergejolak.


Di saat bersamaan tangan Pandu menyusup ke dalam kaos yang dikenakan Ervita, memberikan rabaan dan usapan di punggung menjalar ke atas hingga tengkuk Ervita, memberikan remasan di pangkal leher dan bahunya, dengan pergerakan yang begitu sensual.


Ciuman Pandu, usapan tangannya, dan juga decakan yang tidak bisa tertahan membuat keduanya menggapai Nebula dengan mata yang terpejam, tetapi sejuta bintang bisa mereka lihat dan rasakan. Sangat indah, hingga kilauan bintang-bintang seolah terpancar di matanya.


"Mas Pandu."


Nama sang Suami tersebut oleh bibir Ervita dalam bentuk pekikan tertaham. Tepat ketika dia merasakan Pandu mendadak bangun dari posisi duduknya. Pandu menggendong tubuh Ervita direspons dengan cengkeraman tangan Ervita di bahu suaminya.


Tempat yang Pandu tuju sekarang adalah ranjang mereka. Dengan hati-hati Pandu membaringkan Ervita di atas tempat tidur. Pria itu lantas menindih Ervita di sana dan berusaha untuk tidak menekan bagian perutnya.


Kembali Pandu mencumbu Ervita dengan nafas yang lebih memburu, disertai dengan tangan yang melepas pengait yang tersembunyi di balik punggung Ervita, menarik kaos yang dikenakan Ervita dan terlepas sepenuhnya. Pandu menahan nafas dan mengamati bulatan hitam supermasif yang sudah begitu menggoda baginya. Ciuman Pandu kian turun, dan dia memberikan kecupan yang hangat dan basah di garis leher Ervita, hingga wanita itu menengadahkan wajahnya, mempersilakan suaminya untuk menjatuhkan bibirnya yang hangat dan basah di sepanjang garus lehernya.


"Oh ... Mas Pandu ... Masss," de-sah tak tertahan keluar dari bibir Ervita manakala suaminya itu sudah menenggelamkan bulatan hitam supermasif miliknya ke dalam rongga mulutnya. Ada usapan yang basah di sana, ada hisapan yang begitu padu, ada gigitan yang membuat dada Ervita kian kembang kempis rasanya. Berkali-kali Ervita memekik lantaran begitu dahsyat setiap sentuhan yang Pandu berikan padanya. Sentuhan yang membuatnya hilang akal. Jika, benar ini adalah galaksi Andromeda, Ervita ingin tinggal di sana, menikmati cahaya biru memukau dan juga merasakan milyaran bintang yang menyelimuti mereka.


Pun Pandu yang tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, dia membuktikan ucapannya untuk mengajak Ervita terbang ke Andromeda. Nebula yang berwarna biru seakan sudah menutup matanya, hingga yang Pandu rasakan adalah ledakan hebat untuk melucuti satu demi satu pakaian keduanya, terbang bersama dalam kepolosan mutlak yang menyertai keduanya, menggapai galaksi yang letaknya begitu dekat dengan Bimasakti itu.


Penyelusuran Pandu kian turun, tindakan tepat yang dia jatuhkan dengan menyisiri lembah yang laksana kilau yang menyala hingga bibir dan lidahnya bergerak padu dan memberikan usapan, hingga tusukan yang membuat Ervita menggeliat dengan begitu sensual.

__ADS_1


Keduanya laksana dua insan yang menari-nari di Great Square of Pegasus. Sangat indah. Hingga Pandu tak membiarkan kenikmatan itu terlewatkan begitu saja.


Tubuh Ervita bergetar dalam godaan yang terus Pandu berikan atasnya. Hingga perlahan, tangan Pandu bergerak dan meraba bagian pinggang hingga mengusap paha bagian dalamnya perlahan. Kian turun hingga mencapai lututnya. Pandu menjilat lembab dan basah yang menyambut kedatangan pelepasan Ervita itu.


"Mas ... Kanda ... Mas!"


Suara Ervita pun terdengar begitu berat. Sensasi ini benar-benar memabukkan. Membuatnya linglung. Namun, suaminya masih menggodanya. Titik-titik sensitivitas seakan sudah diketahui Pandu dengan sangat baik, sampai Ervita benar-benar melayang sekarang.


Pandu kemudian mengambil posisi di antara kedua paha Ervita yang membuka, satu pergerakan yang mulus membawa pusaka Lingga milik Pandu tenggelam dalam kehangatan Cawan Surgawi Yoni. Menerobos masuk, merasakan rongga yang basah, hangat, dengan remasan serta cengkeraman yang begitu memabukkan.


"Oh!"


"Dinda ... Din ... da!"


Pandu bergerak, berpacu. Dalam gerakan seduktif keluar dan masuk, dia menggoda. Dalam tangan yang bergerak dan meremasanya perlahan, mengusap puncak bulatan hitam supermasif itu, dan membelai pahanya. Kenikmatan sang istri tercinta membuat Pandu memulai pergerakannya. Dia menarik pinggangnya, lantas membawanya Lingga kembali untuk keluar dan mendorong kuat-kuat di sana. Menerobos masuk.


"Oh, indah! Nikmat!"


Pandu menggeram, ini adalah sensasi yang luar biasa. Pandu yakin sekarang keduanya sudah menggapai Andromeda, kabut biru benar-benar menutup kedua matanya.


Gerakan Pandu yang lembut, keluar dan masuk ... hujaman, tusukan, hentakan berpadu menjadi satu. Mencipta irama yang membuat bibir keduanya sama-sama mende-sah. Dalam gelombang percintaan yang membuat tubuh keduanya sama-sama bergerak sensial. Desakan yang kian terlecut begitu saja, tapi Pandu ingin bahwa dia harus pelan-pelan untuk calon buah hatinya.


"Dinda ... Dinda ... Dinda!"


Pandu berusaha untuk tetap bernafas dengan merengkuh tubuh Ervita semakin erat. Kian dalam lesakan Pandu, Ervita pun menggigit pundak suaminya itu. Gigitan yang menimbulkan nyeri tetapi nikmat yang juga bersamaan.


Ketika Pandu terus menghujam pada titik sensitif Ervita. Ervita merasakan hantaman yang tak kasat mata. Dia hancur, terhempas di lautan bintang. Kenikmatan pun membungkus Lingga pusaka milik Pandu. Dalam cengkeraman yang erat hingga Pandu menggertakkan rahangnya. Geraman Pandu terdengar. Dia benar-benar terpuaskan sekarang.


Di ambang batas pertahannya, Pandu meledak. Dibarengi dengan Ervita yang merasakan tubuhnya bergetar hebat. Keduanya sama-sama pecah, keduanya laksana komet yang melaju dalam kecepatan cahaya. Meledak dan pecah.


Jika ledakan dahsyat antara Galaksi Bimasakti dan Andromeda diperkirakan 4,5 milyar tahun lagi. Sekarang, Pandu dan Ervita sama-sama meledak. Dalam mata yang terpejam keduanya bisa melihat Alpherattz bintang paling terang di Andromeda, Almach bintang yang berada di ujung paling selatan, hingga Sadiradra bintang dengan magnitudo tiga di galaksi Andromeda. Semua bintang yang berkilauan berselaput sinar biru Nebula.

__ADS_1


__ADS_2